Squid Game yang Menjadi "Buah Bibir"

Serial Korea Squid Game menjadi "buah bibir" masyarakat global, termasuk di Indonesia, tak lama setelah ditayangkan penyedia layanan media aliran (streaming) digital, Netflix, pada 17 September 2021.

Serial yang dibintangi oleh Lee Jung Jae hingga Park Hae Soo ini bercerita tentang permainan bertahan hidup (survival game) dengan total 456 peserta. Pemenang akan mendapatkan hadiah hingga 45,6 juta won atau setara Rp549 miliar (kurs Rp12,06).

Media sosial Indonesia juga ramai membahas serial bergenre action drama itu. Berdasarkan data yang dihimpun Indonesia Indicator (I2) pada 21 September-4 Oktober 2021, terdapat 37.488 percakapan oleh 30.065 akun yang membahas Squid Game.

Pada 21-23 September masing-masing hanya terdapat 1.305 unggahan, 1.466 unggahan, dan 1.384 unggahan konten. Kiriman melonjak signifikan hingga 6.000 unggahan pada 27 September, yang umumnya berisi tentang urgensi perencanaan keuangan agar tak terjebak utang seperti para pemain Squid Game.

Capaian tersebut menjadi rekor harian tertinggi disusul 5.237 unggahan pada 1 Oktober dan 5.639 unggahan pada 3 Oktober. Sedangkan hari-hari lainnya hanya 2.869 unggahan (28 September), 818 unggahan (29 September), 2.371 unggahan (30 September), 3.701 unggahan (2 Oktober), dan 1.137 unggahan (4 Oktober).

Beberapa isu juga dikaitkan netizen saat membahas drama tersebut selain perencanaan keuangan. Misalnya, teori hingga adanya bangunan Squid Game di game simulator Sakura School.  

Sementara itu, emosi netizen saat membahas Squid juga beragam. Namun, didominasi jengah (disgust) sebesar 39%.

Disgust ini muncul karena netizen mengkritisi boneka yang ada di dalam serial dan dinilai menyeramkan. Emosi tersebut juga terlihat dari unggahan terkait salah satu adegan di dalam film yang menampilkan nomor telepon aktif, sehingga mengakibatkan Netflix terancam terkena denda.

Hal tersebut terlihat dalam unggahan akun TikTok @idxchannel. Di dalam kirimannya, akun tersebut menuliskan, "Drakor Squid Game Terancam Bayar Denda Rp606 juta!"

Berikutnya emosi percaya (trust) sebesar 22%, berasal dari netizen yang menikmati keseruan serial tersebut. Emosi ini juga terasosiasi dengan keyakinan netizen atas pentingnya perencanaan keuangan yang baik guna menghindari lilitan utang.

Salah satu kiriman yang menunjukkan emosi tersebut adalah dari akun TikTok @youngontop milik komunitas pemuda. Unggahan tersebut menyampaikan, "Bertebaran teori Squid Game. Kalau aku mau share hikmah yang bisa kita petik dari Squid Game."

Emosi selanjutnya adalah antisipasi (anticipation) sebesar 15%, disusul kejutan (surprise) sebesar 10%, takut (fear) dan marah (anger) masing-masing sebesar 4%, serta senang (joy) dan kesedihan (sadness) masing-masing sebesar 3%.

Netizen yang membahas Squid Game di media sosial didominasi milenial rentang usia 22-30 tahun sebesar 39% dan pria 69%. Adapun selanjutnya 36% netizen usia 31-40 tahun, 11% netizen usia 18-21 tahun, serta masing-masing 7% netizen kategori di bawah 18 tahun dan usia 41-55 tahun.


Debat Sengit Soal Childfree

Keputusan YouTuber Gita Savitri bersama suaminya Paul Andre untuk tidak mau punya anak atau childfree menuai polemik di jagat Twitter. Alasan Gita yang menyebutkan bahwa punya anak atau tidak merupakan pilihan hidup, memicu pro-kontra di media sosial dengan ragam argumen dan emosi. 

Riset media sosial Indonesia Indicator (I2) pada periode 20 hingga 31 Agustus 2021 memantau ada 6.470 unggahan dari 4.372 akun Twitter turut memperbincangkan childfree. 

Dari sisi emosi, data agregat Twitter I2 mencatat cuitan netizen mayoritas mengandung emosi netral, sebanyak 47%. Emosi tersebut muncul karena netizen cenderung membebaskan pilihan untuk childfree ataupun tidak.

Sedangkan emosi disgust atau jengah sebanyak 11%, muncul dari unggahan saling debat mengenai kelebihan dan kekurangan antara childfree dengan hidup punya anak. Muncul pula emosi trust atau percaya sebanyak 8%, anticipation atau antisipasi 8%, dan emosi anger atau marah sebanyak 8%. 

Dalam perdebatan di dunia maya ini, netizen cenderung terbagi pada tiga kelompok, yakni yang netral, dan kelompok pro dan kontra. 

Mayoritas merupakan kelompok netizen netral sebanyak 2.960 cuitan (46%). Walaupun dalam data, cuitan bersentimen netral sebanyak 57%, namun netizen yang teridentifikasi dalam kelompok netral mengerucut menjadi 46%. Kelompok ini cenderung membebaskan publik atas pilihannya, dan meminta netizen lain tidak menghakimi sepihak (judgemental) atas pilihan atau keputusan individu terkait childfree

"Mau childfree atau punya anak, tentu bebas-bebas aja. Yang agak nyebelin itu narasi yang biasanya dipakai untuk membenarkan posisi masing2," cuit @wildwestraven pada 21 Agustus.

Kelompok kedua terbanyak adalah kelompok yang menolak childfree sebanyak 2.119 cuitan (34%). Narasi yang banyak dikemukakan kelompok ini adalah mengkritik wacana childfree dengan argumentasi dari sudut pandang agama, khususnya Islam. Kelompok ini menuding gagasan tersebut sebagai kampanye yang bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, ada netizen yang menuding childfree sebagai agenda kelompok Syiah dan kelompok liberal. 

"Btw kampanye "Childfree" itu agenda orang2 Syiah di Indonesia," bunyi cuitan @LordCondet pada 28 Agustus.

Sedangkan kelompok pendukung konsep childfree jumlahnya paling kecil, sebanyak 1.391 cuitan (20%). Kelompok ini melihat childfree sebagai gagasan rasional di tengah kondisi dunia yang kelebihan populasi.

Childfree itu pilihan hidup pribadi seseorang, yang pastinya udah dipikirin secara mateng2 dan rasional di tengah kondisi dunia yang kelebihan populasi (overpopulated),” tulis pemilik @mnadielmadani7 pada 30 Agustus.

Tiga Akun Populer 

Pada rentang 20 hingga 31 Agustus tersebut, Indonesia Indicator mendapati tiga akun Twitter terpopuler yakni @wildwestraven, @cilorconnoistre, dan @fxmario. 

Ketiganya paling banyak direspons netizen, masing-masing sebanyak 1.558 engagement, 1.243 engagement, dan 627 engagement

Disusul akun @LordCondet (509 engagement), @malakmalakmal (411 engagement), @uncleminho (383 engagement), @lilaccountz (381 engagement), @AREAJULID (327 engagement), @vierda (162 engagement) dan akun @sendagurah (129 engagement). 

Dari sisi jenis aktivitas, netizen cenderung me-retweet cuitan yang mereka anggap benar atau disetujui. Tidak sedikit pula netizen yang me-mention langsung akun-akun influencer untuk meminta respons atau komentar mengenai fenomena childfree. Bila dirinci, ada lima jenis aktivitas netizen dalam merespons isu ini, yakni retweet (60%), mention (28%), reply (6%), quoted (5%), dan hashtag (1%).

Waspada Varian Mu Masuk Indonesia

Munculnya varian baru Covid-19, Mu, ramai diberitakan media online nasional. Meski dianggap tak seganas varian Delta, atensi media terhadap virus dengan nama ilmiah B.1.621 itu cukup tinggi. Riset Indonesia Indicator (I2) pada rentang waktu 1-16 September 2021 mencatat ada 2.960 berita media online dalam negeri yang mengangkat varian Mu dalam berbagai isu.

Pada 1 September 2021, tercatat ada 99 berita media online mengenai virus yang pertama kali ditemukan di Kolombia itu. Setelahnya, ekspos pemberitaan bergerak fluktuatif hingga pertengahan September.

Puncak ekspos terjadi pada 7 September dengan 510 berita. Pada tanggal itu, media banyak memberitakan arahan Presiden Jokowi agar jajarannya mewaspadai penyebaran varian Mu dengan meningkatkan pengawasan pintu masuk Indonesia.

I2 memetakan lima isu utama mengenai varian Mu yang diangkat media online selama periode riset. Pertama, pengetatan pintu masuk Indonesia sebanyak 1.009 berita (40%). Salah satu alasan pengetatan itu adalah varian Mu telah menyebar di Malaysia.

Kedua, perpanjangan PPKM dengan 781 berita (31%). Media cukup banyak mengangkat imbauan Kementerian Perhubungan kepada masyarakat dan operator transportasi agar konsisten menerapkan protokol kesehatan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran varian Mu. 

Perbandingan varian Mu dan Delta menjadi isu ketiga yang banyak ditulis media (375 berita atau 15%). WHO menempatkan Mu sebagai variant of Interest (VoI), sedangkan Delta masuk kategori Variant of Concern (VoC). Risiko penyebaran Mu tergolong rendah dengan tingkat infeksi kurang dari 0,1% secara global. Sedangkan Delta punya kemampuan infeksi lebih ganas, mudah, dan cepat.

Isu keempat adalah gejala varian Mu, yakni sebanyak 220 berita (8%). Gejala varian itu disebut-sebut hampir sama dengan varian Covid-19 lainnya, yakni suhu tubuh tinggi, batuk terus-menerus, hingga kehilangan indra penciuman atau pengecap. 

Efikasi vaksin terhadap varian Mu menjadi isu kelima yang diangkat media dengan 155 berita (6%). Epidemiolog Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, menyebut varian Mu bisa menurunkan efikasi vaksin Covid-19. Sebab varian itu bisa beradaptasi dengan antibodi yang tercipta usai seseorang divaksin.

Siti Nadia Magnet Utama Media

Sorotan media terhadap varian Mu tak lepas dari para figur berpengaruh atau top influencer yang pernyataannya sering dikutip media. Figur-figur itu didominasi pejabat pemerintah pusat.

Pertama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi. Sebanyak 1.758 pernyataan Siti Nadia dikutip media pada 1-16 September 2021, terutama soal perkembangan varian Mu. Ia juga meminta publik tak perlu khawatir jika mutasi virus bisa mengurangi efikasi vaksin.

Posisi kedua top influencer ditempati Presiden Jokowi dengan 1.659 pernyataan. Ia banyak dikutip media soal arahannya kepada jajaran menteri agar mewaspadai penyebaran varian Mu.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjadi figur berikutnya yang banyak dikutip media dengan 1.285 pernyataan. Kemudian ada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (1.143 pernyataan), Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito (1.129 pernyataan), dan epidemiolog Dicky Budiman (819 pernyataan).

Berikutnya ada Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (634 pernyataan), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (630 pernyataan), Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra (429 pernyataan), dan Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati (401 pernyataan).

Riset I2 juga mencatat ada 590 media online dalam negeri yang memberitakan varian Mu pada 1-16 September 2021. Dari jumlah itu, sebanyak 10 media online terlihat sangat aktif menulis berita mengenai varian Mu. 

CNBC Indonesia menduduki peringkat pertama dengan 74 berita, disusul Detik.com (72 berita), Republika (64 berita), Suara.com (64 berita), dan Kompas.com (62 berita). Berikutnya ada Antara (57 berita), Tribun News (57 berita), Liputan 6 (56 berita), Bisnis Indonesia (50 berita), dan Tempo.co (45 berita).

 

 

 

 

 

 

Kebijakan PTM, Bagaimana Reaksi Media dan Netizen?

Sejumlah daerah akhirnya kembali memperkenankan pembelajaran tatap muka (PTM). Kebijakan itu diambil seiring menurunnya laju penularan COVID-19 di wilayahnya serta pelonggaran aktivitas di ruang publik oleh pemerintah pusat.

Pelaksanaan PTM pun sesuai dengan arahan pemerintah pusat kepada daerah yang wilayahnya masuk kategori Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1-3.

Salah satunya DKI Jakarta, yang merupakan daerah dengan kasus kumulatif tertinggi se-Indonesia. Pemerintah provinsi (pemprov) setempat mengizinkan PTM secara terbatas dilaksanakan di 610 sekolah dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Mengingat COVID-19 belum menjadi endemi, pemerintah tetap memberlakukan berbagai kriteria agar PTM terbatas dapat dilaksanakan selain kasus melandai, penyebaran SARS-CoV-2 di daerah terkendali, dan menerapkan prokes. Misalnya, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 dan persetujuan orang tua atau wali murid.

Upaya ini pun menjadi sorotan 1.978 media daring (online). Berdasarkan pantauan Indonesia Indicator (I2) rentang 28 Agustus-12 September, sebanyak 24.693 berita berisi tentang PTM dilaporkan berbagai media online.

Pemberitaan tentang PTM paling banyak dilaporkan Kompas.com (441 berita), selanjutnya Medcom.id (325 berita), Suara.com (314 berita), Republika.co.id (276 berita), Antara (271 berita), Sindonews.com (255 berita), Detik.com (240 berita), Inews.id (225 berita), MediaIndonesia.com (199 berita), dan Liputan6.com (184 berita).

Frekuensi pemberitaan tertinggi terjadi pada 30 Agustus dengan 2.929 berita yang diturunkan. Intensitasnya turun hingga tersisa 592 berita pada 12 September.

Terdapat beberapa isu yang berkelindan dalam pemberitaan tentang PTM terbatas. Contohnya, cakupan vaksinasi pelajar, menjadi tema yang paling banyak disoroti dengan 5.396 berita (24%). Media online umumnya memberitakan soal upaya pemerintah daerah (pemda) memvaksin siswa dan guru guna menyukseskan PTM.

Berikutnya tentang penerapan prokes dengan 5.017 berita (22%). Sekolah diharapkan dapat memastikan prokes dilakukan dengan tertib demi meminimalisasi risiko transmisi di lingkungannya.

Selanjutnya mengenai inspeksi mendadak (sidak) pelaksanaan PTM oleh beberapa kepala daerah sebanyak 4.542 berita (20%). Salah satu berita tentang isu ini adalah terkait langkah Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, yang mengecek ke sekolah dan menilai penerapan sistem sudah baik sehingga PTM dapat segera dilangsungkan.

Kemudian menyangkut syarat PTM dengan 3.306 berita (14%), evaluasi PTM 2.660 berita (12%), dan bantuan kuota internet 1.769 berita (8%). Jumlah pemberitaan enam isu tersebut mencapai 22.690 berita dari total 24.693 berita tentang PTM.

Meski PTM dilaksanakan di daerah, tetapi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menjadi figur yang paling diberitakan (top influencer) media online dengan 3.965 pernyataan. Pernyataannya yang dimuat umumnya soal penguatan dan urgensi vaksinasi serta pentingnya penerapan prokes dengan disiplin saat PTM.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi top influencer berikutnya dengan 3.855 pernyataan. Banyak media mengutipJokowi saat memberikan pengumuman tentang PTM yang akan dilaksanakan serentak per awal September. 

Nama kepala daerah baru berada di posisi ketiga yang ditempati Ganjar (2.162 pernyataan); disusul Mendikbudristek Nadiem Makarim (2.066 pernyataan); Wapres Ma'ruf Amin (1.650 pernyataan); Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa (1.587 pernyataan); Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (1.547 pernyataan); Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka (1.423 pernyataan); Gubernur Banten Wahidin Halim (1.128 pernyataan); serta Gubernur Jakarta Anies Baswedan (1.027 pernyataan). 

Penantian Netizen

Kebijakan PTM tak luput menjadi atensi netizen. Terdapat 83.069 percakapan netizen tentang isu ini di Twitter dalam periode sama, yang terbanyak terjadi pada 1 September dengan 14.058 percakapan dan banyak di antaranya mencuitkan soal pengalaman hari pertama PTM.

Respons netizen tentang kebijakan ini beragam. Namun, didominasi anticipation (antisipasi) sebesar 37% dari total percakapan. Emosi ini berisikan soal penantian atas PTM kembali dan dalam merespons unggahan akun pejabat negara ataupun pemda yang meminta persiapan dilakukan dengan mematuhi prokes.

Lalu trust (percaya) sebesar 15%. Emosi ini muncul dalam cuitan netizen yang mendorong percepatan vaksinasi lantaran memiliki peran penting dalam memastikan PTM berjalan aman.

Berikutnya joy atau senang (10%), mancuat dalam kicauan yang merasa senang dengan kebijakan PTM dan anger atau marah (9%) dalam cuitan yang merespons pembatalan PTM lantaran melanggar PTM. Kemudian surprise atau terkejut (9%), disgust atau jengah (9%), sadness atau sedih (6%), dan fear atau takut (5%).

Kalangan orang tua murid maupun pengamat terpantau aktif dalam menyambut kebijakan sekolah tatap muka terlihat dari rentang usia netizen 31-40 tahun yang cukup sering berkomentar. Diikuti kalangan pelajar berusia di bawah 18 tahun, yakni dengan proporsi 27,4%, yang antusias untuk kembali bersekolah.

Perbincangan tentang PTM ini didominasi netizen berusia 31-40 tahun (30,7%), yang kebanyakan orang tua maupun pengamat. Selanjutnya berusia di bawah 18 tahun (27,4%) atau kelompok pelajar, 22-30 tahun (28%), dan 41-55 tahun (5,6%).

Loading...
Loading...