Riuh Dukung-Tolak Kebijakan Soal Seragam Sekolah

Terbit 3 Februari 2021, Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Seragam Sekolah menuai polemik. Adu argumen antara pendukung versus pengkritik SKB pun terjadi di jagat maya. 

Panasnya perdebatan tentang kebijakan tersebut terekam dalam riset media Indonesia Indicator (I2) periode 3 hingga 12 Februari 2021. Pemerintah dan pihak yang mendukung SKB ini berpandangan bahwa keputusan ini merupakan wujud konkret komitmen membangun karakter toleransi dan menindak tegas praktik yang melanggar semangat kebangsaan di sektor pendidikan.

Sementara penentang SKB 3 Menteri menuntut agar kebijakan ini dievaluasi, seperti yang disuarakan sejumlah elite politik dan pemuka agama, baik lokal maupun nasional.

Indonesia Indicator mencatat ada enam poin penting isi SKB yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Dalam Negeri (Mendagri), dan Menteri Agama (Menag) ini. Pertama, SKB ini mengatur sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda).

Kedua, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara: a) Seragam dan atribut tanpa kekhususan agama dan; b) seragam atribut dengan kekhususan agama. Ketiga, pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama. 

Keempat, pemda dan kepala sekolah wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama paling lama 30 hari kerja sejak keputusan bersama ini ditetapkan. Lalu, poin kelima, jika terjadi pelanggaran terhadap keputusan bersama ini, maka sanksi akan diberikan kepada pihak yang melanggar. 

Keenam, peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan beragama Islam di Provinsi Aceh dikecualikan dari ketentuan SKB ini.

Dari enam poin tersebut, yang paling banyak memicu perdebatan adalah pemda maupun sekolah tidak boleh mewajibkan atau melarang murid mengenakan seragam beratribut agama.

Dinamika Ekspos Media Online

Pantauan I2 pada periode 3 hingga 12 Februari, ada 1.638 ekspos berita dari 465 media online yang memberitakan SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah. Pada 3 Februari dinamika ekspos SKB itu relatif tinggi sebanyak 357 berita. 

Jumlah berita terus menanjak naik dan mencapai puncaknya pada 4 Februari sebanyak 461 berita, dikaitkan dengan berbagai pihak yang mulai ramai memberikan respons dukungan hingga kritik atas kebijakan tersebut.

Setelah tanggal tersebut, pergerakan ekspos berita tentang SKB Seragam Sekolah mengalami penurunan drastis pada 5 Februari menjadi 210, dan terus menurun pada 6 Februari sebanyak 112 berita. Namun, jumlah berita SKB kembali naik tipis pada 7 Februari sebanyak 142 dan 154 berita pada 5 Februari. 

Setelahnya, kembali terjadi penurunan tajam pada 9 Februari sebanyak 52 berita, dan mencapai titik terendah pada 10 Februari, hanya 28 berita. Rupanya pemberitaan tentang SKB 3 Menteri belum sepenuhnya padam, terbukti pada 11 Februari masih ada 64 dan 58 berita pada 12 Februari.

Nadiem vs Anwar Abbas Tervokal

Gaduh SKB 3 Menteri ini tak lepas dari figur menteri hingga politisi yang mendukung maupun mengkritik SKB. Data top influencer I2 mencatat ada 10 figur yang paling banyak dikutip media. Enam di antaranya mendukung SKB, sisanya mengkritik.

Mendikbud Nadiem Makarim menjadi paling vokal di media online. Pernyataan mantan CEO GoJek itu banyak dikutip media soal penjelasan latar belakang dikeluarkannya aturan SKB Seragam Sekolah tersebut (2.129 pernyataan), disusul Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (620 pernyataan), Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti (534 pernyataan), Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin (383 pernyataan), Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (375 pernyataan), Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi (275 pernyataan).

Sementara figur tervokal yang mengkritik SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah adalah Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas (453 pernyataan), Anggota DPR F-PAN Guspardi Gaus (339 pernyataan), Wakil Ketua Komisi X DPR Fikri Faqih (173 pernyataan), dan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (169 pernyataan).

Republika Paling Aktif

Pada periode 3-12 Februari tersebut, terdapat 465 portal media online yang mengangkat isu SKB Seragam Sekolah. Indonesia Indicator mendata ada 10 besar media teratas yang memberitakan SKB Seragam Sekolah, didominasi media mainstream nasional.

Republika merupakan top media share paling aktif mengangkat isu tersebut sebanyak 52 berita. Disusul Tribun News 40, Medcom.id 39, Harian Aceh 28, Kompas 28, Sindo News 28, Jawa Pos 27, CNN Indonesia 24, MSN Indonesia 22, dan Kumparan 21 berita.

Tak hanya di media online, pro-kontra tentang SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah juga berlangsung sengit di media sosial, baik Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube. Pada periode tersebut, I2 mencatat total unggahan mencapai 98.721 dari 39.012 akun medsos.

Percakapan tentang SKB 3 Menteri ini mulai signifikan sejak 3 Februari sebanyak 3.271 unggahan. Ekspos percakapan tertinggi terjadi pada 4 Februari, 6.287 unggahan, dan turun menjadi 4.823 unggahan pada 5 Februari. 

Polemik SBK 3 Menteri di ruang media sosial anjlok pada titik terendah pada 10 Februari yakni 315 unggahan. Menariknya, pro-kontra SKB kembali naik dan memanas pada 11 Februari, yang dipantik oleh penolakan MUI Sumbar dan beberapa ormas Islam atas SKB 3 Menteri, sebanyak 4.549 unggahan. Namun ekspos kembali menurun pada 12 Februari sebanyak 1.778 unggahan. 

Bila dipersentasekan, perbandingan aktivitas percakapan netizen soal isu ini di setiap platform, adalah : Twitter 91,88%, 7.26%, Instagram 0,29%, dan YouTube 0,56%.

Berdasarkan peta lokasi, I2 memantau SKB 3 Menteri banyak diperbincangkan di sembilan wilayah, yakni DKI Jakarta, Aceh, Bali, Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sumatera Utara, dan Riau. Di Jakarta, topik dan pusat perdebatan yang dibicarakan terkait pengesahan SKB 3 Menteri. Sementara Aceh menjadi sorotan karena satu-satunya daerah yang tidak berlaku SKB 3 Menteri.

Sedangkan di Bali, netizen membahas situasi di wilayah tersebut, bahwa siswi beragama Islam tidak dipermasalahkan jika berjilbab ke sekolah, walaupun merupakan minoritas di sana.

Saling Sindir Pendukung vs Pengkritik

Pada periode 3 hingga 12 Februari itu, I2 juga memetakan reaksi dua kubu netizen, baik penentang dan pendukung SKB 3 Menteri di jagat Twitter. Total akun mencapai 9.998, total hashtag 441, dan total aktivitas 30.807. Hasil resume network dari peta Social Network Analysis (SNA), jejaring percakapan didominasi oleh kelompok kontra/mengkritik SKB 3 menteri (57,2%). Akun Twitter yang menonjol di antaranya adalah @cholilnafis @MCAops hingga @idtodayco dengan hashtag populer #MauKritikTapiTakutUUITE. 

Di sisi lain, kelompok pro atau pendukung SKB sebesar 42,8%, di antaranya akun @kemendagri @nadiemmakarim @Dennysiregar7 hingga @sahal_AS.

Dengan persentase hampir seimbang ini, kedua kelompok terpantau memakai narasi masing-masing dan terlibat saling sindir. Serangan masif yang dilontarkan pihak kontra menganggap SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah melanggar Undang-Undang Dasar dan mendorong pendidikan ke arah sekuler, serta mendiskreditkan agama Islam. Adapun narasi yang diangkat kelompok pro SKB 3 Menteri menganggap keputusan ini sudah tepat, sekolah negeri berlaku untuk siapa saja, tidak hanya untuk agama tertentu. 

Selain itu, keputusan ini berpotensi meningkatkan toleransi dan menumbuhkan kesadaran beragama melalui pemahaman bukan paksaan.

Loading...
Loading...