Indonesia dalam Cengkeraman Bencana Alam

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 2.103 peristiwa bencana alam di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 22 Oktober 2021. Tingginya intensitas bencana alam itu mendapat atensi besar media online

Riset Indonesia Indicator (I2) pada periode tersebut mencatat sebanyak 602.794 berita media online dalam negeri memberitakan bencana alam. Sorotan media ini juga tak lepas dari dampak yang ditimbulkan, setidaknya 6.487.491 orang menderita dan mengungsi. Kerusakan yang diakibatkan tidak kecil, data BNPB pada 22 Oktober mengungkap sebanyak 1.065.152 rumah terendam banjir dan 1.792 fasilitas publik rusak terdampak ragam bencana alam. Sementara korban luka-luka sebanyak 13.008, meninggal 531, dan korban hilang sebanyak 74 jiwa.

Banjir Jadi Pusat Pemberitaan

Banjir mendapat porsi tertinggi dalam pemberitaan media online sebanyak 258.128 berita. Pergerakan ekspos berita banjir muncul sepanjang tahun 2021, terutama di Provinsi Kalimantan Selatan pada awal tahun 2021. Terbaru, media menyoroti bencana banjir di Samarinda yang berdampak kepada 9.444 warga.

Sedangkan bencana gempa bumi menempati posisi kedua sebanyak 89.321 berita. Pemberitaan gempa banyak mendapat sorotan media pada Januari dan April 2021. Juga pada Agustus di mana Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 807 gempa tektonik di wilayah Indonesia. Narasi pemberitaan didominasi oleh peringatan gempa BMKG, di antaranya gempa bumi di Jawa Timur pada Mei 2021 dengan kekuatan 5,9 Mw  (Magnitudo Momen), gempa Malang Raya pada Oktober 2021 dengan 5,3 Mw.

Bencana alam yang banyak menyita atensi media online berikutnya adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebanyak 62.938 berita. Fenomena Karhutla banyak diberitakan pada Maret 2021 atau jelang musim panas. Media menyoroti kasus karhutla di Provinsi Riau yang mencapai 1.235 hektare sepanjang Januari-Agustus 2021. Disusul bencana gelombang pasang atau badai (62.538 berita), tanah longsor (45.706 berita), banjir bandang (40.154 berita), kekeringan (17.281 berita), angin puting beliung (16.245 berita), abrasi (11.021 berita), dan letusan gunung api atau gunung erupsi (9.353 berita).

Dari sisi dinamika ekspos pemberitaan, I2 memantau puncak ekspos pemberitaan bencana alam terjadi di Januari 2021 sebanyak 110.101 berita, meliputi berita banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi. Ekspos pemberitaan sedikit mengendur pada Februari sebanyak 101.828 berita. Kemudian 65.318 berita pada Maret, dan terus menurun hingga Oktober sebanyak 2.8021 berita.

Suara.com Tertinggi

Pada rentang 1 Januari hingga 22 Oktober itu, Indonesia Indicator juga memantau ada 3.945 portal media online dalam negeri yang memberitakan tentang bencana alam di Indonesia. Dari jumlah  tersebut, I2 meranking 10 media online yang banyak mengangkat bencana alam. Pertama, Suara.com (8.292 berita), Kompas.com (7.455 berita), Detik.com (6.462 berita), Antara (6.458 berita), Sindo (6.034 berita), Inews (6.005 berita), Republika (5.853 berita), Medcom.id (5.809 berita), Tribun News (5.779 berita), dan Kumparan (5.564 berita).

Ribuan berita tentang bencana alam tersebut terekspos di berbagai wilayah Tanah Air. I2 mencatat setidaknya ada 10 wilayah, meliputi DKI Jakarta sebanyak 76.142 ekspos. Pemberitaan media mengenai bencana alam banyak menyebutkan daerah DKI Jakarta dalam konten berita. DKI Jakarta sendiri sempat terkena bencana banjir pada Februari 2021 hingga cuaca ekstrem. Pemprov DKI Jakarta pun menyatakan kesiapannya dalam menghadapi bencana Hidrometeorologi.

Kemudian Jawa Barat sebanyak 36.582 ekspos pemberitaan. Jabar menjadi daerah kedua yang paling banyak disebutkan media terkait bencana alam. Narasi pemberitaan berkutat pada penanganan banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang dilakukan Pemprov Jabar di wilayah tersebut. Disusul Jawa Timur (34.549 ekspos), Kalimantan Selatan (34.432 ekspos), Sulawesi Barat (33.288 ekspos), Nusa Tenggara Timur (32.229 ekspos), Jawa Tengah (24.081 ekspos), Kalimantan Tengah (21.146 ekspos), Sumatera Utara (19.412 ekspos), Bali (18.035 ekspos).

Loading...
Loading...