Kembalinya Liga Indonesia

Setelah melalui proses panjang, Liga Indonesia akhirnya diperkenankan bergulir di tengah pandemi COVID-19. Kini bernama BRI Liga 1.

Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menyatakan izin tersebut dikeluarkan berdasarkan hasil asesmen dan evaluasi. Namun demikian, sejumlah syarat diberlakukan guna meminimalkan risiko penularan COVID-19.

Salah satu ketentuan yang diberlakukan Polri adalah pemain dan ofisial harus sudah divaksin dosis lengkap. Kemudian, dilakukan pemeriksaaan PCR pada H-1 pertandingan untuk memastikan pemain dan ofisial negatif COVID-19.

Selain itu, jumlah ofisial dibatasi dan pertandingan digelar tanpa penonton. Seluruh pihak yang terlibat juga diharuskan kembali melakukan tes PCR atau antigen usai pertandingan. Lalu, dipasang aplikasi PeduliLindungi di setiap lapangan penyelenggara pertandingan.

Masyarakat pun dilarang menggelar nonton bareng (nobar) lantaran berpotensi terjadi penularan dan menimbulkan klaster baru COVID-19.

Keputusan Polri tersebut lantas direspons warganet. Pantauan Indonesia Indicator (I2), terdapat 55.079 unggahan netizen dalam negeri tentang BRI Liga 1. Jumlah percakapan itu berdasarkan data agregat di semua media sosial sepanjang Agustus 2021.

Frekuensi pembicaraan naik-turun. Puncak ekspos terjadi pada 24 Agustus menyusul kepastian bergulirnya BRI Liga 1 setelah mengantongi izin Polri. Pada tanggal itu, netizen juga mengomentari rilis jadwal pertandingan, yang akan diawali dengan laga antara Bali United kontra Persik Kediri.

Bergulirnya BRI Liga 1 direspons positif netizen. Ini tecermin dari berbagai emosi yang menyertai setiap unggahan netizen.

Emosi anticipation (antisipasi), yang berisi harapan agar BRI Liga 1 segera dimulai dan tidak diundur lagi, paling tinggi dengan 33% dari total 55.079 unggahan. Berikutnya emosi trust atau percaya (31%), yang berkaitan dengan dukungan netizen kepada tim favorit masing-masing.

Selanjutnya emosi joy (13%) karena netizen senang dan bahagia dengan kepastian bergulirnya BRI Liga 1. Kemudian, emosi disgust (8%), surprise (7%), sadness (4%), anger (3%), dan fear (1%).

Unggahan pesohor sekaligus pemilik klub AHHA PS Pati FC, Atta Halilintar, melalui akun Instagram @attahalilintar menjadi yang terbanyak mendapat respons netizen, yakni dengan skor engagement mencapai 72.355,6. Dalam unggahannya, Atta mempromosikan timnya dan berharap doa netizen agar timnya kelak dapat berlaga di BRI Liga 1.

Top engagement kedua ditempati akun Instagram @persib melalui unggahan tentang nomor punggung yang dipilih pemain anyar mereka, Marc Klok. Unggahan itu memperoleh skor engagement sebanyak 58.782,4.

Berikutnya, unggahan akun Instagram @pssi tentang keputusan menggelar kompetisi 2021-2022 di tengah pandemi dengan skor engagement 50.374.

Lalu disusul unggahan akun Instagram @aremafcofficial mengenai kunjungan pebulu tangkis asal Iran, Samin Khojasteh, ke kandang "Singo Edan" (skor engagement 46.602) dan video singkat akun TikTok @inforansfc tentang banyolan RANS Cilegon FC, klub milik selebritas Raffi Ahmad, yang tidak membeli megabintang asal Argentina, Lionel Messi (skor engagement 41.916,4).

Sebagai informasi, Messi akhirnya berlabuh ke klub Ibu Kota Prancis, PSG, setelah gagal menemui titik temu untuk memperpanjang kontraknya di FC Barcelona. 

Klub Terpopuler

Pantauan I2 sepanjang Agustus 2021 mencatat, Persib Bandung menjadi klub terpopuler karena paling banyak disebut (mention) netizen, yakni sebanyak 14.480 unggahan. Netizen membahas laga perdana Persib di Liga 1, peluncuran jersey baru Persib, hingga komentar coach Robert Rene Alberts yang tidak sabar dengan segera dimulainya kompetisi.

Musuh bebuyutan "Maung Bandung", Persija Jakarta, berada di posisi kedua dengan 12.805 unggahan. Topik yang dibahas netizen tentang tim kebanggaan Ibu Kota ini meliputi persiapan klub menghadapi kompetisi, video latihan tim, pertandingan uji coba, dan lain-lain.

Klub terpopuler lainnya adalah Persebaya Surabaya (5.835 unggahan), Bali United (3.175 unggahan), Persipura Jayapura (2.519 unggahan), Persik Kediri (2.215 unggahan), Arema FC (2.164 unggahan), Persita Tangerang (1.497 unggahan), PSS Sleman (1.400 unggahan), dan Persela Lamongan (1.199 unggahan).

Kemudian, Bhayangkara FC (1.153 unggahan), PSM Makassar (1.032 unggahan), Persiraja Banda Aceh (803 unggahan), Madura United (666 unggahan), Borneo FC (416 unggahan), PSIS Semarang (389 unggahan), Tira Persikabo (302 unggahan), dan juru kunci ditempati Barito Putera (247 unggahan).

Tingginya atensi netizen terhadap Persib Bandung punya korelasi dengan banyaknya percakapan yang disertai tagar #Persib. Tagar itu dipakai dalam 4.120 unggahan yang kebanyakan berisi respons netizen terhadap kabar terbaru dari tim Persib menjelang laga perdana BRI Liga 1.

Tagar #Liga1 juga cukup banyak dipakai netizen, yakni dalam 2.867 unggahan. Isi unggahannya kebanyakan mengenai antusiasme netizen menyambut bergulirnya kompetisi sepak bola nomor satu di Indonesia itu.

Dua tagar klub sepak bola yang juga banyak dipakai netizen adalah #Persebaya dan #Persija, masing-masing sebanyak 2.788 dan 2.477 unggahan. Adapun tagar terpopuler lainnya yang berkembang di media sosial soal BRI Liga 1 adalah #Sepakbola (2.219 unggahan), #Bola (1.875 unggahan), dan #LigaIndonesia (1.436 unggahan).


Merek Vaksin COVID-19 Paling Populer di Tanah Air

Setidaknya ada enam merek vaksin COVID-19 yang dipakai di Indonesia, yakni Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Sinopharm, dan Novavax. Di luar itu, ada dua merek lain, yakni Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara yang sedang dikembangkan anak bangsa.

Berbagai vaksin itu terus menghiasi pemberitaan media online sejak program vaksinasi nasional diluncurkan pada Januari 2021. Riset Indonesia Indicator (I2) mencatat, ada 872.711 berita di media online dalam negeri mengenai vaksin COVID-19 pada Januari-Agustus 2021.

Pada Januari, tercatat ada 127.009 berita tentang vaksin COVID-19. Kebanyakan berita berkaitan dengan dimulainya program vaksinasi nasional. Setelahnya, ekspos berita fluktuatif. Ada 80.407 berita pada Februari, Maret dengan 113.587 berita, April sebanyak 68.662 berita, Mei dengan 58.143 berita, dan Juni sebanyak 111.549 berita.

Puncak ekspos terjadi pada Juli dengan 174.769 berita. Banyaknya berita pada bulan ini berkaitan dengan masifnya penyuntikan vaksin untuk masyarakat umum, kelompok rentan, remaja, hingga pelajar. Namun pada Agustus, ekspos tentang vaksin COVID-19 cenderung menurun, yakni 138.585 berita.

Sinovac Mendominasi Pemberitaan

Riset I2 juga memperlihatkan tingkat popularitas merek vaksin COVID-19 di media online dalam negeri sepanjang Januari-Agustus 2021. Sinovac menjadi merek vaksin yang paling banyak ditulis media online, yakni sebanyak 126.635 berita. Salah satunya karena Sinovac merupakan vaksin pertama yang dipakai dalam program vaksinasi nasional.

Vaksin AstraZeneca ada di peringkat kedua dengan 58.717 berita. Pemberitaan yang cukup banyak soal AstraZeneca antara lain mengenai polemik halal-haram vaksin itu. Di posisi tiga dan empat, ada Pfizer dan Moderna, masing-masing sebanyak 38.066 dan 29.124 berita. Media cukup banyak menulis soal efikasi dua merek vaksin itu.

Riset I2 menunjukkan, Pfizer banyak mendapat atensi media online pada Juli dan Agustus. Sementara berita soal Moderna cenderung menguat tiga bulan terakhir (Juni-Agustus), menyusul penyuntikannya untuk tenaga kesehatan sebagai vaksin dosis ketiga (booster), ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki komorbid serta belum pernah mendapatkan vaksin.

Peringkat lima dan enam ditempati Sinopharm sebanyak 18.905 berita dan Novavax dengan 6.882 berita. Vaksin Merah Putih berada di posisi tujuh dengan 6.791 berita dan Vaksin Nusantara ada di posisi delapan dengan 6.502 berita.

Republika Jadi Top Media Share

Pada periode Januari-Agustus 2021, I2 mencatat total ada 3.229 media online dalam negeri yang memberitakan vaksin COVID-19. Republika paling banyak memberitakan vaksin COVID-19 (13.585 berita). Disusul Kompas.com (12.903 berita), Medcom.id (11.870 berita), Detik.com (11.738 berita), Antara (11.722 berita), Suara.com (11.547 berita), Tribun News (9.985 berita), Bisnis Indonesia (9.196 berita), Sindo News (9.062 berita), dan Liputan 6 (8.833 berita).

Pantauan I2, sentimen positif mendominasi pemberitaan media tentang vaksin COVID-19, yakni sebanyak 435.834 berita (48%). Narasi bersentimen positif banyak muncul dari berita mengenai pelaksanaan vaksinasi di sejumlah daerah, kedatangan sejumlah merek vaksin ke Tanah Air, serta manfaat vaksin.

Sementara sentimen negatif sebanyak 167.783 berita (19%). Sentimen ini berkaitan dengan hoaks soal vaksin, narasi antivaksin, polemik haram-halal vaksin, dan sebagainya. Adapun 292.943 berita (33%) menulis vaksin COVID-19 secara netral, di antaranya mengenai efikasi vaksin dan update jumlah masyarakat yang telah divaksin.

Gema Perbincangan Netizen

Di media sosial, perbincangan tentang vaksin COVID-19 cukup banyak. Riset I2 mencatat, ada 4.906.778 unggahan netizen dalam negeri mengenai vaksin COVID-19. Jumlah unggahan itu berdasarkan data agregat media sosial sepanjang Januari-Agustus 2021. 

Perbincangan mengenai vaksin COVID-19 juga fluktuatif di media sosial. Sebanyak 761.261 unggahan tercatat pada Januari. Angka itu turun menjadi 407.125 unggahan pada Februari, kemudian naik menjadi 681.329 unggahan pada Maret dan 833.066 unggahan pada April.

Perbicangan netizen menurun pada Mei dengan 166.844 unggahan, lalu naik menjadi 533.253 unggahan pada Juni. Puncak perbincangan terjadi pada Juli dengan 1.134.961 unggahan, lantaran netizen banyak memberi perhatian terhadap rencana penggunaan vaksin Pfizer dan Moderna dalam program vaksinasi nasional serta penyuntikan vaksin bagi pelajar di sejumlah daerah. Adapun perbincangan pada Agustus sebanyak 388.939 unggahan.

AstraZeneca dan Sinovac menjadi dua merek vaksin yang paling sering dibicarakan netizen, masing-masing sebanyak 810.271 dan 808.170 unggahan. Netizen banyak membagikan pengalamannya ketika divaksin AstraZeneca dan Sinovac. Selain itu, kabar AstraZeneca haram juga sempat menjadi perdebatan netizen.

Di bawah dua vaksin itu, ada Pfizer (671.693 unggahan). Disusul Moderna (327.926 unggahan), Sinopharm (206.852 unggahan), Vaksin Nusantara (76.230 unggahan), Vaksin Merah Putih (28.772 unggahan), dan Novavax dengan 24.166 unggahan.

Sejumlah emosi netizen terbentuk dalam perbincangan mengenai vaksin COVID-19. Emosi antisipasi (anticipation) tercatat paling banyak, yakni 820.810 unggahan (41%). Emosi ini muncul dalam unggahan netizen yang berharap segera divaksin. 

Adapun emosi percaya atau trust sebanyak 437.723 unggahan (22%) dan muncul dalam unggahan netizen yang membagikan pengalamannya saat divaksin. Sementara emosi muak (disgust) sebanyak 15%, yang kebanyakan berisi respons netizen terhadap hoaks soal vaksin COVID-19.

Percepatan Vaksinasi untuk Herd Immunity

Pemerintah tengah menggencarkan program vaksinasi COVID-19 guna menanggulangi pandemi. Program itu beriringan dengan kampanye protokol kesehatan (prokes) dan pembatasan aktivitas publik lewat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sebanyak 208,2 juta warga Indonesia menjadi target vaksinasi untuk menciptakan kekebalan komunal (herd immunity).

Sejak program vaksinasi COVID-19 pertama kali digulirkan pada 13 Januari 2021, yang ditandai dengan penyuntikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah terus meningkatkan target vaksinasi harian. Pada Juli 2021, pemerintah memasang target 1 juta dosis vaksin disuntikkan per hari. Target itu naik dua kali lipat pada Agustus 2021.

Agar pelaksanaan program kian masif, pemerintah akhirnya membuka akses kepada masyarakat hingga organisasi kemasyarakatan (ormas) dan partai politik untuk menyelenggarakan vaksinasi. Sasaran penerima vaksin juga diperluas seiring kian beragamnya vaksin yang diterima Indonesia. Sekarang, pelajar berusia 12 tahun dan di atasnya, komorbid dengan syarat tertentu, serta ibu hamil sudah diperkenankan ikut vaksinasi. Adapun sasaran vaksinasi secara umum dibagi menjadi lima kelompok, yakni tenaga kesehatan (nakes), petugas publik, lanjut usia (lansia), masyarakat umum dan rentan, serta remaja dan pelajar.

Pemerintah juga memutuskan menggunakan enam merek vaksin, yaitu Sinovac baik yang diproduksi pabrik asal atau yang diolah PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, Sinopharm, Moderna, dan Novavax. Berbagai vaksin tersebut diperoleh dengan skema membeli langsung kepada produsen hingga skema COVAX Facility bersama GAVI dan World Health Organization (WHO) atau donasi negara-negara sahabat.

Berbagai kebijakan tersebut dibuat guna merealisasikan target vaksinasi rampung pada akhir 2021. Lantas, bagaimana capaiannya setelah nyaris 8 bulan berjalan?

Realisasi Vaksinasi

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 23 Agustus pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 58.468.810 orang sudah menerima dosis pertama atau 28,07% dari target 208,2 juta warga. Sementara yang mendapat dosis kedua sebanyak 32.640.998 orang atau 15,67% dari target. 

Berdasarkan kelompoknya, cakupan vaksinasi kepada nakes telah melampaui target 1.468.764 orang. Sebanyak 1.631.900 nakes telah divaksin dosis pertama (111,11% dari target) dan dosis kedua diberikan kepada 1.513.144 orang (103,02%).

Lebih dari 500 ribu nakes juga telah menerima dosis ketiga (booster). Dosis ketiga kepada sumber daya manusia (SDM) kesehatan itu menggunakan vaksin Moderna dan diberikan lantaran kelompok tersebut paling berisiko mengingat mereka bersentuhan langsung dengan pasien COVID-19.

Realisasi vaksinasi petugas publik pun melampaui target yang dicanangkan, yakni sebanyak 17.327.167 penerima. Sebanyak 29.509.313 petugas publik sudah mendapatkan dosis pertama (170,31%) dan sebanyak 17.862.974 di antaranya telah menerima dosis lengkap (103,09%).

Capaian vaksinasi untuk nakes dan petugas publik yang sudah melebihi target belum diikuti tiga kelompok lainnya, yakni lansia, masyarakat umum dan rentan, serta remaja dan pelajar. Vaksinasi dosis pertama untuk lansia baru dilakukan kepada 5.146.851 orang dari target 21.553.118 penerima. Sementara dosis kedua baru diberikan kepada 3.631.663 jiwa.

Untuk masyarakat umum dan rentan, dosis pertama baru diberikan kepada 18.969.614 orang dari target 141.211.181 penerima. Sedangkan dosis kedua mencapai 7.881.683 orang. Adapun kelompok remaja dan pelajar yang sudah menerima vaksin dosis pertama sebanyak 2.474.313 orang dari target 26.705.490 jiwa. Sementara dosis kedua baru diberikan kepada 1.345.537 orang.

Berdasarkan provinsi, cakupan vaksinasi dosis pertama di DKI Jakarta menjadi yang paling tinggi dengan 9.631.981 orang. Disusul Jawa Timur (8.949.456 orang), Jawa Barat (8.522.972 orang), Jawa Tengah (6.603.677 orang), Bali (3.141.845 orang), Banten (2.543.351 orang), Sumatera Utara (2.313.656 orang), Sulawesi Selatan (1.625.032 orang), Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY (1.457.178 orang), dan Kepulauan Riau (1.168.951 orang).

Tapi urutan 10 provinsi dengan vaksinasi dosis pertama paling tinggi itu berubah jika ditinjau dari target vaksinasi dosis pertama yang dipasang setiap provinsi berdasarkan populasi di daerah masing-masing. DKI Jakarta menempati urutan pertama dengan capaian 114,7% dari target vaksinasi dosis pertama. Lalu ada Bali (92,27%), Kepulauan Riau (73,94%), DIY (50,6%), Sulawesi Utara (37,92%), Jambi (28,86%), Jawa Timur (28,12%), Banten (27,56%), Kalimantan Tengah (24,87%), dan Gorontalo (23,61%).

Untuk provinsi dengan cakupan vaksinasi dosis kedua paling banyak, DKI Jakarta juga menjadi juaranya dengan 5.190.901 orang. Berikutnya ada Jawa Timur (5.002.803 orang), Jawa Barat (4.554.537 orang), Jawa Tengah (3.942.996 orang), Bali (1.659.716 orang), Sumatera Utara (1.442.550 orang), Banten (1.337.138 orang), Sulawesi Selatan (989.775 orang), Sumatera Selatan (743.293 orang), dan DIY (618.254 orang).

Daftar 10 besar provinsi dengan vaksinasi dosis kedua paling tinggi itu juga berubah jika ditinjau dari target vaksinasi dosis kedua di masing-masing provinsi. Ibu Kota masih tetap tertinggi dengan 61,83% dari target vaksinasi dosis kedua, lalu Bali (48,74%), Kepulauan Riau (28,23%), DIY (21,47%), Jambi (16,27%), Kalimantan Tengah (15,81%), Jawa Timur (15,72%), Kalimantan Timur (15,34%), Sulawesi Utara (15,11%), dan Kepulauan Bangka Belitung (14,92%).

Sejumlah provinsi di Jawa memang telah banyak melakukan vaksinasi COVID-19 kepada warganya. Tetapi secara persentase target masih terbilang kecil karena besarnya populasi di pulau terpadat di Indonesia itu. Di sisi lain, tingginya capaian target vaksinasi di Pulau Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera menunjukkan pelaksanaan program vaksinasi sejauh ini cukup merata.

Kuasa Taliban dalam Sorotan Media Nasional

Aksi kelompok Taliban mengepung dan menguasai kota-kota di Afghanistan menyita atensi luar biasa media online di tanah air. Riset Indonesia Indicator (I2) pada rentang 10 hingga 16 Agustus 2021 mencatat ada 4.067 berita media online menyoroti gejolak politik di negara tersebut. 

Pantauan I2, sedari 10 Agustus, jumlah ekspose pemberitaan tentang aksi Taliban menguasai ibu kota Kabul hingga menduduki istana kepresidenan tersebut tercatat sebanyak 167 berita. Sorotan media terhadap dinamika politik di negara tersebut terus meningkat sebanyak 427 pada 13 Agustus. Meski sempat turun 359 berita pada 14 Agustus, namun ledakan atensi media pada manuver kelompok Taliban kembali naik pesat dan mencapai puncaknya pada tanggal 16 Agustus 2021 dengan 2.047 berita. 

Enam Isu Utama 

Pada periode tersebut, I2 mencatat enam isu utama pemberitaan media tentang ketegangan di negara tersebut. Pertama, isu evakuasi warga dari Afganistan sebanyak 1.496 berita. Isu ini paling banyak diberitakan media setelah terjadi eksodus besar-besaran, termasuk kebijakan sejumlah negara asing untuk mengevakuasi penduduknya dari Afghanistan. Isu kedua yang banyak disorot media adalah kaburnya Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sebanyak 979 berita. Ia kabur dari negaranya setelah Taliban mengepung Kabul. 

Isu ketiga adalah keputusan Amerika Serikat (AS) menarik pasukan dari Afghanistan sebanyak 622 berita. Isu ini ramai diangkat media online setelah muncul kritik terhadap kebijakan Presiden AS Joe Biden yang menarik pasukan dari Afghanistan. Isu ini semakin heboh pascamantan Presiden AS, Donald Trump meminta Biden mundur atas keputusan menarik pasukan dari Afghanistan. 

Isu keempat adalah pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi perempuan dan anak-anak sebanyak 368 berita. Isu kelima adalah China yang siap menjalin kerja sama dengan pemerintah Taliban, terekam dalam 295 berita. Isu ini mencuat setelah juru bicara pemerintah China, Senin (16/08/2021), mengatakan bahwa negaranya siap memperdalam hubungan "bersahabat dan kooperatif" dengan Afghanistan. 

Terakhir, isu nasib Pengungsi Afghanistan sebanyak 248 berita. Isu ini ramai diangkat media online menyusul permintaan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Senin (16/8), kepada semua negara untuk bersedia menerima para pengungsi asal Afghanistan. 

Ashraf Ghani Top Person 

Aksi kelompok Taliban pada periode tersebut juga memunculkan 10 figur terpopuler yang banyak disorot media, baik dari sisi sikap, kebijakan dan pernyataan mereka. Figur top person pertama adalah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sebanyak 1.676 berita, terutama saat meninggalkan Kabul. Top person kedua adalah Presiden AS Joe Biden sebanyak 805 berita terkait jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban. Biden enggan disalahkan dan menyebut administrasi Presiden Afghanistan terlalu mudah menyerah. 

Di posisi ketiga ada Donald Trump, sebanyak 257 berita. Mantan Presiden AS ini mengkritisi kebijakan Joe Biden yang menarik pasukan AS dari Afghanistan. Kebijakan ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama jatuhnya Kabul ke pihak Taliban. Sementara Jubir Taliban, Zabihullah Mujahid di posisi keempat sebanyak 216 berita. Media banyak mengutip janji bahwa tidak akan ada pertempuran saat pasukannya memasuki Ibu Kota Afghanistan. 

Kemudian, top person kelima adalah Ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Afghanistan Abdullah (208 berita), Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken (201 berita), Jubir Taliban Mohammad Naeem (183 berita), Jubir Taliban lainnya Suhail Shaheen (172 berita), Jubir Pentagon John Kirby (170 berita), dan terakhir Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace (140 berita). 

Media Apa Saja? 

Indonesia Indicator mencatat total ada 401 portal media online dalam negeri yang memberitakan penguasaan Afghanistan oleh kelompok Taliban dalam kurun waktu 10 hingga 16 Agustus 2021. Portal media online Republika menjadi yang paling sering memberitakan isu ini dengan 120 berita.

Disusul Detik.com (100 berita), Sindo News (96 berita), Kompas.com (90 berita), Tribun News (77 berita), Tempo.co (74 berita), Warta Ekonomi (67 berita, CNN Indonesia (67 berita), Medcom.id (65 berita, dan Suara.com (59 berita).

 

Loading...
Loading...