Suka Duka Netizen sambut Ramadan di Tengah Pandemi

Serangan pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) jelang Ramadan 1441 Hijriah belum menunjukkan tada-tanda mereda. Bulan suci terpaksa disambut dengan suka duka oleh umat Islam di Tanah Air.

Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen Media dengan menggunakan peranti lunak Artificial Intelligence (AI), mencatat sejumlah isu utama yang diperbincangkan netizen, baik di media sosial maupun di media mainsteam online.

Isu Utama di Media Sosial

Riset media sosial Indonesia Indicator (I2) periode 1 hingga 22 April 2020 mencatat ada 20.727 cuitan netizen di Twitter terkait Ramadan di tengah pandemi virus yang muncul pertama kali di Wuhan, China itu. Dari riset tersebut, I2 mencatat ada sembilan isu utama yang diperbincangkan netizen jelang perayaan Ramadan, mulai dari doa, harapan, larangan mudik hingga ketersediaan sembako. 

Doa agar Indonesia terbebas Covid-19 terpantau ramai dicuitkan Warga Twitter (2.689 tweet). Netizen menyambut dengan suka cita Ramadan dengan harapan agar Indonesia segera terbebas dari bencana coronavirus. Isu ini menempati posisi teratas di jajaran isu utama yang diperbincangkan netizen. 

Isu kedua yang menjadi perhatian warganet jelang Ramadan adalah, ucapan selamat menyambut Ramadan yang dicuitkan 2.280 kali. Mereka saling berbagi ucapan selamat menyambut bulan suci. Berikutnya, cuitan harapan agar bisa menjalankan sahur dan Tarawih juga ramai dilontarkan netizen, sebanyak 1.815 cuitan. Cuitan sahur dan Tarawih ini tetap menggema meski sudah ada imbauan resmi Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), agar menjalankan ibadah puasa di rumah.

Top issue keempat tentang Ramadan di tengah pandemi adalah imbauan ibadah puasa di rumah sebanyak 537 cuitan. Disusul larangan mudik sebanyak 535 cuitan, ungkapan syukur bertemu Ramadan 480 cuitan, ketersedian bahan pokok 208 cuitan, pemberian bansos sembako 120 cuitan, dan terakhir penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dicuitkan sebanyak 88 kali.

Dalam periode tersebut, netizen menunjukkan emosi antisipasi (anticipation) yang tercatat paling banyak, yakni 4.075 atau sebesar 58%. Warganet mengungkapkan antisipasi dan harapan agar Covid-19 segera berlalu sehingga bisa beribadah seperti sedia kala.

“Semoga di bulan Ramadhan ini wabah virus Covid-19 hilang. Amin,” tulis pemilik akun Twitter @septikoaji dengan #Ramadhan, Rabu (22/4/2020).

Cuitan senada diungkapkan @nurissilo, “Kita sambut datangnya bulan suci ini dg riang gembira, gd harapan covid segera berlalu. Marhaban ya ramadhan,” tulisnya di tanggal yang sama.

Ungkapan trust juga tertangkap dicuitkan netizen berjumlah 1.524 cuitan atau sebesar 21 %. Netizen percaya dan yakin Ramadan akan tiba hingga datang Idulfitri.

“Ramadan akan tiba dan lalu lebaran, Alkisah percakapan simbo dgn anak nya yang ngebet mudik…” tulis pemilik akun twitter @Genezsa, Rabu (22/4/ 2020).

Ungkapan trust lainnya disampaikan pemilik akun @ciyeeeeekepo, “Ramadhan bentar lagi guys. Semangat ya walapun nanti pas lebarannya ga boleh mudik,” tulisnya di hari yang sama. 

Berdasarkan riset, pengguna platform 'Burung Biru' juga menunjukkan emosi sadness, namun jumlahnya tak banyak atau hanya 570 cuitan (8%). Ungkapan ini muncul melalui cuitan bernada sedih karena menjalankan puasa, tapi tidak boleh salat Tarawih berjemaah di masjid.

Sementara ungkapan senang atau joy menyambut Ramadan dicuitkan sebanyak 527 kali (7%). Disusul ekspresi surprise (terkejut) sebanyak 124 cuitan (2%), emosi disgust atau kesal sebanyak 113 cuitan (2%), ekspresi anger atau marah sebanyak 89 cuitan (1%), dan terakhir emosi khawatir atau fear sebanyak 55 cuitan (1%).

Dari sisi sebaran demografi, netizen yang memperbincangkan persiapan Ramadan di tengah pandemi Covid-19 lebih banyak dicuitkan oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Mereka yang membahas isu ini muncul dari rentang umur yang berbeda. Persisnya, rentang umur 18 hingga 25 tahun sebanyak 44%, 26 hingga 35 sebanyak 31%, di atas 35 tahun 20%, dan di bawah 18 tahun 5%.

Perbincangan soal persiapan Ramadan ini lebih banyak disuarakan dalam nada positif di linimasa, yakni 59%. Sedangkan sentimen netral 18%, dan sentimen negatif 23%.  Sentimen positif salah satunya muncul dari ekspresi doa dan harapan netizen menyambut bulan Ramadan. Sedangkan cuitan negatif lebih berisikan kesedihan karena tidak bisa menjalankan ibadah Ramadan seperti sebelumnya, dan tidak bisa mudik.

Isu Utama di Media Online

Sementara itu, selain di media sosial Twitter, perayaan Ramadan di tengah pandemi Covid-19 juga menjadi isu utama media mainstream, dengan jumlah berita mencapai 31.316 berita online. 

I2 mencatat ada enam isu utama yang membahas seputar persiapan menjelang Ramadan di media online mainstream, yakni: imbauan ibadah puasa di rumah sebanyak 6.487 berita. Media membahas isu ini mulai dari imbauan Kemenag dan MUI agar masyarakat menjalankan ibadah di rumah masing-masing.

Ketersediaan bahan pokok menjadi isu kedua yang banyak dibahas media online, sebanyak 4.762 berita. Media banyak mengutip pernyataan Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi soal stok dan harga komoditas pangan strategis masih aman dan stabil jelang Ramadan.

Sementara empat isu lainnya yang banyak diangkat media mainstream adalah pemberian bansos dan sembako sebanyak 4.683 berita, larangan mudik 4.404 berita, harga komoditas bahan pokok sebanyak 4.038 berita, dan penerapan PSBB sebanyak 3.640 berita.

Nah, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan!


Warna-Warni Kartu Pekerja di Mata Netizen

Pemerintah akhirnya merilis Program Kartu Prakerja pada 11 April 2020. Mulanya, dijanjikan peluncurannya pada awal tahun ini dan sempat beberapa kali ditunda. Karena itu, konteksnya juga berbeda. Sekarang menjadi bagian dari instrumen jaring pengaman sosial (social safety net) imbas pandemi coronavirus anyar (Covid-19).

Kartu Prakerja diprioritaskan untuk pekerja yang dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terdampak Covid-19. Untuk mengikuti program ini, peminat harus melakukan registrasi melalui situs web prakerja.go.id.

Meski sempat ditunda, antusias publik tetap tinggi. Sebanyak 4 juta orang tercatat telah mendaftar sejak tiga hari dirilis. Padahal, jumlah sasaran gelombang pertama hanya 160.000 jiwa. 

Penerima manfaat nantinya bakal menerima insentif hingga Rp3,55 juta dan terdiri dari tiga elemen. Biaya pelatihan kompetensi Rp1 juta, uang tunai Rp600.000 per bulan dan diberikan hingga empat kali, serta insentif Rp150.000 jika sudah merampungkan pelatihan dan mengisi survei evaluasi program.

Anggaran Program Kartu Prakerja yang dikucurkan mencapai Rp20 triliun. Total sasaran penerima manfaat 5,6 juta warga. Pencairannya melalui Bank Nasional Indonesia (BNI).

Sementara, ada delapan mitra Kartu Prakerja yang menyediakan jasa pelatihan. Mereka adalah Tokopedia, Skill Academy by Ruangguru, Maubelajarapa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijarmahir, dan Sisnaker. Sudah terdapat 900 lebih pelatihan dalam jaringan (online). Juga akan ada pelatihan luar jaringan (offline).

Kebijakan ini menuai respons publik, khususnya pengguna Twitter. Ada yang mendukung dan mengkritik. Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen media, menangkap persepsi masyarakat itu menggunakan piranti lunak artificial intelligence (AI).

Respons Netizen

Warganet yang merespons positif lebih besar dibandingkan yang negatif, yakni 34% berbanding 26%. Namun, mayoritas netizen (40%) berpendapat netral. Ekspos Program Kartu Prakerja di Twitter menembus 40.518 tweet.

Dalam menyuarakan pendapatnya, sebagian besar kicauan netizen menggunakan tagar #KartuPraKerja (71%), diikuti #Prakerja (14%), #Ekonomi (12%), dan #PHK (3%).

Tingginya sentimen positif juga selaras dengan nuansa emosi warganet. Sebanyak 4.226 kicauan (53%) berisi ajakan (anticipation) kepada publik untuk mengikuti Program Kartu Prakerja. Selanjutnya, emosi terkejut (surprise) sebanyak 1.245 kicauan (16%) karena program di luar ekspektasi dan beberapa menceritakan kesulitan mereka saat mendaftar imbas sistem bermasalah (error).

Selain itu, emosi kepercayaan (trust) juga banyak muncul, sebesar 774 kicauan (10%) dan bahagia (joy) 468 kicauan (6%). Tweet ini bermuatan dukungan warganet terhadap program dan turut menyosialisasikannya melalui Twitter serta rasa syukur atas program ini, dan diharapkan dapat menjadi solusi bagi pekerja yang dirumahkan.

Sedangkan sentimen negatif, ditandai dengan adanya emosi gemas/marah (anger) sebanyak 661 kicauan (8%), jemu (disgust) 355 kicauan (4%), kesedihan (sadness) 181 kicauan (2%), dan khawatir (fear) 102 kicauan (1%).

Emosi negatif tercermin dari cuitan-cuitan berisi kritik terhadap format pelatihan online, mahalnya biaya pelatihan, dan dugaan terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest) antara Ruangguru sebagai salah satu mitra Program Kerja, karena CEO dan pendiri Ruangguru merupakan Staf Khusus milenial Presiden, Adamas Belva Syah Devara.

Dari konten emosi dan gambaran sentimen publik tersebut, ditemukan tujuh isu yang paling banyak dibahas netizen tentang Kartu Prakerja. Eksposnya mencapai 21.930 cuitan. Isu tentang Materi Pelatihan Online merupakan masalah yang paling banyak disorot, dengan 7.166 tweet.

Berikutnya, pendaftaran (5.222 tweet); peluncuran (4.810 tweet), biaya pelatihan online (1.614 tweet), kendala registrasi melalui situs web (1.046 tweet), serta manfaat program dan kontroversi Adam-Ruangguru (masing-masing 1.036 tweet).

Pelatihan online dikritisi karena dianggap tidak tepat saat pandemi Covid-19. Sebagian warganet berpendapat, semestinya program berupa uang tunai (emergency cash) bagi para pengangguran.

Dipilihnya Ruangguru sebagai salah satu mitra Kartu Prakerja juga disoal. Dikhawatirkan menimbulkan konflik kepentingan, mengingat pendirinya ada di Istana. Namun perdebatan ini jumlahnya masih di bawah isu lain yang lebih substansial. Beberapa netizen juga mengapresiasi program tersebut. Kartu Prakerja dianggap bermanfaat bagi yang ingin mengisi waktu luang dengan mengembangkan kemampuan di tengah pandemi Covid-19.

Netizen yang mengomentari Program Kartu Prakerja di Twitter mayoritas laki-laki (63%) dan sisanya perempuan (37%). Sedangkan dari rentang umur, paling banyak berusia 18-25 tahun (39%) dan disusul 26-35 tahun (37%), di atas 35 tahun (19%), serta di bawah 18 tahun (5%). Artinya, didominasi kelompok milenial (18-35 tahun).

Suara Netizen dalam Penundaan Pilkada Serentak

Pemerintah, Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan DPR RI sepakat menunda tahapan Pemilihan Kepala Daerah 2020. Penundaan dilakukan karena pandemi Covid-19 di Indonesia yang belum terkendali sehingga mengancam keselamatan masyarakat.

Dalam Surat Keputusan Nomor 179/PL.02-Kpt/01/KPU/111/2020 tentang Penundaan Tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2020 dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 yang diterbitkan KPU menjelaskan adanya sejumlah tahapan Pilkada 2020 yang pelaksanaannya ditunda. Yakni, pelantikan panitia pemungutan suara (PPS) dan masa kerja PPS, verifikasi syarat dukungan calon kepala daerah perseorangan, pembentukan petugas pemutakhiran data pemilih, dan tahapan pemutakhiran dan penyusunan daftar pemilih.

Ketua KPU Arief Budiman, berharap peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) terkait penundaan pemilihan kepala daerah sudah selesai di bulan April ini. Perpu itu diperlukan sebagai payung hukum penundaan pilkada di tengah wabah Corona saat ini.

Ada dua usulan KPU tentang materi perpu. Pertama, KPU meminta kewenangan untuk penundaan dan untuk melanjutkan kembali tahapan pemilu. Kedua, KPU meminta diberi kewenangan untuk menetapkan waktu pilkada berikutnya.

Isu penundaan Pilkada itu juga bergema di linimasa. Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen Media dengan menggunakan piranti lunak Artificial Intelligence (AI) mencatat ada 5.280 cuitan netizen Twitter yang membahas mengenai penundaan pilkada pada periode 1 Maret hingga 13 April 2020.

Emosi trust tercatat dominan disuarakan warganet terkait penundaan Pilkada 2020 (49%). Netizen cenderung memberikan dukungan dan kesetujuannya atas kebijakan penundaan pilkada. Seperti yang dicuitkan oleh akun @BurhanMuhtadi yang menyatakan setuju dengan penundaan pilkada. "Setuju pilkada ditunda. Tak ada yg lebih penting untuk dipikirkan sekarang kecuali keselamatan dan jiwa manusia," cuitnya yang lalu diretweet sebanyak 18 kali dan mendapat 60 likes. 

Warga platform "Burung Biru" juga terpantau mencuitkan emosi anticipation atau harapan (39%). Netizen berharap agar pelaksanaan pilkada ditunda dan pemerintah lebih fokus kepada penanganan Covid-19. Seperti yang dicuitkan oleh mantan Komisioner KPU pada masa jabatan 2012-2017 Hadar Nafis Gumay dalam akun Twitternya @HadarNG pada 26 Maret 2020 lalu. 

"Setuju dgn Tajuk Rencana Kompas, seluruh tahapan Pilkada 2020 ditunda. Presiden perlu mengeluarkan PERPPU. Segala daya dan upaya Pemerintah, semua lembaga, termasuk Penyelenggara Pemilu, bersama masy, perlu fokus untuk melawan pandemi Covid-19. Insya Allah, berhasil," cuit Hadar.

Emosi sadness juga muncul melalui cuitan netizen (5%), karena juga ada warga Twitter bersedih dengan ditundanya pilkada. Ada yang sedih karena berbicara nasib petugas PPU yang belum jelas kapan akan bekerja. Sebaliknya ada yang memang meminta pilkada diundur, sembari juga menyatakan kesedihan atas kondisi petugas medis yang minim APD.

"Pilkada serentak ditunda. Ya Allah sedih," cuit pemilik akun @Hallems24 pada 30 Maret 2020 lalu. 

Penundaan pilkada ini lebih banyak dicuitkan oleh netizen laki-laki dibandingkan perempuan. Sementara dari segi rentang umur, lebih banyak diperbincangkan oleh netizen usia di atas 35 tahun. Hal ini menunjukkan pilkada menjadi wacana ini menjadi perhatian kalangan dengan preferensi politik yang sudah matang. 

Pembahasan penundaan pilkada ini mayoritas mendapatkan sentimen negatif dari netizen, sebesar 52%. Bahasan negatif lebih diakibatkan oleh text mining 'penundaan'. Selain itu, penundaan ini juga berdampak pada masa depan pekerjaan bagi petugas PPU, yang saat ini belum jelas. Kemudian tweet  bersentimen netral sebanyak 31% dan sentimen positif 30%. 

Ketua KPU, Rujukan Utama Media

Isu terkait penundaan pilkada juga menjadi sorotan media online. Indonesia Indicator mencatat terdapat 5.706 berita online yang membahas isu ini pada periode yang sama. 

Ketua KPU RI, Arief Budiman menjadi rujukan utama media online untuk mencari informasi mengenai penundaan tahapan dan penyelenggaraan pilkada di Indonesia. Total terdapat 1.598 jumlah pernyataan Arief yang dikutip media online.  

Selain Arief Budiman, media turut memberikan ruang pemberitaan bagi Komisioner KPU RI Pramono Ubaid Tanthowi (1.009 pernyataan). Pramono menyebut KPU RI dan DPR RI menyepakati Pilkada Serentak 2020 ditunda. Mereka juga sepakat mengalihkan anggaran pilkada untuk penanganan pandemi virus corona (Covid–19).

Nama Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini, dan Menkopolhukam Mahfud MD juga masuk dalam jajaran tokoh-tokoh yang banyak dikutip media. Masing-masing tercatat 987 pernyataan, 837 pernyataan, dan 578 pernyataan.

 

Pahlawan Covid-19 dalam Sudut Pandang Media

Berada di barisan terdepan dalam menangani pasien coronavirus diseases atau Covid-19, paramedis atau tenaga medis mendapat perhatian penting baik di media online dan media sosial. Hal ini terekam dalam riset Indonesia Indicator (I2) pada periode 1 Maret hingga 6 April 2020. Pada periode itu, pemberitaan tentang paramedis di media online mencapai 97.912 berita dan ada 180.409 cuitan netizen di media sosial Twitter. 

Paramedis dan media

Paramedis yang gugur dalam tugas di tengah pandemi corona mendapat perhatian besar dari media online. Isu ini diangkat dalam 16.923 berita. Media online mengangkat isu meninggalnya 19 dokter selama pandemi covid-19, termasuk imbauan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) agar seluruh dokter menjaga kesehatan dan kebersihan, menyusul bertambahnya kasus meninggal pasien coronavirus.

Sama halnya dengan media online, kabar gugurnya para tenaga medis menjadi isu terbesar di Twitter. Sebanyak 44.118 cuitan berbagai ucapan dan doa, juga ungkapan duka dari netizen. Secara total, seluruh cuitan yang membicarakan perjuangan pahlawan kesehatan covid-19 ini sebanyak 180.409 cuitan. 

Selain kasus meninggalnya paramedis, media daring dan warga Twitter juga terpantau membahas mengenai rapid test atau tes cepat, masing-masing sebanyak 8.237 berita dan 5.163 cuitan. 

Di media online, diberitakan terkait permintaan Jokowi untuk memprioritaskan tes cepat Covid-19 terhadap petugas medis dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Aksi donasi untuk penanganan Covid-19 juga tak luput dari pemberitaan media online. Isu ini diberitakan sebanyak 10.735 berita. Donasi hingga penggalangan dana menjadi fokus media online untuk menggugah nurani publik agar membantu memenuhi kebutuhan alat pelindung diri (APD) para petugas medis. Isu aksi donasi ini juga menjadi perbincangan hangat di Twitter, sebanyak 2.331 cuitan. 

Sejumlah isu lainnya yang juga menjadi perhatian media online adalah anjuran menggunakan masker sebanyak 6.537 berita. Dalam isu ini, banyak media online mengangkat sosok dokter muda Clarin Hayes yang viral karena membahas soal masker N95, dan upaya edukasinya untuk masyarakat seputar Covid-19.

Media juga terpantau mengapresiasi tenaga media. Paramedis dinilai sebagai pahlawan sesungguhnya sehingga menuai pujian yang dimuat dalam 4.483 pemberitaan. Lalu, isu rumah sakit (RS) darurat Covid-19 sebanyak 4.186 berita dan stigma negatif terhadap tenaga medis sebanyak 486 berita. Sejumlah media online mengangkat kondisi miris paramedis yang diusir dari tempat tinggal karena dikhawatirkan menjadi pembawa (carrier) virus.

Netizen Twitter juga memberikan ungkapan apresiasi terhadap paramedis dalam 3.812 cuitan. Netizen mendukung dan mengapresiasi dedikasi tenaga medis yang berjuang siang malam demi kesembuhan pasien Covid-19. 

Doa dan dukungan bagi paramedis

Selain menghimpun isu-isu terbesar tentang perjuangan paramedis dalam menangani Covid-19 di media sosial online dan media sosial, riset I2 juga mencatat tiga emosi dominan netizen dalam perbincangan tentang perjuangan pahlawan kemanusiaan ini. 

Emosi trust (percaya) terpantau paling banyak dicuitkan, sebanyak 17.220 cuitan. Netizen menyuarakan dukungan, apresiasi, hingga rasa hormat terhadap jasa paramedis.

Emosi trust ini salah satunya disuarakan pemilik akun Twitter @wignyaaa pada 5 April pukul 19:05, 

“Semangat tenaga medis, TNI, Polri, ojol, pedagang dan pekerja...,” tulis pemilik akun tersebut.

Emosi anticipation atau harapan dicuitkan hingga 11.320 cuitan. Warganet mengungkapkan harapan agar para petugas medis selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, termasuk harapan agar donasi terus bergulirnya untuk memenuhi kebutuhan APD bagi petugas medis.

Pemilik akun @tirta_hudhi misalnya mencuitkan donasi masker ke masyarakat yang masih bekerja di jalanan seperti driver ojek online, pedagang kaki lima, hingga pemulung.

“Biar APD untuk tenaga medis. Itu saran saya,” tulis @tirta_hudhi pada Jumat 3 April pukul 21:22.

Emosi sadness (sedih) juga terpantau diekspresikan netizen sebanyak 9.474 cuitan. Cuitan-cuitan kesedihan netizen bermunculan lantaran banyaknya tenaga medis di Indonesia yang gugur ketika menjalankan tugasnya.

Sementara itu, tingginya pemberitaan tentang paramedis di media online tak lepas dari influencer yang menjadi rujukan pemberitaan dalam membahas petugas medis. Dari jajaran 10 top influencer, tujuh di antaranya merupakan pejabat pemerintah pusat dan daerah. Sisanya, merupakan figur di bidang kedokteran.

Juru Bicara Pemerintah terkait penanganan virus corona, Achmad Yurianto menjadi rujukan utama media (20.720 pernyataan), disusul Presiden Joko Widodo (15.915 pernyataan), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (8.175 pernyataan), Dokter Erlina Burhan (4.802 pernyataan), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (4.173 pernyataan), Ganjar Pranowo (4.016 pernyataan), Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo (3.285 pernyataan), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (3.203 pernyataan), Ketum PB IDI Daeng M Faqih (2.235 pernyataan), dan terakhir Dirut RSPI Sulianti Saroso Mohammad Syahril (1.735 pernyataan).

Riset I2 juga mencatat ada 10 top person atau tokoh yang paling banyak diberitakan media terkait peran paramedis dalam penanganan Covid-19. Mereka adalah para pemangku kebijakan publik baik pemerintah pusat maupun daerah. Yakni, Presiden Joko Widodo (8.757 berita),

Achmad Yurianto (4.736 berita), Anies Baswedan (2.359 berita), Doni Monardo (1.667 berita), Ridwan Kamil (1.125 berita), Ganjar Pranowo (1.008 berita), Khofifah Indar Parawansa (993 berita), Menteri BUMN Erick Thohir (954 berita), Menteri Perhubugnan Budi Karya Sumadi (878 berita), dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (791 berita).

Loading...
Loading...