Percepatan Vaksinasi untuk Herd Immunity

Pemerintah tengah menggencarkan program vaksinasi COVID-19 guna menanggulangi pandemi. Program itu beriringan dengan kampanye protokol kesehatan (prokes) dan pembatasan aktivitas publik lewat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sebanyak 208,2 juta warga Indonesia menjadi target vaksinasi untuk menciptakan kekebalan komunal (herd immunity).

Sejak program vaksinasi COVID-19 pertama kali digulirkan pada 13 Januari 2021, yang ditandai dengan penyuntikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah terus meningkatkan target vaksinasi harian. Pada Juli 2021, pemerintah memasang target 1 juta dosis vaksin disuntikkan per hari. Target itu naik dua kali lipat pada Agustus 2021.

Agar pelaksanaan program kian masif, pemerintah akhirnya membuka akses kepada masyarakat hingga organisasi kemasyarakatan (ormas) dan partai politik untuk menyelenggarakan vaksinasi. Sasaran penerima vaksin juga diperluas seiring kian beragamnya vaksin yang diterima Indonesia. Sekarang, pelajar berusia 12 tahun dan di atasnya, komorbid dengan syarat tertentu, serta ibu hamil sudah diperkenankan ikut vaksinasi. Adapun sasaran vaksinasi secara umum dibagi menjadi lima kelompok, yakni tenaga kesehatan (nakes), petugas publik, lanjut usia (lansia), masyarakat umum dan rentan, serta remaja dan pelajar.

Pemerintah juga memutuskan menggunakan enam merek vaksin, yaitu Sinovac baik yang diproduksi pabrik asal atau yang diolah PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, Sinopharm, Moderna, dan Novavax. Berbagai vaksin tersebut diperoleh dengan skema membeli langsung kepada produsen hingga skema COVAX Facility bersama GAVI dan World Health Organization (WHO) atau donasi negara-negara sahabat.

Berbagai kebijakan tersebut dibuat guna merealisasikan target vaksinasi rampung pada akhir 2021. Lantas, bagaimana capaiannya setelah nyaris 8 bulan berjalan?

Realisasi Vaksinasi

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 23 Agustus pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 58.468.810 orang sudah menerima dosis pertama atau 28,07% dari target 208,2 juta warga. Sementara yang mendapat dosis kedua sebanyak 32.640.998 orang atau 15,67% dari target. 

Berdasarkan kelompoknya, cakupan vaksinasi kepada nakes telah melampaui target 1.468.764 orang. Sebanyak 1.631.900 nakes telah divaksin dosis pertama (111,11% dari target) dan dosis kedua diberikan kepada 1.513.144 orang (103,02%).

Lebih dari 500 ribu nakes juga telah menerima dosis ketiga (booster). Dosis ketiga kepada sumber daya manusia (SDM) kesehatan itu menggunakan vaksin Moderna dan diberikan lantaran kelompok tersebut paling berisiko mengingat mereka bersentuhan langsung dengan pasien COVID-19.

Realisasi vaksinasi petugas publik pun melampaui target yang dicanangkan, yakni sebanyak 17.327.167 penerima. Sebanyak 29.509.313 petugas publik sudah mendapatkan dosis pertama (170,31%) dan sebanyak 17.862.974 di antaranya telah menerima dosis lengkap (103,09%).

Capaian vaksinasi untuk nakes dan petugas publik yang sudah melebihi target belum diikuti tiga kelompok lainnya, yakni lansia, masyarakat umum dan rentan, serta remaja dan pelajar. Vaksinasi dosis pertama untuk lansia baru dilakukan kepada 5.146.851 orang dari target 21.553.118 penerima. Sementara dosis kedua baru diberikan kepada 3.631.663 jiwa.

Untuk masyarakat umum dan rentan, dosis pertama baru diberikan kepada 18.969.614 orang dari target 141.211.181 penerima. Sedangkan dosis kedua mencapai 7.881.683 orang. Adapun kelompok remaja dan pelajar yang sudah menerima vaksin dosis pertama sebanyak 2.474.313 orang dari target 26.705.490 jiwa. Sementara dosis kedua baru diberikan kepada 1.345.537 orang.

Berdasarkan provinsi, cakupan vaksinasi dosis pertama di DKI Jakarta menjadi yang paling tinggi dengan 9.631.981 orang. Disusul Jawa Timur (8.949.456 orang), Jawa Barat (8.522.972 orang), Jawa Tengah (6.603.677 orang), Bali (3.141.845 orang), Banten (2.543.351 orang), Sumatera Utara (2.313.656 orang), Sulawesi Selatan (1.625.032 orang), Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY (1.457.178 orang), dan Kepulauan Riau (1.168.951 orang).

Tapi urutan 10 provinsi dengan vaksinasi dosis pertama paling tinggi itu berubah jika ditinjau dari target vaksinasi dosis pertama yang dipasang setiap provinsi berdasarkan populasi di daerah masing-masing. DKI Jakarta menempati urutan pertama dengan capaian 114,7% dari target vaksinasi dosis pertama. Lalu ada Bali (92,27%), Kepulauan Riau (73,94%), DIY (50,6%), Sulawesi Utara (37,92%), Jambi (28,86%), Jawa Timur (28,12%), Banten (27,56%), Kalimantan Tengah (24,87%), dan Gorontalo (23,61%).

Untuk provinsi dengan cakupan vaksinasi dosis kedua paling banyak, DKI Jakarta juga menjadi juaranya dengan 5.190.901 orang. Berikutnya ada Jawa Timur (5.002.803 orang), Jawa Barat (4.554.537 orang), Jawa Tengah (3.942.996 orang), Bali (1.659.716 orang), Sumatera Utara (1.442.550 orang), Banten (1.337.138 orang), Sulawesi Selatan (989.775 orang), Sumatera Selatan (743.293 orang), dan DIY (618.254 orang).

Daftar 10 besar provinsi dengan vaksinasi dosis kedua paling tinggi itu juga berubah jika ditinjau dari target vaksinasi dosis kedua di masing-masing provinsi. Ibu Kota masih tetap tertinggi dengan 61,83% dari target vaksinasi dosis kedua, lalu Bali (48,74%), Kepulauan Riau (28,23%), DIY (21,47%), Jambi (16,27%), Kalimantan Tengah (15,81%), Jawa Timur (15,72%), Kalimantan Timur (15,34%), Sulawesi Utara (15,11%), dan Kepulauan Bangka Belitung (14,92%).

Sejumlah provinsi di Jawa memang telah banyak melakukan vaksinasi COVID-19 kepada warganya. Tetapi secara persentase target masih terbilang kecil karena besarnya populasi di pulau terpadat di Indonesia itu. Di sisi lain, tingginya capaian target vaksinasi di Pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera menunjukkan pelaksanaan program vaksinasi sejauh ini cukup merata.

Loading...
Loading...