Harap-harap Cemas Wacana Sepeda Masuk Tol

Wacana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan memanfaatkan tol dalam kota untuk sepeda road bike menuai beragam reaksi dari warganet Twitter. 

Rencana penerapan kebijakan sepeda masuk tol muncul saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan permohonan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) untuk menggunakan satu jalur tol dalam kota khususunya Kebon Nanas-Tanjung Priok guna jalur sepeda road bike. Satu ruas tol tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer (km) hingga 12 km.

Salah satu netizen Twitter dengan akun @JuveBadutEropa mengatakan kebijakan ini hanya menguntungkan bagi warga dengan kelas sosial menengah ke atas. Pasalnya, harga sepeda jenis road bike bisa selangit dan hanya terjangkau bagi warga berkantong tebal. 

"Wacana sepeda masuk jalan tol khusus sepeda road bike itu sama kayak wacana moge masuk jalan tol. Sepeda jenis road bike, kalau merek impor harganya bisa setara moge. Ujung-ujungnya adalah soal kelas sosial," cuitnya pada 28 Agustus 2020. 

Pendapat berbeda dicuitkan oleh David Usman dengan akun Twitter @dapitnih. David yang mencuit pada 31 Agustus 2020 itu memuji langkah Anies dan membandingkannya dengan jalur sepeda yang menghubungkan antara Kota Daejeon dan Sejong di Kota Sejong, Korea Selatan. 

"Keren kalo TOL di Indonesia ada jalur sepeda kayak gini. Mungkin ide Anies ya begini, kita aja yg bayangin campur mobil di Tol," cuit David.

Menolak dan Khawatir  

Hasil tarikan data Indonesia Indicator (I2) pada periode 25 Agustus hingga 8 September 2020, menunjukkan terdapat 3.928 cuitan netizen di media sosial Twitter yang membahas wacana sepeda masuk tol. Dalam rentang waktu itu, I2 menangkap emosi disgust (jengah) dan anticipation (harapan) paling sering muncul.

Emosi disgust (24%) banyak datang dari komentar tegas netizen yang menolak wacana sepeda masuk tol. Selain karena faktor keselamatan bagi pesepeda, penolakan juga terjadi karena wacana itu dinilai tidak bersifat mendesak (urgent), serta masih banyak warga yang belum tertib ketika bersepeda.

Sementara emosi anticipation (24%), muncul dari cuitan netizen yang merasa khawatir dan cemas dengan keselamatan pesepeda jika gowes di jalan tol. Mengingat jalan tol diperuntukkan bagi kendaraan yang berkecepatan tinggi atau bebas hambatan. 

Emosi lain yang juga cukup besar adalah trust (kepercayaan) sebesar 22%. Emosi ini banyak datang dari kicauan netizen yang mendukung ide mantan Menteri Pendidikan itu, meski dengan catatan implementasi wacana tersebut harus dipikirkan secara matang agar tidak membahayakan pesepeda.

I2 juga menangkap emosi lainnya, yakni surprise (terkejut) sebesar 22%, anger (marah) sebesar (7%), joy (gembira) sebesar 4%, serta fear (takut) dan sadness (sedih) masing-masing sebesar 1%.

Sementara itu, berdasarkan pantauan demografi netizen diketahui bahwa pria lebih dominan memperbincangkan wacana sepeda masuk tol (74%), sedangkan wanita hanya sebesar 26%. Dari segi rentang umur, kelompok umur milenial (26-35 tahun) menjadi netizen yang paling banyak mencuitkan isu ini dengan 40%, disusul kemudian oleh kelompok umur 18-25 tahun atau generasi Z sebesar 36%. 

Untuk sentimen dalam cuitan netizen, lebih banyak bernada netral (40%) yang meminta Pemprov DKI lebih memikirkan implementasinya secara matang, jika kebijakan ini dilaksanakan. Sedangkan sentimen negatif (31%), datang dari netizen yang tegas menolak karena kebijakan ini dianggap membahayakan keselamatan pengguna jalan. Serta, sentimen positif (29%), yang berisi cuitan dukungan atas program ini karena dinilai dapat mengurangi polusi, serta mengikuti beberapa negara maju seperti Jerman dan Belanda yang juga memiliki tol khusus sepeda.

Loading...
Loading...