"Ampun Bang Jago" di Tengah Ketegangan Kudeta Militer Myanmar

Dunia maya Twitter dihebohkan dengan trending topic "Ampun Bang Jago" pada Selasa (2/2/2021). Topik tersebut mengemuka setelah adanya unggahan video viral yang menjadi saksi kudeta militer di Myanmar. 

Video berdurasi 3 menit dan 25 detik yang pertama kali diunggah Senin (1/2/2021) itu menampilkan seorang perempuan bernama Khing Hnin Wai sedang melakukan gerakan aerobik diiringi lagu "Ampun Bang Jago", di Naypyidaw, Myanmar. Tayangan tersebut banyak menjadi perbincangan netizen karena lagu "Ampun Bang Jago" merupakan karya musisi Tanah Air bernama Jonathan Dorongpangalo dan Everly Salikara asal Bitung, Sulawesi Utara.

Berdasarkan riset Indonesia Indicator (I2), unggahan video tersebut turut memicu tingginya perbincangan terkait kudeta Myanmar mencapai 37.083 cuitan pada 2 Februari 2021. Ekspos cuitan tersebut naik dibandingkan pada 1 Februari 2021 yang sebesar 10.990 cuitan. I2 mencatat, total terdapat 54.246 cuitan netizen Twitter pada periode 1 hingga 3 Februari 2021.

Dugaan kudeta militer dan penahanan para tokoh politik di Myanmar terjadi pada Senin (1/2/2021) pagi. Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi, Presiden Myanmar Win Myint, dan beberapa tokoh senior Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dijadikan tahanan rumah oleh militer Myanmar.

Penangkapan dilakukan setelah militer Myanmar mengisyaratkan kudeta pada pekan sebelumnya, setelah mengancam akan mengambil tindakan atas dugaan kecurangan dalam Pemilu pada 8 November 2020. Pemilu tersebut dimenangkan oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Aung San Suu Kyi.

Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, dikutip AFP pada Rabu (3/2/2021) mengatakan penggulingan pemerintahan pemimpin de facto, Aung San Suu Kyi tak terhindarkan. Aung Hlaing mengeklaim pengambilalihan kekuasaan ini sesuai dengan hukum. Jenderal Aung Hlaing diberi "kekuasaan legislatif, yudikatif dan eksekutif", yang secara efektif mengembalikan Myanmar ke pemerintahan militer setelah 10 tahun masuk dalam transisi demokrasi. Angkatan bersenjata Myanmar atau Tatmadaw mengatakan bakal menggelar Pemilu ulang.

Selain beredarnya video viral, kudeta militer Myanmar juga memicu kecaman global hingga seruan agar demokrasi segera dipulihkan yang menggema di Twitter. Hal itu terlihat dari mayoritas netizen atau 81% yang merespons peristiwa kudeta Myanmar dengan emosi jengah (disgust). Emosi ini berkaitan dengan sikap netizen yang menolak keras kudeta militer tersebut. Kampanye pembangkangan sipil (civil disobedience) juga disuarakan sebagai bentuk penolakan masyarakat sipil atas kudeta tersebut. 

Sementara emosi anticipation (harapan) sebesar 6% muncul berisi cuitan netizen yang mengajak netizen lainnya, serta influencer, dan warga dunia untuk mengutuk kudeta yang dilakukan pihak militer. 

Berdasarkan perbandingan percakapan netizen pada sebelum dan sesudah kudeta, terlihat bahwa dalam periode sebelum kudeta (27-31 Januari) percakapan tentang ancaman kudeta sudah disuarakan netizen, kata-kata kunci “Myanmar couf fears”, “military coup” muncul dalam perbincangan. Selain itu, kata kunci “possible constitution repeal” atau kemungkinan pencabutan konstitusi juga muncul dalam perbincangan dihubungkan dengan pernyataan Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing yang menyebut konstitusi bisa dicabut sebagai bentuk protesnya atas klaim kecurangan pemilu.

Pascakudeta, “election results” dan “civilian government” muncul dari percakapan netizen yang menuding Junta Militer Myanmar tidak terima dengan kekalahan pemilu sehingga mengudeta pemerintahan sipil yang sah. Kata “international community” juga turut muncul dikaitkan dengan desakan dan ajakan netizen agar masyarakat internasional mengutuk aksi kudeta. 

Dari sisi audiens, percakapan tentang kudeta militer banyak diperbincangkan oleh pria dengan rentang usia 41-55 tahun, yang cenderung sudah dewasa dan memiliki persepsi politik yang matang.

Loading...
Loading...