Dendang Penawar Covid-19 Buatan Dalam Negeri

Cepatnya laju penularan coronavirus baru (Covid-19) membuat banyak negara di dunia kelimpungan mengingat mengancam sistem kesehatan dan memorakporandakan perekonomian. Berbagai pihak lantas berlomba-lomba menemukan vaksinnya sekalipun bukan perkara mudah lantaran tergolong infeksi anyar dibandingkan pandemi sebelumnya dan prosedur yang rigid.

Dari sekian ratus kandidat yang sempat dikembangkan, berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 19 Oktober 2020, terdapat 44 kandidat vaksin yang telah memasuk tahap uji klinis. Sebanyak 10 di antaranya sudah uji klinis fase 3.

Indonesia pun ikut mengembangkan penawar Covid-19 sejak Maret lalu. Diberi nama Vaksin Merah Putih. Vaksin ini dikembangkan sedikitnya enam lembaga riset dan perguruan tinggi dengan tiga pendekatan.

Pertama, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan vaksin Covid-19 dengan metode protein rekombinan. Para peneliti mengambil gen yang mengodekan kapsul protein dari sekuens RNA virus SARS-Cov-2 lalu disisipkan dalam vektor atau pembawa gen (plasmid). Selanjutnya dimasukkan ke dalam sel bakteri. Bakteri ini berfungsi sebagai “pabrik protein” yang kelak disuntikkan ke dalam tubuh manusia untuk memicu respons sistem imun.

Sementara itu, vaksin yang dikembangkan LIPI menggunakan gen yang mengodekan protein spike utuh serta berbagai bagian dari spike, termasuk receptor binding domain (RBD) guna menciptakan antibodi penetral yang mampu melumpuhkan virus.

Kedua, Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan pendekatan adenovirus. Para peneliti memodifikasi adenovirus sehingga tidak bisa memperbanyak diri dalam tubuh manusia. Ketika vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, ia akan memasukkan gen ke dalam sel selanjutnya sel tubuh penerima memproduksi antigen virus Covid-19 sehingga memicu respons imun.

Ketiga, Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Udayana (Unud) dengan metode mRNA, DNA, Virus like particles. Peneliti Unud mengembangkan vaksin dengan platform messenger RNA atau mRNA, di mana mRNA sintetik yang memuat kode protein spike SARS-Cov-2 dibungkus dengan selaput lemak (liposom), yang kemiripam dengan struktur dinding sel manusia.

Ketika dimasukkan ke dalam tubuh, mRNA tersebut akan masuk ke dalam sel kemudian bakal menggunakan gen dalam mRNA untuk memproduksi protein spike yang melatih sistem pertahanan tubuh. Pendekatan ini dilakukan karena proses pengembangannya relatif cepat dan tidak membutuhkan fasilitas canggih.

Adapun UI menggunakan platform DNA dengan untuk memunculkan respons sistem imun seperti pendekatan mRNA. Bedanya, vaksin DNA harus dimasukkan sampai ke dalam inti sel–yang menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti. Vaksin ala UI tersebut sedang diujicobakan pada hewan guna melihat kemampuannya menginduksi respons imun protektif yang dibutuhkan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pengembangan bibit vaksin Covid-19 dalam negeri tuntas dalam tempo setahun. Namun, baru penelitian Eijkman yang telah mencapai 55% dan ditargetkan selesai medio 2021.

Ketika pengembangannya kelar, Vaksin Merah Putih akan diserahkan ke PT Bio Farma (Persero) untuk proses lebih lanjut, seperti upscaling lalu praklinis hingga uji klinis fase 1, 2 dan 3. Diprediksi uji klinis rampung pada akhir 2021 dan dapat diproduksi awal 2022.

Indonesia Indicator (I2) telah mengamati respons publik melalui media sosial dan pemberitaan media daring (online) atas pengembangan Vaksin Merah Putih pada 1 Oktober-8 November. Selama itu, terdapat 2.614 berita di portal daring dan 5.333 cuitan netizen di Twitter.

Puncak ekspos cuitan netizen terjadi pada 3 November 2020. Hal itu, salah satunya, dimotori pernyataan Menteri BUMN, Erick Thohir, yang menyebut Vaksin Merah Putih dapat digunakan mulai 2022.

Di Twitter, berbagai kata kunci dipergunjingkan warganet dalam mengomentari penawar Covid-19 tersebut. "Vaksin Palu Arit", misalnya. Istilah itu populer diperbincangkan setelah Anggota Fraksi Partai Gerindra, Fadli Zon, berkomentar, khususnya kritik terhadap komitmen pemerintah dalam mengembangkan Vaksin Merah Putih dan justru mengizinkan vaksin asal China, Sinovac, melakukan uji klinis tahap 3 di Indonesia.

Sementara itu, sebanyak 7 dari 10 figur yang menjadi pemengaruh teratas (top influencer) merupakan pejabat pemerintah pusat. Detailnya Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodhonegoro, di urutan pertama karena 3.191 pernyataan dikutip; Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan 1.212 pernyataan; serta Presiden Jokowi 1.065 pernyataan.

Kemudian Wakil Presiden Ma'ruf Amin 563 pernyataan; Erick Thohir 492 pernyataan; eks Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (P2P Kemenkes), Achmad Yurianto, 491 pernyataan; Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, 409 pernyataan; Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, 378 pernyataan; Divisi Penelitian dan Pengembangan Bio Farma, Neni Nurainy, 340 pernyataan; serta Direktur Eijkman, Amin Soebandrio, 259 pernyataan.

Adapun isu Vaksin Merah Putih diberitakan sebanyak 444 portal rentang pengumpulan data. Dari 10 portal teratas, didominsasi jaringan kantor berita milik pemerintah, Antara.

Posisi pertama ditempati Republika dengan 66 artikel, disusul Antara 58 artikel, Antara Papua 56 artikel, Antara Sulteng 54 artikel, Tribunnews 51 artikel, Antara Riau 48 artikel, Liputan6 48 artikel, Sindonews 45 artikel, Merdeka 42 artikel, serta Bisnis Indonesia 40 artikel.

Loading...
Loading...