Kepala BKPM: Indonesia Kekurangan TKA

Rasio penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia dengan jumlah tenaga kerja yang ada masih sangat rendah. Total jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia hanya 74.000 (tujuh puluh empat ribu) atau 0,062 persen dari total tenaga kerja sebesar 120 juta.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong menilai, angka rasio tersebut masih sangat rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dia mengatakan porsi TKA di Qatar 94 persen, di Uni Arab Emirat bahkan 96 persen, Singapura 36 persen. Bahkan Amerika Serikat mencapai 16,7 persen, Malaysia 15,3 persen, dan Thailand 4.5 persen.

 

"Jadi katakan kita ber-andai-andai bahwa jumlah TKA di Indonesia sebenarnya adalah 10 kali (sepuluh kali lipat) data resmi Kementerian Tenaga Kerja dan Kantor Imigrasi, maka 0,62 persen dari total tenaga kerja Indonesia pun masih jauh terlalu rendah, hemat saya. Negara yang benar-benar modern akan memakai jauh lebih banyak tenaga kerja internasional," kata Tom dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Posisi Indonesia yang faktanya rasio TKA dibawah 0,1 persen, menurut Tom terlalu rendah. Tom menilai bahwa perusahaan Indonesia juga dapat memanfaatkan tenaga kerja asing guna mencontek sistem produksi dan cara-cara manajemen di negara lain yang sudah lebih maju.

"Kita yang jadi bos mereka, kita dapat memanfaatkan mereka semaksimal mungkin," lanjutnya.

Dalam sejarah dunia, praktis semua negara berkembang yang berhasil naik kelas menjadi negara maju, berawal dari investasi asing yang juga membawa teknologi internasional, jaringan pemasaran internasional (untuk meningkatkan ekspor), dan tenaga kerja asing yang amat berperan dalam alih pengetahuan dan alih teknologi. Tom mengemukakan bahwa tenaga kerja asing dibutuhkan untuk mendukung proses konstruksi investasi.

"Mereka biasanya menggunakan tenaga kerja asing dalam proses konstruksi di tahapan awal investasi. Oleh karena itu angka tenaga kerja asing selalu fluktuatif," paparnya.

Dia menyampaikan bahwa posisi tenaga kerja asing yang terserap dalam realisasi investasi di Indonesia saat ini setara dengan posisi pada 2011.

"Itu masa puncaknya, setelah itu terus mengalami penurunan, saat ini sudah mulai naik lagi tapi belum mencapai posisi yang sama di tahun 2011," kata Tom.

Dari data Izin Memperkerjakan Tenaga Asing (IMTA) yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga Kerja tercatat TKA pada tahun 2011 mencapai 77.307 orang, kemudian pada tahun 2012 menurun menjadi 72.427 orang, tahun 2013 kembali melorot di level 68.957 orang, kemudian menurun tipis di posisi 68.762 orang. Pada tahun 2015, posisi tersebut meningkat tipis 69.025 orang serta pada tahun 2016 kembali meningkat menjadi 74.183 orang.

Lebih lanjut terkait isu miring TKA Tiongkok, Tom menyampaikan bahwa porsi tenaga kerja asing (TKA) dari Tiongkok tergolong rendah. Dari data Kementerian Tenaga Kerja, jumlah TKA yang berasal dari Tiongkok sampai bulan November 2016 tercatat hanya 21.271 orang.

Sementara dari data Realisasi investasi yang menciptakan lapangan pekerjaan baru yang dimiliki oleh BKPM, jumlah TKA Tiongkok baru yang diserap dari realisasi investasi periode Januari-September 2016 tercatat 3.718 tenaga kerja atau 0,3 persen dari total penyerapan 975.898 tenaga kerja. Jumlah tersebut terdiri dari penyerapan TKA sebanyak 17.966 tenaga kerja maupun penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 957.932 tenaga kerja.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengemukakan, data tersebut menunjukkan bahwa berbagai isu yang disampaikan terkait keberadaan TKA Tiongkok yang bekerja di Indonesia tidak benar.

"Ini patut disesalkan sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam perayaan Natal nasional agar semua pihak menghentikan fitnah-fitnah terkait tenaga kerja asing," lanjutnya.

Menurut Thomas, realisasi investasi Tiongkok melonjak dari tahun 2014 berada di peringkat 8, kini di periode Januari-September 2016 mencapai USD 1,6 miliar berada di peringkat tiga.

"Peningkatan realisasi investasi yang signifikan tersebut menjadi pemicu meningkatnya penggunaan TKA oleh investor Tiongkok yang ingin merealisasikan investasinya di Indonesia," pungkas dia.

Loading...
Loading...