Langkah Jitu Ridwan Kamil Perangi Covid-19

Muda, pemimpin bercorak milenial berlatar belakang akademisi. Ia adalah Ridwan Kamil, mantan Wali Kota Bandung yang kini terpilih sebagai Gubernur provinsi Jawa Barat sejak September 2018 hingga 2023 mendatang. Disapa publik dengan nama Kang Emil, elektabilitasnya naik dan disebut publik sebagai kepala daerah dengan kinerja terbaik dalam menangani pandemi Covid-19 di wilayahnya. 

Penelusuran big data Indonesia Indicator (I2) dalam satu bulan terakhir sepanjang periode 24 Juni - 24 Juli 2020 menemukan setidaknya ada lima pendekatan jitu Ridwan Kamil dalam memimpin Pemprov Jabar untuk menangani pandemi Covid-19. Kelima terobosan itu membuat Pemprov Jawa Barat yang dinilai proaktif dalam menangani Covid-19. Pendekatan proaktif ini menjadikan Jabar sebagai provinsi pertama yang melakukan tes berbasis metode Polymerase Chain Reaction (PCR), saat semua uji PCR dipusatkan di Jakarta.

Penanganan Covid-19 Ridwan Kamil juga dinilai transparan dengan merilis aplikasi Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (PIKOBAR). Aplikasi ini merupakan bentuk transparansi Pemprov Jabar kepada publik dalam penanganan pandemi. 

Terobosan lain, basis kebijakan penanganan Covid-19 ilmiah dan mengacu pada riset. Kang Emil kerap membuat keputusan berdasarkan masukan para ahli, seperti dalam menentukan jumlah warga yang harus dites. Jabar mengejar 300 ribuan tes PCR atau 0,6% dari 50 juta warganya yang merupakan standar Korea Selatan untuk memetakan persebaran Covid-19.

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga mampu mendorong pemerintahan inovatif dengan menggerakkan seluruh industri untuk mengubah fokus demi melawan pandemi Covid-19. Hal ini diwujudkan dengan suksesnya PT Biofarma yang memproduksi test kit PCR Virus Corona secara mandiri. Jabar juga mampu menggerakkan PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi ventilator mandiri, sehingga bisa menekan jumlah ventilator impor.

Kemudian, Ridwan Kamil dinilai sanggup membangun pemerintahan kolaboratif dengan menggandeng berbagai pihak dalam penanggulangan pandemi Covid-19. Salah satunya yakni hampir 50% alat Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk tes masif yang dimiliki Jabar adalah donasi dari Yayasan Buddha Tzu Chi.

I2 merekam pemberitaan terkait Ridwan Kamil dalam menangani Covid-19 tersebar di 486 media di Indonesia baik media lokal maupun nasional di Indonesia. Republika menjadi media yang paling banyak mengangkat pemberitaan terkait sepak terjang Ridwan Kamil, mencapai 225 berita.

Jaringan media Grup Kompas Gramedia juga ramai memberitakan Ridwan Kamil. Di antaranya Tribun Jabar dan Kompas yang meliput Ridwan Kamil masing-masing hingga 189 berita dan 120 berita. Kompas mengangkat langkah dan terobosan Ridwan Kamil dalam mencegah penyebaran Covid-19. 

Media lain yang juga memberitakan lulusan University of Berkeley itu adalah Pikiran Rakyat 167 sebanyak berita. Lalu, Detik (154 berita) yang banyak memberitakan tentang kemampuan Jabar dalam memproduksi test kit reagen PCR. 

Kemudian, Sindo News (123 berita), Kumparan (122 berita), Inilah Koran (188 berita), Binis Jabar (113 berita), dan RMOL Jabar (108 berita).

Suksesnya penanganan Covid-19 itu terbukti turut mengerek sentimen media. Sosok Ridwan Kamil banyak diberitakan media dengan sentimen positif sebanyak 41%. Pemberitaan positif ini bersumber dari isu seputar uji klinis vaksin Covid-19, kesiapan Pemprov Jabar dalam memfasilitasi tes masif Corona di institusi pendidikan kenegaraan, wacana pemberian sanksi tegas bagi pelanggar protokol kesehatan, capaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keungan (BPK), dan sejumlah isu lainnya. 

Sedangkan pemberitaan netral dan negatif masing-masing sebesar 40% dan 19%. Sentimen negatif terkait Ridwan Kamil, salah satunya dikaitkan dengan penemuan klaster baru COVID-19, seperti di pabrik Unilever dan Secapa TNI AD di Jabar. Selain itu, target ekonomi Pemprov Jabar juga mendapat kritik dari ekonom Rizal Ramli.


Anak dalam Cengkeraman Kekerasan Seksual

Miris, mungkin itu satu kata yang bisa menggambarkan keadaan ini. Warga Negara asal Prancis, Francois Abello Camille alias Frans terungkap melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Pelaku menyasar anak jalanan sebagai korbannya. Modusnya adalah menjadikan anak di bawah umur sebagai foto model sebelum disetubuhi. Dalam melancarkan aksinya, pria berusia 65 tahun itu tidak segan melakukan kekerasan jika korban menolak saat diajak berhubungan intim. Yang mengejutkan, pelaku telah mencabuli 305 anak hanya dalam kurun waktu tiga bulan, dari Desember 2019 hingga Februari 2020. 

Tindakan bejat Frans tersebut merupakan kasus pelecehan dan pencabulan anak yang paling banyak memakan korban di Indonesia, setidaknya dalam temuan kasus sebulan terakhir yang diberitakan media massa. Indonesia Indicator (I2) merangkum data dari total 3.785 berita yang tersebar di 781 portal media online lokal dan nasional Indonesia yang memberitakan tentang pelecehan seksual terhadap anak sepanjang periode 20 Juni hingga 21 Juli 2020. 

I2 menemukan ada 115 kasus pelecehan dan pencabulan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh 143 tersangka dan menelan korban sebanyak 539 anak di bawah umur. Selain Frans, kasus yang tercatat banyak memakan korban adalah sodomi oleh guru silat atau ilmu kanuragan di Sukabumi yang menelan 35 anak laki-laki di bawah umur. 

Aksi pencabulan oleh guru silat juga terjadi di Pringsewu, Lampung. Pelaku berinisial IM dan IP melakukan aksi pencabulan terhadap 24 anak laki-laki. Para korban tidak berani menolak karena posisi sang guru dalam organisasi tersebut.

Beberapa kasus pelecehan seksual terhadap anak yang turut mengejutkan publik adalah kasus pemerkosaan terhadap anak yang diduga dilakukan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur. Pelaku berinisial DA menerima kecaman dari berbagai pihak karena tempat perlindungan yang seharusnya aman untuk anak justru menjadi tempat bagi predator anak. Lalu, kasus pembunuhan oleh NF – yang ternyata mengalami trauma berat bukan hanya karena diperkosa, tetapi juga dijual ke beberapa pria hidup belang.

Di Kabupaten Tangerang, kasus pemerkosaan terhadap seorang gadis dilakukan delapan orang. Korban mengalami trauma berat hingga meninggal dunia karena infeksi kelamin dan rahim. Enam pelaku telah ditangkap polisi, dua di antaranya masih buron.

Dilakukan oleh orang terdekat 

Catatan I2, pelaku pencabulan atau pelecehan terhadap anak terbanyak dilakukan oleh orang terdekat korban, yakni tetangga, keluarga, dan teman korban. Sebesar 33% pelaku merupakan tetangga korban, sekitar 27% merupakan anggota keluarga korban sendiri, 12% teman, serta sekitar 5% guru. 

Dari data ini menyebutkan bahwa anak sangat rentan keselamatannya bahkan di lingkungan terdekat yang seharusnya aman, yaitu keluarga, lingkungan perumahan, dan sekolah. Dari data ini juga terlihat bahwa pelaku paling banyak berasal dari kalangan yang dihormati oleh anak, yaitu orang dewasa di sekelilingnya. 

Pencabulan atau pelecehan seksual terhadap anak dalam persentase lebih kecil juga dilakukan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN), pendeta, dukun, pejabat desa, hingga oknum polisi.

Berdasarkan sebaran kasus, hanya ada enam provinsi yang tidak ditemukan pemberitaan tentang kasus pelecehan seksual terhadap anak dalam kurun waktu 20 Juni hingga 21 Juli 2020. Keenam provinsi tersebut yakni Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Yogyakarta, dan Maluku.

Sumatera menjadi wilayah paling banyak dengan jumlah kasus pelecehan dan pencabulan sebanyak 43 kasus. Kemudian, Jawa sebanyak 35 kasus, Kalimantan 13 kasus, Sulawesi 11 kasus, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak enam kasus. 

Wilayah lain, Maluku Utara dan Papua sebanyak tiga kasus, Bali sebanyak tiga kasus, dan Nusa Tenggara timur sebanyak tiga kasus.

Data di atas merupakan data yang diambil dari pemberitaan media, yang kasusnya sudah terkuak dan membuat geger. Data ini barangkali seperti fenomena gunung es, angka ini bisa jadi lebih besar. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dapat saja berakhir tidak diketahui dan anak dipaksa diam di bawah ancaman, karena mayoritas pelakunya adalah orang terdekat.

Prabowo Yang Penuh Pesona

Namanya ramai diperbincangkan publik. Langkahnya membatalkan kontrak-kontrak alutsista senilai Rp50 triliun di Kementerian Pertahanan disebut-sebut sangat heroik karena berhasil menyelamatkan uang negara. Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto selalu mengevaluasi pembelian alutsista dan berkomitmen untuk menghentikan kebocoran anggaran negara.

Anggota Komisi VI Fraksi Gerindra Andre Rosiade seperti dikutip Detik.com mengatakan pembatalan kontrak puluhan triliun rupiah itu disebabkan oleh dua alasan. Pertama, alutsista itu dianggap tidak cocok digunakan di Indonesia. Kedua, alutsista itu dianggap kemahalan.

Sontak nama Prabowo ramai tersorot media kembali. Maklum, pertama kali dipanggil oleh Presiden Joko Widodo ke Istana Negara pada Senin, 22 Oktober 2019 lalu dan diminta mengemban tugas sebagai pembantu presiden, menjadi momen tidak terduga. Prabowo mencuri perhatian media karena sebelumnya merupakan lawan Jokowi sebanyak 2 kali sejak Pilpres 2014 hingga Pilpres 2019 lalu.

Indonesia Indicator (I2) mencatat, upaya Prabowo membatalkan kontrak-kontrak bermasalah di Kementerian Pertahanan itu turut mendorong sentimen positif pemberitaan di media online dalam satu bulan terakhir periode 18 Juni–19 Juli 2020.

Sepanjang jangka waktu tersebut, sosok Prabowo dominan diberitakan secara netral-positif oleh media online, masing-masing sebesar 52% dan 31%. Sementara sekitar 17% berisi sentimen negatif.  

Isu lain yang juga menjadi sentimen positif  terkait pembelian 500 kendaraan taktis Maung buatan Pindad, dukungan berbagai pihak terhadap peran Menteri Pertahanan dalam program Food Estate, hingga upaya Prabowo mencari tipe pesawat tempur untuk memperkuat alutsista dalam negeri. 

Riset I2 juga menunujukkan terdapat 749 portal media yang memberitakan figur Prabowo. Portal Republik Merdeka (RMOL) menjadi media yang paling banyak memberitakan Prabowo dengan 135 berita. Disusul di posisi kedua, Detik.com dengan 133 berita. 

Media lain yang memberitakan Prabowo adalah Tribun News (110 berita), CNBC Indonesia (106 berita), Warta Ekonomi (92 berita), CNN Indonesia (89 berita), Republika (84 berita), Suara.com (83 berita), Kompas (77 berita), dan Tempo.co (76 berita). 

Media juga merekam berbagai aksi Prabowo dalam kiprahnya sebagai Menteri Pertahanan selama hampir setahun ini. Tidak lama sejak dilantik, Prabowo diberitakan karena memilih untuk menyumbangkan gajinya. Prabowo disebut tidak akan menerima gaji sebagai menteri dan menyalurkannya ke berbagai yayasan seperti yayasan kanker, lembaga zakat, hingga rumah ibadah.

Aksi lain adalah mempromosikan alutsista dalam negeri yang gencar disuarakan ke berbagai negara. Prabowo konsisten menawarkan dan memperkenalkan produk alutsista dalam negeri produksi PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia (DI), PT PAL Indonesia, hingga PT LEN Industri.

Ketua Umum Partai Gerindra itu juga terus menekan impor alutsista. Salah satunya dilakukan di awal tahun 2020. Saat itu, Prabowo bertemu dengan Menteri BUMN Erick Thohir untuk membahas upaya memaksimalkan klaster industri pertahanan dalam negeri. Belum lama ini Prabowo juga membeli 500 kendaraan taktis Maung buatan PT Pindad sebagai bentuk upaya pemerintah menghidupkan industri pertahanan dalam negeri. 

Selain di bidang militer, Prabowo mendukung industri strategis pertahanan seperti PT Pindad dan PT DI untuk memproduksi ventilator, menyusul kebutuhan yang sangat tinggi di sama pandemi ini. Adanya ventilator buatan dalam negeri ini dapat memenuhi ketersediaan alat kesehatan, sekaligus menekan impor ventilator di tengah pandemi. 

Media online juga memberitakan Prabowo terkait ketahanan pangan. Prabowo dipercaya Jokowi untuk menjaga pertahanan nonmiliter dengan menjadi leading sektor program Ketahanan Pangan Food Estate. Food Estate ini kelak akan menjadi cadangan strategis negara di bidang pangan dalam menghadapi ancaman krisis pangan dunia yang telah diprediksi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO).

 

Melihat Pertarungan Trump vs Biden: Siapa Unggul?

Amerika Serikat (AS) akan melaksanakan pemilihan presiden (pilpres) ke-59 pada 3 November 2020. Calon mengerucut pada dua nama, petahana sekaligus kandidat dari Partai Republik, Donald Trump dan kontestan dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Jalan terjal untuk kembali merengkuh kekuasaan dihadapi Trump lantaran banyak peristiwa yang menggerus reputasinya. Diawali dari kebijakan kontroversial membangun tembok tinggi di perbatasan selatan guna menghalau imigran ilegal; mendesak pemerintah Ukraina menyelidiki putra penantangnya, Hunter Biden dan berujung pada pemakzulan terhadapnya; kematian warga kulit hitam, George Floyd oleh kepolisian di Minneapolis dan memicu gelombang protes; penanganan pandemi coronavirus baru (Covid-19); hingga keputusan AS keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam masa kampanye ini, Trump menghadapi peristiwa yang mengejutkan. Kampanye politiknya di Tulsa, Oklahoma, pada medio Juni, sepi penonton lantaran digembosi fans K-pop. Kegiatan hanya dihadiri 6.200 orang dari klaim sejuta tiket terjual. Tak ayal, Trump belakangan mencopot Brad Parscale sebagai manajer tim suksesnya.

Sementara itu, perjalanan Biden menjadi AS-1 justru cenderung lebih mulus. Apalagi, setelah Bernie Sander mundur dari bursa pencalonan dan mengalihkan dukungannya. Manuver politik Trump melalui Hunter Biden pun gagal dan menjadi bumerang.

Biden dielu-elukan di Twitter

Dinamika Pilpres AS 2020 antara Biden kontra Trump pun menjadi sorotan di sejumlah media daring (online) arus utama. Berdasarkan pantauan Indonesia Indicator (I2), dalam semester I 2020, mulai 1 Januari - 30 Juni 2020, pemberitaan terkait Trump mencapai 270.142 artikel di 1.763 portal. Jumlah ini unggul dibandingkan Biden yang diberitakan dengan 62.833 artikel pada 943 media. 

Pada rentang waktu yang sama, kicauan netizen tentang Trump juga jauh lebih besar dibandingkan Biden. Ekspos terhadap petahana sebesar 1.449.862 cuitan, sementara penantang cuma 212.952 cuitan.

Dari sisi sentimen di media online, keduanya hanya beda tipis meskipun sentimen negatif Trump lebih besar ketimbang Biden. Sebesar 48% dari total artikel tentang Trump adalah negatif, disusul netral 29%, dan 23% positif. Adapun pemberitaan positif mengenai Biden mencapai 23%, lalu 35% netral, dan 42% negatif.

Citra keduanya terlihat kontras di media sosial Twitter. Biden jauh lebih dielu-elukan dibandingkan Trump di platform ‘Burung Biru”.

Sentimen positif terkait Biden juga jauh lebih tinggi dengan 64%, sentimen negatif 21%, dan netral 15%. Sementara sentimen positif dalam percakapan tentang  Trump hanya sebesar 23%, sentimen negatif 58%, dan netral 19%. 

Keterpurukan Trump tidak terlepas dari semakin tidak terkendalinya wabah Covid-19 di AS. Terlihat dari pemberitaan di media online menyangkut Trump yang didominasi oleh isu penanganan pandemi (97.882 artikel). Sementara untuk Biden, isu pemilihan Pilpres AS (35.918 artikel) lebih mendominasi dibandingkan empat masalah lain.

Hal serupa juga terjadi di Twitter. Trump paling banyak diperbincangkan netizen mengenai penanganan Covid-19, sebanyak 225.114 kicauan. Sedangkan cuitan terkait Biden paling banyak terkait Pilpres AS (31.227 kicauan).

Isu media mainstream lain terkait Trump adalah Pilpres AS (62.329 artikel), peristiwa George Floyd dan masalah rasial (41.107 artikel), keamanan nasional (34.042 artikel), serta perseteruan dengan China (23.222 artikel).

Sementara itu, pemberitaan menyangkut Biden juga membahas peristiwa George Floyd dan masalah rasial (11.515 artikel), penanganan Covid-19 (6.708 artikel), keamanan nasional (5.455 artikel), serta perang dagang AS-China (1.165 artikel).

Anomali Media

Terdapat anomali pemberitaan media dalam kontestasi Trump dan Biden. The New York Times paling banyak memberitakan tentang Trump dengan 5.621 artikel, disusul The Daily News (4.964 artikel), Breitbart (4.513 artikel), SRN News (4.071 artikel), Reuters (3.636 artikel), Local News 8 (3.181 artikel), News Week (2.758 artikel), Raw Story (2.697 artikel), OAN (2.322 artikel), dan News Max (2.217). 

Banyaknya pemberitaan oleh The New York Times bertolak belakang karena media ini dikenal memiliki afiliasi politik liberal, sedangkan Trump seorang politikus dari partai konservatif.

Anomali serupa juga terjadi dalam pemberitaan Biden. Ia mendapatkan coverage media terbesar justru dari Fox News, dengan 2.679 artikel. Fox News merupakan portal dengan afilitasi konservatif, sedangkan Wakil Presiden ke-47 AS itu adalah politikus Partai Demokrat. 

Media lain yang banyak memuat artikel terkait Biden adalah The New York Times (2.220 artikel), Washington Examiner (2.009 artikel), Breitbart (1.959 artikel), The Daily News (1.660 artikel), SRN News (1.381 artikel), Local News 8 (1.129 artikel), News Week (1.051 artikel), Bozeman Daily Chronicle (955 artikel), dan Red State (822 artikel).

Sebaran berita Trump cenderung merata dan dominan di seluruh negara bagian dibandingkan rivalnya. Trump dan Biden paling banyak diberitakan di Washington DC, masing-masing dengan 67.900 artikel dan 15.012 artikel. 

Kemudian pemberitaan Trump di New York sebanyak 39.995 artikel, sedangkan Biden 10.538 artikel. Wilayah Minneapolis juga lebih banyak pemberitaan terkait Trump (13.717 artikel), dibandingkan Biden (4.382 artikel). 

Intensnya pemberitaan di Minneapolis terkait isu meninggalnya George Floyd. Isu tersebut dimanfaatkan Biden untuk mengkritik kepolisian atas tewasnya warga kulit hitam itu, sehingga memicu munculnya gelombang aksi #BlackLivesMatter. 

Demikian juga dengan Los Angeles, di mana pemberitaan terkait Trump lebih banyak (8.977 artikel), ketimbang Biden (2.651 artikel).

Trump juga banyak diberitakan di Chicago (6.163 artikel), Atlanta (5.081 artikel), San Fransisco (4.731 artikel), Las Vegas (4.347 artikel), Detroit (4.292 artikel), dan Houston (4.031 artikel).

Sementara Biden tampak banyak diberitakan di Las Vegas (2.488 artikel), Houston (1.886 artikel), Atlanta (1.831 artikel), Philadelphia (1.780 artikel), Detroit (1.601 artikel), dan Chicago (1.576 artikel).

Loading...
Loading...