Terapi Plasma Konvalesen: Oase di Tengah Pandemi Covid-19

Pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional (Gernas) Donor Plasma Konvalesen Covid-19 pada 18 Januari 2021. Upaya ini digencarkan karena menjadi pengobatan bagi pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 dengan gejala ringan hingga kritis.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, menjadi salah satu pendonor dalam kegiatan tersebut setelah sempat terpapar Covid-19 dan dinyatakan sembuh.

Plasma konvalesen merupakan plasma darah yang diambil dari penyintas Covid-19 karena mengandung antibodi SARS-CoV-2. Plasma perlu diproses terlebih dahulu, sebelum dapat didonorkan. Dengan demikian, metode ini tergolong pada imunisasi pasif, melalui donor plasma darah.

Penggunaan plasma darah juga diterapkan dalam pengobatan pada wabah flu babi, ebola, SARS, dan MERS. Terapi untuk pasien Covid-19 ini dikabarkan telah dilakukan di China, Argentina, dan Amerika Serikat (AS). 

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) bahkan telah mengizinkan pemanfaatannya sejak Agustus 2020. Namun, Indonesia melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes) secara resmi baru memulai riset klinis terapi plasma konvalesen pada 8 September 2020. Uji tersebut berdasarkan SK Menkes Nomor HK.01.07/MENKES/346/2020.

Di sisi lain, tidak semua penyintas Covid-19 dapat menjadi pendonor. Mereka harus memenuhi beberapa persyaratan agar bisa mendonorkan plasma darah, seperti berusia 18-60 tahun; berat badan minimal 55 kg; telah dinyatakan sembuh; belum pernah hamil; tidak menderita hepatitis B dan C serta HIV atau penyakit berat lainnya; serta tanda vital normal, yakni tekanan darah systole 90-160 mmHg, tekanan darah diastole 60-100 mmHg, denyut nadi 50-100 kali per menit, dan suhu tubuh di bawah 37 derajat celsius.

Langkah serupa dilakukan Menteri BUMN, Erick Thohir yang menginisiasi Plasma BUMN untuk Indonesia, 8 Februari tahun ini.

Saat peluncurannya, sebanyak 1.048 penyintas dari pegawai hingga pimpinan perusahaan pelat merah ikut berpartisipasi. Mereka berasal dari 66 BUMN di 33 provinsi.

Bak oase di tengah gurun, terapi plasma konvalesen pun mendapat sorotan luas dari media massa. Ini terekam dalam amatan Indonesia Indocator (I2) sepanjang Januari-Februari 2021 pada media online.

Dalam periode tersebut, sebanyak 1.003 media mengulas terapi plasma konvalesen dengan total 5.739 berita. Republika merupakan media yang paling banyak memberitakan terapi plasma, sebanyak 124 artikel. Kemudian media Kompas 106 artikel, Antara 91 artikel, Liputan6 sebanyak 82 artikel, Sindo News dan Medcom masing-masing 82 artikel, Antara Sulteng 81 artikel, Antara Papua 79 artikel, Antara Riau 76 artikel, dan Suara.com sebanyak 73 artikel.

Beragam isu diulas media dalam memberitakan terapi plasma konvalesen. Di bulan Januari, ekspos isu ini sebanyak 3.100 berita, yang umumnya menbahas membahas fenomena gotong royong masyarakat untuk mendonorkan plasma darah, dan kegiatan Gernas Plasma Konvalesen.

Sementara itu, terdapat 2.639 berita sepanjang Februari ini. Isu yang disorot antara lain donor plasma BUMN, juga donor plasma Palang Merah Indonesia (PMI) Surabaya yang terkendala kantong kit, serta melonjaknya jumlah pendonor menjadi empat kali lipat sejak peluncuran Gernas Plasma Konvalesen.

Airlangga Hartarto menjadi figur yang paling banyak dimintai keterangan soal donor plasma, sebanyak 2.023 pernyataan. Setelahnya, Menko PMK Muhadjir Effendy, berada di urutan kedua dengan 1.743 pernyataan.

Urutan ketiga dan seterusnya, yaitu eks Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana (1.483 pernyataan); Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla atau JK (1.274 pernyataan); Erick Thohir (812 pernyataan); pengamat kesehatan, Zainal Abidin (698 pernyataan); Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (622 pernyataan); Menparekraf Sandiaga Uno (580 pernyataan); Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito (542 pernyataan); serta Wakil Presiden, Ma'ruf Amin (423 pernyataan).

Berdasarkan peta pemberitaan, isu donor plasma tersebar merata di berbagai wilayah di Indonesia. Namun, DKI Jakarta menjadi yang tertinggi dengan 1.223 ekspos berita.

Saling Bantu Lewat Medsos

I2 juga mencermati dinamika topik ini di media sosial pada periode yang sama. Hasilnya, ramai bermunculan konten unggahan netizen berupa teks, foto, dan video tentang terapi plasma konvalesen.

Partisipasi warganet terbanyak ada di Twitter dengan total 52.045 unggahan. Berikutnya Facebook 2.397 unggahan, Instagram 798 unggahan, dan YouTube 291 unggahan.

Tren pergerakannya terus meningkat di berbagai platform pada bulan Februari, dibandingkan Januari.

Beberapa perbincangan netizen membahas tentang kegiatan berbagai pihak dan lembaga yang melakukan aksi donor plasma, bahkan meminta bantuan mencarikan pendonor, hingga upaya saling bantu dalam mempertemukan penyintas dengan pencari. Upaya tersebut berujung pada pembuatan situs web aksidonorplasma.com untuk mempermudah pendonor dan yang membutuhkan donor.

Netizen memiliki harapan atas keberhasilan terapi plasma konvalesen ini untuk memperkecil risiko kematian pasien Covid-19, yang terpantau dari timeline. Ini tercermin dari tingginya emosi antisipasi (anticipation) sebesar 49% (30.334 kicauan) dan percaya (trust) 44% (18.535 kicauan).

Kedua emosi tersebut umumnya berisi ekspresi tentang harapan donor plasma darah dapat membantu penyembuhan pasien Covid-19. Selain itu netizen mendoakan agar para pencari segera mendapatkan pendonor.

Emosi kepercayaan muncul dari kegiatan para pejabat publik, ASN, pegawai BUMN, hingga aparat TNI/Polri yang mendonorkan plasma darahnya. Hal itu tampak dari banyaknya netizen yang mengunggah kegiatan peluncuran Program Gernas Donor Plasma Konvalesen dan Plasma BUMN.

Secara keseluruhan, isu ini direspons dengan sentimen positif hingga 91%. Sedangkan netral 6% dan sisanya negatif. Isu negatif muncul karena ada masalah teknis dalam proses donor seperti pemberitaan tentang PMI Banjarmasin yang terkendala alat penyimpanan.

Loading...
Loading...