Penerapan Mata Uang Digital di Tengah Tuntutan Zaman

Netizen Twitter ramai-ramai mencuitkan rencana Bank Indonesia (BI) yang akan meluncurkan mata uang digital (Central Bank Digital Currency/CBDC) pada Jumat (26/2). Cuitan netizen tersebut tak terlepas dari tingginya pemberitaan media terkait topik yang sama pada satu hari sebelumnya, yakni Kamis (25/2). 

Riset Indonesia Indicator (I2) pada periode 25 Februari hingga 3 Maret 2021 mencatat ada 85 berita media online dari 20 portal media online yang membahas wacana mata uang digital yang diluncurkan oleh Bank Sentral. Pada tanggal 25 Februari, media mulai menyoroti wacana tersebut, dikaitkan dengan pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menyatakan pihaknya akan meluncurkan CBDC. Menurut Perry, CBDC representasi digital dari uang fisik yang diterbitkan bank sentral. 

Ada dua jenis uang digital menurut Official Monetary and Financial Institutions Forum (PDF). Pertama, jenis retail, yakni uang digital diterbitkan seperti uang tunai dalam bentuk elektronik untuk kebutuhan transaksi masyarakat dan bisnis pada umumnya. Kedua, jenis wholesale dengan penggunaan terbatas oleh institusi tertentu dalam pasar antarbank. Indonesia tercatat masih dalam tahap riset dan pengembangan model retail dan wholesale ini.

Sejumlah negara di dunia telah menerapkan uang digital. Kepulauan Bahamas di Amerika Tengah, menggunakan uang digital dengan model retail atau pernah dikenal dengan nama proyek “Sand Dollar.“ Sementara Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan kebanyakan negara di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menerapkan wholesale.

Mata uang digital diperlukan seiring perkembangan aktivitas masyarakat yang semakin mengarah ke digital, baik berbelanja, menabung atau investasi. Hal itu terlihat dari data S&P Global yang mencatat transaksi uang elektronik di Indonesia mampu tumbuh hampir 170% dari 2016 ke 2019 mengalahkan Thailand yang hanya tumbuh di kisaran 50%.

Uang digital juga dibutuhkan sebagai salah satu upaya mengantisipasi pesatnya pertumbuhan alat pembayaran dompet digital dan kehadiran uang kripto yang semakin diminati. 

Mengutip majalah The Economist dalam artikel pada 16 Februari 2021, CBDC memiliki sejumlah potensi keuntungan. Yakni, CBDC dapat memperkokoh posisi bank sentral di tengah derasnya tren masyarakat beralih ke alat pembayaran digital milik swasta. Selain itu, uang digital juga lebih efisien karena tidak perlu dicetak secara fisik dan didistribusikan, terlebih ke wilayah terpencil. Tak hanya itu, uang digital mudah dilacak sehingga semakin sulit digunakan untuk kejahatan.

Pemberitaan terkait CBDC ini banyak diliput oleh media online berbasis bisnis dan ekonomi, seperti CNBC Indonesia (19 berita), Kontan (6 berita), Bisnis Indonesia (5 berita), dan Investor Daily (4 berita). Media lainnya yang aktif memberitakan topik ini adalah Okezone (7 berita), Liputan 6 (5 berita), Sindo News (5 berita), Detik (5 berita), Tempo.co (5 berita), dan Antara (5 berita).

Netizen: Uang Digital Cocok untuk Indonesia

Sementara itu, terdapat 901 cuitan netizen di Twitter yang memperbincangkan mengenai rencana peluncuran mata uang digital dalam kurun waktu 25 Februari–3 Maret 2021.

I2 menangkap mayoritas netizen mencuitkan emosi trust (percaya) sebesar 43% dan emosi anticipation (antisipasi) sebanyak 39%. Hal ini menunjukkan respons positif netizen terhadap wacana yang dilontarkan Bank Indonesia ke publik. 

Emosi trust menilai mata uang digital ini cocok untuk negara berkembang seperti Indonesia. Dengan CDBC, bantuan dari pemerintah seperti bantuan langsung tunai dapat lebih mudah dan cepat dibagikan ke penerima yang tidak memiliki rekening bank. 

Untuk emosi anticipation, netizen menilai mata uang digital dapat meningkatkan perputaran uang dan meningkatkan volume transaksi di masyarakat. Meski demikian, netizen melihat peluncuran mata uang digital perlu diantisipasi dari sisi tingkat keamanan serta kesiapan sistem infrastrukturnya.

Loading...
Loading...