Isu demam berdarah tenggelam oleh coronavirus

Perkembangan kasus virus corona di dunia semakin membesar. Hampir setiap hari ada saja informasi dari sebuah negara yang menyampaikan perkembangan kasusnya. Baik itu jumlah yang terkonfirmasi positif hingga pasien yang meninggal akibat virus corona.

Apalagi Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, telah menyatakan darurat internasional terkait wabah virus corona yang mematikan. Virus yang juga disebut 2019-nCov ini setidaknya menjangkiti 153.517 orang (per 15 Maret) dan menewaskan 5.735 orang (per 15 Maret) di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, pemerintah telah mengumumkan 117 orang (per 15 Maret) dinyatakan positif virus corona dan pasien yang meninggal positif virus corona sebanyak lima orang (per 15 Maret).

Penyebaran itu tidak terlepas dari belum ditemukannya vaksin yang tepat untuk mengatasi virus corona. Sejumlah negara maupun perusahaan swasta memang telah mengumumkan sedang dalam proses mencari formula yang tepat, tetapi belum ada satu pun yang telah menemukan vaksin yang tepat untuk menanggulangi virus corona.

Dua situasi tersebut membuat media online dan warganet di media sosial menjadi lebih memperhatikan perkembangan virus corona dibandingkan penyebaran penyakit lain. Padahal, untuk Indonesia ada penyakit lain sedang mewabah dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Salah satunya adalah demam berdarah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penderita demam berdarah di Indonesia sampai dengan 12 Februari mencapai 6.639 kasus dengan 49 kematian di seluruh Indonesia. Empat daerah telah menyatakan kejadian luar biasa (KLB), yaitu Kabupaten Sikka (567 penderita, empat kasus kematian), Kabupaten Temanggung (48 penderita, satu kasus kematian), Kabupaten Lampung Tengah (197 penderita, tiga kematian) dan Kabupaten Ciamis (106 penderita, tiga kematian).

Tidak imbangnya pemberitaan di media online terhadap pemberitaan virus corona dan demam berdarah terkonfirmasi juga dari hasil analisis Indonesia Indicator (I2) pada periode 1 Januari hingga 13 Maret 2020. Selama periode ini ditemukan, pergerakan ekspos konsisten naik terkait topik wabah demam berdarah. Meningkatnya pemberitaan terjadi seiring semakin meluasnya wabah DBD di Indonesia.

Tercatat, ekspos media online terhadap virus corona pada Januari sebesar 32.032 berita, sedangkan demam berdarah 2.207 berita atau hanya 6,8% dari jumlah berita tentang Corona. 

Bahkan pada Februari, besaran ekspos terhadap virus corona semakin meningkat, mencapai 95.584. Sedangkan isu demam berdarah 2.538 berita atau hany 2,6% dari jumlah berita tentang corona. 

Pun demikian dengan Twitter. Netizen platform “Burung Biru” lebih banyak mencuitkan soal corona ketimbang DBD. Pada Januari, ada 235.616 cuitan terkait virus corona dan 1.743 cuitan atau hanya 0,6% yang membahas demam berdarah. Pada Februari, ada 311.905 cuitan terkait virus corona dan 1.810 cuitan terkait demam berdarah (0,5%). 

Di bulan Maret, ekspos pemberitaan dan cuitan warganet melonjak tinggi seusai sejumlah Pemda mempublikasikan penetapan kejadian luar biasa (KLB) DBD untuk wilayahnya menyusul banyaknya korban yang terus bertambah. Kabupaten Sikka tercatat memiliki jumlah kasus terbanyak. Walaupun demikian, secara persentase, jumlah ekspos DBD masih jauh daripada corona.

Total pemberitaan media online di bulan Maret terhadap virus corona sebanyak 116.283, sedangkan demam berdarah sebesar 2.974. Di Twitter, angka cuitan terkait DBD mencapai 5.996 cuitan, sedangkan soal corona tercatat 800.801 cuitan.

Jumlah korban menjadi sorotan

Perkembangan jumlah korban menjadi sorotan media online dan Twitter. Di media online, isu ini menyita perhatian hingga 29%, sedangkan di Twitter mencapai 39%. Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus DBD di Indonesia sudah menembus angka 16.000, pada periode Januari sampai awal Maret 2020 tersebut. Dari jumlah itu, 100 jiwa meninggal dunia. 

Narasi pencegahan terhadap demam berdarah juga turut menjadi perhatian media (22%). Media pun banyak memberitakan upaya antisipasi, tips dan anjuran yang perlu diperhatikan untuk mencegah DBD semakin meluas. 

Media juga menyoroti sebaran daerah terdampak DBD (16%), secara khusus menyoroti Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Kabupaten Sikka, yang kini sudah berstatus KLB. Pernyataan Menkes Terawan yang menyebut wabah DBD tidak bisa diabaikan meski Pemerintah saat ini tengah fokus menangani virus corona, menjadi salah satu yang banyak diberitakan. 

Narasi pemberitaan juga berkembang ke arah perbandingan dampak wabah virus corona dengan DBD (14%). Isu ini juga riuh disiulkan oleh pengguna Twitter, jumlahnya mencapai 12%. Cuitan netizen terkait penanganan pemerintah terhadap corona yang dinilai lebih optimal dibandingkan  penanganan DBD yang jumlah korbannya sudah lebih tinggi.

Tibanya musim penghujan juga selalu menjadi momok yang kerap dihubungkan dengan munculnya wabah demam berdarah (12%). Terlebih kondisi seperti di Jabodetabek yang diperparah dengan terjadinya banjir berulang kali. Sementara gerakan ajakan untuk memulai hidup sehat atau biasa dikenal dengan 3M justru tidak terlalu terlihat dominan disampaikan warganet.

Dari sisi demografi, cuitan warganet yang disurvei I2 lebih didominasi oleh mereka yang berusia 18-25 tahun (1.494 akun), kemudian diikuti mereka yang berusia 26-35 tahun (1.466 akun). Sedangkan sebaran gender didominasi oleh perempuan, yakni sebesar 2.225 akun, sementara laki-laki sebesar 2.225 akun.

 

Loading...
Loading...