Duka Netizen atas Gugurnya 100 Dokter Covid-19

Gugurnya 100 dokter dalam memerangi Covid-19 menyita perhatian warganet. Mereka meluapkan ragam emosi di linimasa Twitter. Ekspresi prihatin, sedih, hingga belasungkawa diungkapkan netizen atas kabar wafatnya ratusan dokter yang dilansir Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Memasuki enam bulan penanganan Covid-19, angka pasien di Indonesia memang belum melandai. Bahkan angka ini semakin meningkat, mencapai 174.796 kasus per 31 Agustus 2020. Tingginya angka tersebut didongkrak oleh pertumbuhan kasus harian positif Covid-19 yang mencapai 2.743 orang. Sementara jumlah pasien sembuh di tanggal yang sama sebanyak 1.774 orang.

Tingginya angka penderita Covid-19 masih menjadi 'pekerjaan rumah' berat, khususnya bagi tenaga kesehatan. Mereka berjibaku menangani pasien Covid-19 dengan risiko terinfeksi virus cukup tinggi, bahkan hingga merenggut nyawa.

IDI mencatat, sejak laporan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, sudah genap 100 dokter yang gugur melawan virus SARS-CoV-2 pada Sabtu (30/8/2020). Pahlawan kesehatan itu tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali, Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua.

Letupan emosi warganet dalam merespons wafatnya para dokter tersebut terekam dalam riset media sosial Indonesia Indicator (I2), periode 30 Agustus hingga 01 September 2020. 

I2 mencatat sebanyak 3.293 cuitan netizen merespons gugurnya 100 dokter. Perbincangan ini menyedot simpati generasi milenial (rentang usia 26 hingga 35 tahun) sebesar 41%. Sedangkan Generasi Z (rentang usia 18 hingga 25) sebesar 39%. 

Lalu, mereka yang berusia di atas 35 tahun sebanyak 15%, dan di bawah usia 18 tahun hanya 5%.

Dari seluruh cuitan tersebut, sentimen negatif paling dominan, sebesar 87%. Netizen meluapkan ragam emosi, mulai bernada sedih, prihatin, kecewa, hingga marah terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19 secara maksimal. 

Ahmad Arif misalnya, melalui akun Twitter @aik_arif, terlacak paling awal menyebarkan kabar meninggalnya 100 dokter di media sosial Twitter. 

“Dan ini genap dokter yg ke-100, gugur karena Covid-19,” kicaunya pada 30 Agustus 2020.

Dia berharap korban ke-100 merupakan dokter terakhir yang meninggal akibat virus corona, meski dengan nada pesimistis. 

Senada dengan Ahmad Arif, kabar meninggalnya 100 dokter juga ditanggapi oleh Andi Khomeini Takdir, dokter yang juga influencer melalui akun Twitternya @dr_koko28.

Dalam cuitannya, Andi meminta pemerintah agar memiliki contingency-plan dalam penanganan Covid-19. Hal ini untuk mencegah lebih banyak lagi pelayan kesehatan yang tumbang. Andi mencuit agar sistem kesehatan jangan sampai kolaps, di tengah banyaknya tenaga medis yang berguguran.

"Negara kita sudah kehilangan 100 dokter terkait Covid19. Belum kehitung yang sakit dan yang dirumahkan," cuitnya pada 31 Agustus.

Sementara sentimen positif berada di angka 12%. Disusul sentimen netral sebanyak 1%. Cuitan netizen dalam hal ini berisi dukungan kepada pemerintah, sebagaimana diekspresikan pemilik akun Twitter @akma_K.

"Pak Menteri @KemenkesRI bisa gunakan seluruh tenaga militer @tni-ad @TNIAU @_TNIAL yang disiplin sebagai nakes," cuitnya pada 30 Agustus.