Gegap Gempita IPO Bukalapak

Penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) perusahaan digital PT Bukalapak Tbk pada Jumat, 6 Agustus 2021, disambut antusias investor. 

Hal tersebut terlihat dari saham Bukalapak yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) saat penawaran awal atau bookbuilding, sehingga Bukalapak menambah porsi pooling allotment bagi investor ritel dari semula 2,5 persen menjadi 5 persen dari total pemesanan yang tersedia. IPO ini juga tercatat menarik minat investor terbanyak, yakni mencapai 96 ribu investor.

Perusahaan startup teknologi unicorn pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 21,9 triliun, sekaligus menjadi yang terbesar dalam sejarah bursa saham Indonesia. Beberapa saat setelah IPO, saham Bukalapak juga langsung melesat 25 persen dari harga perdana Rp 850 per saham.

Gegap gempita IPO Bukalapak itu banyak menghiasai pemberitaan media online di Indonesia. Riset Indonesia Indicator (I2) mencatat, ada 783 berita media online mengenai IPO Bukalapak pada 25 Juli-8 Agustus 2021. 

Rencana IPO Bukalapak sudah mendapat perhatian media dengan 10 berita pada 25 Juli 2021. Media menulis mengenai IPO Bukalapak yang ditargetkan bakal digelar pada 28-31 Juli 2021. Bukalapak menawarkan 25,76 miliar lembar saham dengan harga Rp 850 per lembar.

Ekspos berita lalu bergerak fluktuatif. Sempat tinggi pada 27 dan 28 Juli, masing-masing 77 dan 71 berita, lalu merosot pada 29 Juli (32 berita), 30 Juli (19 berita), dan 31 Juli (6 berita). Puncak ekspos berita terjadi pada 6 Agustus 2021 (326 berita). Saat itu, Bukalapak resmi tercatat di BEI dengan kode perdagangan BUKA.

CEO Bukalapak, Rachmat Kaimuddin, menjadi figur yang paling banyak dimintai keterangannya oleh media mengenai IPO Bukalapak dengan 397 pernyataan. Media mengutip Rachmat yang menyebut tingginya minat terhadap saham Bukalapak mencerminkan kepercayaan publik kepada perusahaannya. Rachmat juga berharap IPO Bukalapak bisa mendorong pertumbuhan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ke tingkat selanjutnya.

Top influencer lainnya adalah Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi (310 pernyataan), yang banyak memberikan pandangannya tentang IPO Bukalapak. Beberapa pernyataan Inarno yang dikutip media antara lain mengenai Bukalapak yang menjadi emiten startup unicorn pertama di BEI serta nilai IPO Bukalapak senilai Rp 21,9 triliun menjadi yang terbesar dalam sejarah bursa saham Indonesia. 

Di sisi lain, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira (50 pernyataan), menganggap ada euforia berlebihan dengan melejitnya saham Bukalapak. Bhima mengatakan investor ritel cenderung melihat Bukalapak sebagai salah satu unicorn yang valuasinya besar, meskipun secara profit belum menghasilkan.

I2 mencatat beberapa figur lain yang banyak memberikan pernyataan ke media, yakni Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna (271 pernyataan), Plt Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silva Halim (124 pernyataan), Wakil Direktur Elang Mahkota Teknologi Sutanto Hartono (76 pernyataan), Country Managing Director of Grab Indonesia Neneng Goenadi (54 pernyataan), Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (52 pernyataan), Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana (49 pernyataan), dan Komisaris Bukalapak Yenny Wahid (42 pernyataan).

Selama periode riset, Indonesia Indicator (I2) mencatat ada 177 portal media online yang memberitakan IPO Bukalapak. Bisnis.com menjadi yang paling banyak memberitakan isu ini dengan 102 berita. Kemudian ada Liputan 6 (50 berita), CNBC Indonesia (42 berita), Tempo.co (34 berita), Katadata (29 berita), Investor Daily (29 berita), Berita Satu (21 berita), Detik.com (17 berita), Kompas.com (16 berita), dan Kontan (16 berita).

Loading...
Loading...