Potret Vaksin Covid-19 di Media dan Twitter

Indonesia telah mendapatkan sebagian dari total komitmen vaksin Covid-19 yang disepakati. Ini ditandai dengan kedatangan 1,2 juta dosis "penawar" buatan Sinovac Biotech Ltd, CoronaVac, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Minggu (6/12) malam.

Kehadirannya pun disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Beberapa saat kemudian, vaksin dibawa ke kantor pusat PT Bio Farma (Persero) di Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), dan mendapat pengawalan ketat dari aparat TNI/Polri.

Seluruh dinamika tersebut, berhasil direkam Indonesia Indicator (I2). Data diambil berdasarkan pemberitaan portal daring (online) dan percakapan netizen di media sosial dengan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Potret Portal Online

Berdasarkan pantauan I2 periode 1-14 Desember 2020, terdapat 1.300 media daring menyoroti isu vaksin melalui 22.700 artikel yang diterbitkan. Beberapa hal terkait diulas, tertinggi tentang kedatangan 1,2 juta CoronaVac dengan 6.179 berita.

Selanjutnya uji klinis 4.517 berita, wacana harga 3.590 berita, penerima prioritas 3.380 berita, keamanan dan efek samping 1.950 berita, izin Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) 1.077 berita, sertifikasi halal 882 berita, pengawasan impor vaksin 289 berita, prapesan (preorder) vaksin 226 berita, dan skema pemberian 73 berita.

Total berita dari 10 isu teratas tersebut mencapai 22.163 artikel. Sebanyak 537 dari agregat 22.700 artikel membahas tema lain menyangkut vaksin.

Sebagai informasi, masalah turunan dari vaksin buatan Sinovac banyak diberitakan lantaran beberapa aspek mendasar belum diketahui saat tiba di Indonesia. Izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari BPOM, sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan hasil uji klinis tahap akhir.

Pemantauan I2 dalam portal daring juga mendapati Presiden Jokowi sebagai tokoh yang pernyataannya paling banyak dikutip media tentang vaksin dengan 6.743 pernyataan, terutama kehadiran 1,2 juta dosis CoronaVac. Pernyataan kedua terbanyak yang dikutip adalah Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan 2.733 pernyataan.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan 2.733 pernyataan.

Posisi ketiga hingga keenam juga masih ditempati pejabat pusat, yakni Menteri BUMN, Erick Thohir (2.529 pernyataan); Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto (2.134 pernyataan); Menteri Keuangan, Sri Mulyani (2.081 pernyataan); dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy (1.570 pernyataan).

Berikutnya Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, di posisi ketujuh dengan 1.435 pernyataan dan diikuti Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi (1.137 pernyataan); Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo (1.022 pernyataan), serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo (1.008 pernyataan).

Sementara itu, Bisnis Indonesia menjadi media yang terbanyak memberitakan vaksin dengan 556 artikel. Posisi dua hingga 10 diisi media nasional lainnya, yakni Republika (508 artikel), Detik (463 artikel), CNBC Indonesia (461 artikel), Kontan (431 artikel), Kompas (430 artikel), Kumparan (350 artikel), Tribunnews (338 artikel), Antara 329 artikel), dan Suara.com (321 artikel).

Sebaran pemberitaan tentang vaksin dominan di Pulau Jawa, tertinggi di DKI Jakarta dengan 2.955. Artinya, isu ini cenderung diwacanakan masyarakat atau media di Jabodetabek daripada daerah lainnya.

Pulau Jawa Paling Gaduh

Adapun hasil pantauan di media sosial, terutama Twitter, terdapat 57.250 twit warganet tentang vaksin Covid-19 dalam rentang waktu sama, sebanyak 48% netizen merespons dengan nada menanti atau harapan (anticipation). Artinya, kehadiran vaksin tersebut ditunggu-tunggu.

Kemudian disusul emosi kepercayaan (trust) atas vaksin sebagai solusi menyelesaikan pandemi selain sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 18%. Selanjutnya 10% warganet merasa terkejut (surprise) lantaran mayoritas masyarakat harus membayar untuk mengaksesnya.

Publik lantas mendorong pemerintah menganulir kebijakan terkait. Pun muncul petisi daring tentang vaksinasi gratis bagi seluruh masyarakat melalui laman change.org yang diinisiasi Sulfikar Amir, warga negara Indonesia (WNI) sekaligus akademisi Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

Belakangan pemerintah merevisi kebijakannya tentang program vaksinasi. Tidak ada lagi dua kategori penerima, gratis dan mandiri (berbayar). Presiden Jokowi pun menyatakan, bakal menjadi orang pertama yang disuntik.

Selain itu, kicuan netizen bernada kemarahan (anger) sebesar 9%, diikuti terganggu (disgust) 8%, senang (joy) 5%, serta berisi kesedihan (sadness) dan takut (fear) masing-masing 1%. Hal ini menunjukkan beragamnya respons publik di media sosial, baik positif maupun negatif.

Berdasarkan jenis kelamin, sebesar 76,6% netizen yang mengomentari vaksin Covid-19 di Twitter merupakan laki-laki dan sisanya perempuan (23,4%). 

Percakapan juga didominasi kelompok produktif (18-59 tahun), yakni usia 31-40 tahun sebesar 30,7%; 22-30 tahun 26,5%; 41-55 tahun (22,4%); dan 18-21 tahun (12,6%). Hanya 5,7% warganet berusia di atas 55 tahun dan 2,1% berusia di bawah 18 tahun yang memperbincangkan vaksin di Twitter.

Merujuk domisilinya, paling banyak penduduk Pulau Jawa yang membicarakan tentang vaksin Covid-19 di Twitter–seperti yang terjadi pada pemberitaan di portal online. Sebarannya, Jawa Barat sebesar 703 netizen, DKI Jakarta 601 netizen, Jawa Tengah 507 netizen, Jawa Timur 467 netizen, Banten 132 netizen, dan DI Yogyakarta 105 netizen.

Selanjutnya penduduk Pulau Sumatera dengan detail Sumatera Utara 183 netizen, Riau 173 netizen, Bengkulu 166 netizen, Aceh 152 netizen, Sumatera Selatan 87 netizen, Sumatera Barat 65 netizen, dan Lampung 59 netizen. Sisanya berasa dari Kalimantan (223 netizen), Papua (136 netizen), Nusa Tenggara dan Bali (88 netizen), serta Sulawesi (83 netizen).