Potret Vaksin Booster di Portal Online dan Twitter

Pemerintah menggulirkan wacana vaksinasi COVID-19 dosis ketiga (booster) bagi masyarakat pada awal November 2021. Program ini rencananya digulirkan pada 2022, tepatnya ketika sekitar 50% sasaran imunisasi telah menerima dua dosis (suntikan lengkap). 

Seperti program vaksinasi reguler yang tengah berlangsung, sasaran penerima suntikan ketiga juga berurutan sesuai urgensi. Kelompok rentan menjadi prioritas utama, sebagaimana rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Hingga kini, pemerintah baru memberikan dosis ketiga kepada tenaga kesehatan (nakes). Dengan demikian, penerima berikutnya adalah kelompok lanjut usia (lansia). 

Meski demikian, kebijakan vaksin booster rencananya dijalankan dengan dua skema, gratis dan berbayar. Peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional dan (PBI JKN) aparatur sipil negara (ASN) menjadi kelompok penerima dosis ketiga cuma-cuma, sisanya harus membayar secara pribadi. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sampai sekarang masih mengalkulasi harga. Karenanya, belum ada keputusan resmi biaya vaksin booster per merek. 

Sekalipun baru sebatas wacana, tetapi isu ini menjadi atensi media massa dan media sosial. Hal tersebut terekam dalam pemantauan yang dilakukan Indonesia Indicator (I2) sepanjang 1-29 November 2021. 

Portal Online 

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 333 media massa daring (online) yang membuat berita tentang vaksin booster dengan total 1.377 artikel. Intensitas pemberitaan setiap harinya fluktuatif, yang tertinggi pada 18 November saat pemerintah mengumumkan melakukan kajian pemberian dosis ketiga dan berencana mengadakan uji klinik (136 berita) serta 8 November ketika menyampaikan soal kelompok yang mendapatkannya secara gratis dan berbayar (104 berita). 

Vaksin booster untuk lansia menjadi isu yang paling banyak ditulis portal online dengan 37%. Selanjutnya adalah manfaat vaksin booster (22%), skema pemberian (16%), uji klinik (15%), dan perkiraan harga (10%). Terdapat 1.237 berita yang membahas kelima isu tersebut. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjadi figur yang paling banyak dikutip komentarnya (top influencer) oleh portal online dengan total 1.344 pernyataan. Ini tidak lepas dari tugas pokok dan fungsinya (tupoksi), terutama ketika mengumumkan soal pelaksanaan hingga kelompok penerima vaksin booster. 

Top influencer kedua ditempati anak buah Budi Gunadi yang juga Jubir Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dengan 814 pernyataan. Berikutnya adalah Ketua Satgas COVID-19 PB IDI, Zubairi Djoerban (449 pernyataan); Wakil Ketua Komisi IX DPR, Melki Laka Lena (428 pernyataan); Kabag Ops Pelayanan PT Bio Farma, Erwin Setiawan (304 pernyataan); Menag, Yaqut Cholil Qoumas (221 pernyataan); Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (212 pernyataan); vaksinolog Dirga Sakti Rambe (157 pernyataan); Jubir Pemerintah & Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Reisa Broto Asmoro (140 pernyataan); dan epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman (128 pernyataan). 

Adapun Medcom.id menjadi media yang paling banyak mengangkat isu vaksin booster dibandingkan 332 portal online lainnya. Anak usaha Media Group ini menerbitkan 50 berita. 

Terbanyak kedua adalah Republika dengan 47 berita, lalu disusul Kompas.com dan Detik.com (masing-masing 45 berita), Suara.com (43 berita), CNN Indonesia (35 berita), Antara News (33 berita), Tribun News (31 berita), Berita Satu (30 berita), dan Merdeka.com (24 berita). 

Pergerakan di Twitter 

Sementara itu, terdapat 2.588 akun yang membahas isu vaksin booster di Twitter dengan 4.222 unggahan (post). Dengan demikian, setiap akun rata-rata melakukan 1-2 twit. 

Sebesar 73% netizen yang berpartisipasi membicarakan isu ini di Twitter adalah laki-laki, sisanya perempuan. Berdasarkan usia, sebanyak 35% berumur 31-40 tahun, kemudian 29% berumur 22-30 tahun, 26% berumur 41-55 tahun, 8% berumur 18-21 tahun, dan 2% lainnya berumur di bawah 18 tahun. 

Emosi antisipasi (anticipation) paling banyak muncul dari kicauan warganet di Twitter dengan 47% dari total 4.222 percakapan ketika membincangkan vaksin booster, terutama rencana pemerintah mengeksekusinya pada 2022. Berikutnya adalah emosi percaya (trust), yang berisi dukungan, dengan 21%. 

Tertinggi ketiga adalah emosi takut (fear) sebanyak 10% lantaran khawatir dengan efek samping dari penyuntikan pada jangka panjang. Ini menunjukkan masih ada yang mencemaskan program vaksinasi. 

Kemudian adalah emosi senang (joy) sebesar 9%. Emosi tersebut ditandai dengan percaya vaksin booster memperkuat imun sehingga memperkecil risiko terpapar COVID-19 dan mencegah terjadinya perburukan. 

Nada minor soal program vaksinasi juga masih didapati dalam isu vaksin booster mengingat ada 7% twit netizen yang bernada terganggu (disgust). Adapun 6% lainnya memiliki emosi terkejut (surprise).

Loading...
Loading...