"Deru" Penundaan Formula E di Media Sosial

Pandemi Coronavirus (Covid-19) memaksa Gubernur Jakarta Anies Baswedan menunda gelaran ajang balapan Formula E yang rencananya dihelat di kawasan Medan Merdeka. Penundaan tersebut tertuang dalam surat resmi dengan nomor 117/-1.857.73, ditujukan kepada Organizing Commitee Jakarta E-prix tertanggal 9 Maret.

Keputusan Pemprov Jakarta tersebut menjadi sorotan media online yang terekspose melalui berbagai judul pemberitaan. Riset Indonesia Indicator (I2) pada tanggal 10 hingga 16 Maret 2020 mencatat ada 907 berita media online, mengulas penundaan event Formula E di Jakarta.

Mula-mula jumlah pemberitaan Formula E hanya berjumlah puluhan. Pada 10 Maret misalnya tercatat hanya 56 ekspos berita, namun angka ini terus merangkak signifikan dan memuncak pada 11 Maret, yakni sebanyak 504 ekspose berita. Memasuki 12 Maret, jumlah pemberitaan di media online menurun drastis sebanyak 174 berita, dan terus susut ke angka 86 pada 13 Maret. Puncak penurunan pemberitaan Formula E terjadi pada 16 Maret, yakni hanya sebanyak 23 ekspose pemberitaan.

Reaksi atas penundaan Formula E

Berbeda dengan dengan media online, total ekspos di Twitter justru cukup tinggi. Indonesia Indicator mencatat ada sebanyak 9.227 cuitan netizen membahas penundaan Formula E yang diekspresikan dengan berbagai emosi.  Awalnya, pada 10 Maret, ekspos cuitan hanya berjumlah ratusan, yakni sebanyak 284 cuitan.

Namun, reaksi netizen atas penundaan Formula E terus terjadi dan melonjak signifikan mencapai 3.543 cuitan pada 11 Maret. Rupanya di tanggal ini merupakan puncak letupan ekspresi dan reaksi warganet. Terbukti, terjadi tren penurunan cuitan secara perlahan pada 12 Maret, yakni sebanyak 3.641. Barulah pada tanggal 13 Maret terjadi penurunan angka drastis sebanyak 821 cuitan, 14 Maret sebanyak 781, 15 Maret 526, dan terakhir pada 16 Maret tercatat hanya 28 cuitan.

Reaksi dan ekspresi warganet atas kebijakan Anies menunda ajang balap mobil bergengsi itu terangkum dalam sejumlah emosi dan perasaan yang diidentifikasi oleh sistem Intelligence Perception Analysis (IPA). Emosi yang dominan adalah trust atau percaya yang muncul melalui cuitan-cuitan bernada dukungan terhadap kebijakan Gubernur Anies Baswedan menunda pelaksanaan Formula E di Jakarta. Tercatat ada sebanyak 306 cuitan berisi dukungan terhadap Pemprov DKI.

Emosi disgust atau muak juga muncul melalui perdebatan sengit netizen ihwal penundaan Formula E. Tercatat ada sebanyak 301 cuitan dengan polarisasi perdebatan yang cukup tajam pendukung dan penentang kebijakan Anies. Kelompok kontra Gubernur Jakarta menganggap Anies hanya mencari panggung terhadap isu Covid-19. 

Berikutnya, emosi anticipation atau harapan sebanyak 283 cuitan. Netizen dalam hal ini berharap agar pelaksanaan Formula E dibatalkan dan anggarannya dialihkan untuk penanganan banjir di Jakarta. 

Indentik Dengan Pria

Ajang balap mobil Formula E masih identik sebagai olahraga kaum pria. Hal ini tergambarkan dari besarnya perhatian kaum Adam, yakni 73,2% atau 2.184 akun. Sebaliknya, akun kaum perempuan yang merespons Formula E tidak menembus angka seribu, hanya 798 akun atau 26,8%.

Berdasarkan rentang umur, Formula E masih menjadi favorit tontonan bagi kelompok umur Generasi Z dan Milenial, meski cukup banyak juga dari kelompok umur di atas 35 tahun yang membahas Formula E. 

Pada rentang umur 18 hingga 25 tahun, jumlah akun yang mencuitkan Formula E cukup tinggi, ada sebanyak 1.030 akun atau 39,2%. Disusul rentang usia 26 hingga 35 tahun dengan jumlah akun sebanyak 839 akun atau 31,9%. Mereka yang berusia di atas 35 tahun tercatat 681 akun turut memperbincangkan ajang Formula E atau jika dipersentase menjadi 25,9%. Hanya sejumlah kecil yang teridentifikasi sebagai akun yang berusia di bawah 17 tahun, yakni 3% (79 akun).

Berdasarkan sebaran akun Twitter yang membahas Formula E yang dapat diidentifikasi oleh sistem IPA, persebarannya dapat dikatakan masih terpusat di DKI Jakarta. Artinya, isu ini masih di level isu daerah atau lokal, belum menjadi isu nasional. Indonesia Indicator mencatat sepuluh wilayah di Tanah Air dengan aktivitas akun terbanyak. DKI Jakarta tercatat paling tingggi sebanyak 485 akun, disusul Jawa Barat 28 akun, Jawa Tengah 22 akun, Jawa Timur 20 akun, Kalimantan Timur 18 akun, Kepulauan Riau 9 akun, Bali 8 akun, Kalimantan Tengah 6 akun, Kalimantan Selatan 5 akun, dan terakhir Nusa Tenggara tercatat hanya 5 akun.

Sentimen Warganet

Sentimen negatif warganet mendominasi penundaan ajang Formula E oleh Anies Baswedan, dengan angka cukup tinggi, yakni 5.514 cuitan atau 58,25%. Disusul sentimen positif dengan angka cuitan sebanyak 3.023, atau 31,9%. Sentimen netral tercatat sebanyak 943 cuitan atau 9,9%. 

Perdebatan politis antarnetizen menjadi salah satu pemicu tingginya sentimen negatif dalam isu penundaan ajang Formula E tersebut. Indikasinya adalah adanya polarisasi pendukung Pilpres 2019 yang masih kental terasa dalam perdebatan seputar penundaan ajang Formula E tersebut.