Kebijakan PTM, Bagaimana Reaksi Media dan Netizen?

Sejumlah daerah akhirnya kembali memperkenankan pembelajaran tatap muka (PTM). Kebijakan itu diambil seiring menurunnya laju penularan COVID-19 di wilayahnya serta pelonggaran aktivitas di ruang publik oleh pemerintah pusat.

Pelaksanaan PTM pun sesuai dengan arahan pemerintah pusat kepada daerah yang wilayahnya masuk kategori Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1-3.

Salah satunya DKI Jakarta, yang merupakan daerah dengan kasus kumulatif tertinggi se-Indonesia. Pemerintah provinsi (pemprov) setempat mengizinkan PTM secara terbatas dilaksanakan di 610 sekolah dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Mengingat COVID-19 belum menjadi endemi, pemerintah tetap memberlakukan berbagai kriteria agar PTM terbatas dapat dilaksanakan selain kasus melandai, penyebaran SARS-CoV-2 di daerah terkendali, dan menerapkan prokes. Misalnya, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 dan persetujuan orang tua atau wali murid.

Upaya ini pun menjadi sorotan 1.978 media daring (online). Berdasarkan pantauan Indonesia Indicator (I2) rentang 28 Agustus-12 September, sebanyak 24.693 berita berisi tentang PTM dilaporkan berbagai media online.

Pemberitaan tentang PTM paling banyak dilaporkan Kompas.com (441 berita), selanjutnya Medcom.id (325 berita), Suara.com (314 berita), Republika.co.id (276 berita), Antara (271 berita), Sindonews.com (255 berita), Detik.com (240 berita), Inews.id (225 berita), MediaIndonesia.com (199 berita), dan Liputan6.com (184 berita).

Frekuensi pemberitaan tertinggi terjadi pada 30 Agustus dengan 2.929 berita yang diturunkan. Intensitasnya turun hingga tersisa 592 berita pada 12 September.

Terdapat beberapa isu yang berkelindan dalam pemberitaan tentang PTM terbatas. Contohnya, cakupan vaksinasi pelajar, menjadi tema yang paling banyak disoroti dengan 5.396 berita (24%). Media online umumnya memberitakan soal upaya pemerintah daerah (pemda) memvaksin siswa dan guru guna menyukseskan PTM.

Berikutnya tentang penerapan prokes dengan 5.017 berita (22%). Sekolah diharapkan dapat memastikan prokes dilakukan dengan tertib demi meminimalisasi risiko transmisi di lingkungannya.

Selanjutnya mengenai inspeksi mendadak (sidak) pelaksanaan PTM oleh beberapa kepala daerah sebanyak 4.542 berita (20%). Salah satu berita tentang isu ini adalah terkait langkah Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, yang mengecek ke sekolah dan menilai penerapan sistem sudah baik sehingga PTM dapat segera dilangsungkan.

Kemudian menyangkut syarat PTM dengan 3.306 berita (14%), evaluasi PTM 2.660 berita (12%), dan bantuan kuota internet 1.769 berita (8%). Jumlah pemberitaan enam isu tersebut mencapai 22.690 berita dari total 24.693 berita tentang PTM.

Meski PTM dilaksanakan di daerah, tetapi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menjadi figur yang paling diberitakan (top influencer) media online dengan 3.965 pernyataan. Pernyataannya yang dimuat umumnya soal penguatan dan urgensi vaksinasi serta pentingnya penerapan prokes dengan disiplin saat PTM.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi top influencer berikutnya dengan 3.855 pernyataan. Banyak media mengutipJokowi saat memberikan pengumuman tentang PTM yang akan dilaksanakan serentak per awal September. 

Nama kepala daerah baru berada di posisi ketiga yang ditempati Ganjar (2.162 pernyataan); disusul Mendikbudristek Nadiem Makarim (2.066 pernyataan); Wapres Ma'ruf Amin (1.650 pernyataan); Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa (1.587 pernyataan); Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (1.547 pernyataan); Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka (1.423 pernyataan); Gubernur Banten Wahidin Halim (1.128 pernyataan); serta Gubernur Jakarta Anies Baswedan (1.027 pernyataan). 

Penantian Netizen

Kebijakan PTM tak luput menjadi atensi netizen. Terdapat 83.069 percakapan netizen tentang isu ini di Twitter dalam periode sama, yang terbanyak terjadi pada 1 September dengan 14.058 percakapan dan banyak di antaranya mencuitkan soal pengalaman hari pertama PTM.

Respons netizen tentang kebijakan ini beragam. Namun, didominasi anticipation (antisipasi) sebesar 37% dari total percakapan. Emosi ini berisikan soal penantian atas PTM kembali dan dalam merespons unggahan akun pejabat negara ataupun pemda yang meminta persiapan dilakukan dengan mematuhi prokes.

Lalu trust (percaya) sebesar 15%. Emosi ini muncul dalam cuitan netizen yang mendorong percepatan vaksinasi lantaran memiliki peran penting dalam memastikan PTM berjalan aman.

Berikutnya joy atau senang (10%), mancuat dalam kicauan yang merasa senang dengan kebijakan PTM dan anger atau marah (9%) dalam cuitan yang merespons pembatalan PTM lantaran melanggar PTM. Kemudian surprise atau terkejut (9%), disgust atau jengah (9%), sadness atau sedih (6%), dan fear atau takut (5%).

Kalangan orang tua murid maupun pengamat terpantau aktif dalam menyambut kebijakan sekolah tatap muka terlihat dari rentang usia netizen 31-40 tahun yang cukup sering berkomentar. Diikuti kalangan pelajar berusia di bawah 18 tahun, yakni dengan proporsi 27,4%, yang antusias untuk kembali bersekolah.

Perbincangan tentang PTM ini didominasi netizen berusia 31-40 tahun (30,7%), yang kebanyakan orang tua maupun pengamat. Selanjutnya berusia di bawah 18 tahun (27,4%) atau kelompok pelajar, 22-30 tahun (28%), dan 41-55 tahun (5,6%).