PPKM Kembali Ketat, Bagaimana Media dan Netizen Merespons?

Pemerintah kembali "menarik rem" menyusul melonjaknya kasus terkonfirmasi Covid-19, terutama varian Omicron, pada awal Februari 2022. Ini ditandai dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3.

Pengetatan kebijakan diarahkan ke sejumlah daerah yang kasus positifnya meningkat. Yakni, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek); Bandung Raya; Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); dan Bali.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan, kebijakan ini diambil dengan merujuk penilaian yang disesuaikan, salah satunya cakupan kapasitas rawat inap.

"Selain itu juga berdasarkan analisis perkembangan di seluruh negara sehingga menjadi penanganan pemerintah terhadap Omicron secara holistik," ujar Luhut, 7 Februari lalu.

Kebijakan tersebut diberlakukan selama sepekan, 8-14 Februari 2022. Keputusan tersebut lantas diperpanjang hingga 28 Februari mendatang karena kasus Covid-19 belum jua mereda. 

Langkah ini pun menjadi atensi media massa daring (online). Berdasarkan data Indonesia Indicator pada periode 1-16 Februari 2022, sebanyak 1.119 media mempublikasikan 8.226 berita tentang PPKM level 3.

Frekuensi pemberitaannya selalu ramai saat pengumuman dan sehari setelahnya. Berdasarkan data, pemberitaan memuncak terjadi pada empat waktu, yakni 7 Februari (1.100 berita), 8 Februari (1.354 berita), 15 Februari (1.223 berita), dan 16 Februari (878 berita).

Kompas.com menjadi media yang paling sering mengangkat berita tentang PPKM level 3 pada periode tersebut dengan 281 berita. Sementara, beberapa pejabat publik di pusat ataupun daerah menjadi sumber utama bagi media dalam menuliskan berita (top influencer) tentang kebijakan PPKM level 3. Menko Luhut berada di posisi teratas dengan 4.409 pernyataan. 

Keterangan Luhut paling banyak dikutip media karena dia adalah representasi pemerintah pusat yang rutin mengumumkan tentang kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19.

Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, berada di urutan kedua dengan 1.954 pernyataan. Berikutnya, Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Safrizal ZA (872 pernyataan); dan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi (826 pernyataan).

Pro-Kontra di Media Sosial

Langkah pemerintah memberlakukan PPKM level 3 juga disorot netizen. Ini terlihat dari tingginya percakapan di berbagai media sosial (medsos).

Berdasarkan pantauan I2 dalam periode sama, terdapat 79.180 kiriman (unggahan) dari 41.219 akun tentang PPKM level 3. Sebesar 66% di antaranya di Twitter, lalu Instagram 14%, Facebook 13%, TikTok 6%, dan 1% sisanya di YouTube.

Tren pergerakan percakapan netizen tentang PPKM level 3 berbeda dengan portal online. Di media sosial, netizen setiap harinya rutin membicarakan PPKM, sedikitnya 2.500-an percakapan per hari.

Namun, waktu puncak perbincangannya serupa dengan media online, terjadi pada 8 Februari atau hari pertama pelaksanaan PPKM level 3 dengan 12.348 percakapan. Pada 9-10 Februari, netizen masih intens membahasnya dengan total percakapan masing-masing 10.841 percakapan dan 8.070 percakapan.

Netizen se-Jawa dan Bali, terutama wilayah pelaksanaan PPKM level 3, merupakan yang paling banyak membahas isu ini. Perinciannya, Jawa Barat (1.248 percakapan), Jawa Timur (1.160 percakapan), DKI Jakarta (989 percakapan), dan Jawa Tengah (950 percakapan).

Sekalipun pemerintah memperketat aturannya, sebagian besar netizen mendukungnya. Jumlahnya mencapai lebih dari 60% dari total percakapan. Hal ini  ditandai dengan emosi anticipation (antisipasi) dan trust (percaya).

Emosi anticipation (39%) terpantau muncul dalam unggahan lembaga atau tokoh publik yang mengajak netizen kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) saat PPKM level 3. Sedangkan emosi trust (21%) muncul melalui akun yang membahas penerapan PPKM di sejumlah daerah.

Adapun yang kontra, seperti emosi disgust (jengah) sebesar 12%, muncul karena mempersoalkan penutupan tempat ibadah saat PPKM level 3 diterapkan. Adapun emosi netizen lain saat membicarakan kebijakan ini adalah surprise (terkejut) sebesar 10%, anger (marah) sebesar 8%, joy (senang) sebesar 5%, sadness (sedih) sebesar 3%, dan fear (takut) sebesar 2%.

Loading...
Loading...