Gugatan RCTI terkait UU Penyiaran Kejutkan Netizen Twitter

"Fight me and an entire esports, gaming, and streamer scenes," cuit musisi sekaligus YouTuber Reza Oktovian atau yang lebih dikenal sebagai Reza Arab, Kamis (27/8/2020).

Cuitan Reza tersebut mengomentari unggahan pemberitaan portal media Suara.com soal permohonan uji materi Pasal 1 angka 2 Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran) yang dilakukan raksasa industri televisi Indonesia, RCTI dan iNews TV ke Mahkamah Konstitusi (MK). 

Pemberitaan berjudul “Jika Gugatan RCTI Dikabulkan, Publik Tak Bisa Tampil Live di Media Sosial” yang diunggah pada tanggal yang sama itu juga mendapatkan respons dari beberapa influencer lainnya seperti aktor Ernest Prakasa. 

"JRENG JRENG!" cuit Ernest, Kamis (27/8/2020) yang kemudian diserbu netizen dengan 8.000 likes, 2.200 retweet, dan 764 komentar. 

Tweet yang diunggah Reza dan Ernest itu kemudian mendorong meningkatnya perbincangan netizen mengenai isu gugatan RCTI dan iNews.

Indonesia Indicator (I2) menemukan terdapat 7.666 cuitan netizen yang membahas topik tersebut pada periode 26 Agustus–2 September 2020. Gugatan yang dilayangkan oleh media milik taipan Harry Tanoesoedibjo tersebut mengejutkan warga platform "Burung Biru". Hal itu terlihat dari sebagian besar unggahan warganet yang menunjukkan emosi terkejut (surprise) hingga mencapai 2.186 tweet. 

Dalam kicauannnya, netizen mulai membayangkan jika gugatan tersebut dikabulkan MK. Yaitu, mulai dari tidak bisa live di akun media sosial hingga ancaman masuk penjara jika ketahuan melakukan live di media sosial.

Emosi lain yang juga tertangkap adalah harapan (anticipation) sebesar 172 cuitan. Emosi ini muncul dari netizen yang berharap agar RCTI dan Inews mencabut gugatannya, serta lebih memperbaiki dan memberikan inovasi terhadap program televisinya agar netizen kembali berminat menonton TV.

Lalu, emosi percaya (trust) sebanyak 115 cuitan, emosi menjijikkan (disgusting) mencapai 97 cuitan, bahagia (joy) mencapai 47 cuitan, dan marah (anger) sebanyak 32 cuitan. 

Berdasarkan sebaran demografi netizen, terpantau topik ini banyak disoroti oleh kaum pria dengan persentase 70% dibandingkan kaum perempuan dengan 30%. Dari segi rentang umur, generasi Z yang berusia 18-25 tahun cukup dominan (44%) membahas isu ini, bersamaan dengan generasi milenial yang juga menyoroti isu ini dengan 37%. Kelompok umur keduanya menjadi yang paling aktif menolak gugatan, mengingat kelompok umur tersebut merupakan yang teraktif bermedia sosial.

Dari segi sentimen, wacana gugatan UU Penyiaran banyak diperbincangkan secara negatif oleh netizen sebesar 78%. Sentimen negatif diisi oleh kicauan netizen yang menolak keras gugatan tersebut.

Sementara sentimen positif hanya 12% dan sentimen netral 10%. Sentimen terlihat muncul dari dukungan atas sikap pemerintah atau Kementerian Komunikasi dan Informatika yang meminta MK menolak gugatan RCTI.


Duka Netizen atas Gugurnya 100 Dokter Covid-19

Gugurnya 100 dokter dalam memerangi Covid-19 menyita perhatian warganet. Mereka meluapkan ragam emosi di linimasa Twitter. Ekspresi prihatin, sedih, hingga belasungkawa diungkapkan netizen atas kabar wafatnya ratusan dokter yang dilansir Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Memasuki enam bulan penanganan Covid-19, angka pasien di Indonesia memang belum melandai. Bahkan angka ini semakin meningkat, mencapai 174.796 kasus per 31 Agustus 2020. Tingginya angka tersebut didongkrak oleh pertumbuhan kasus harian positif Covid-19 yang mencapai 2.743 orang. Sementara jumlah pasien sembuh di tanggal yang sama sebanyak 1.774 orang.

Tingginya angka penderita Covid-19 masih menjadi 'pekerjaan rumah' berat, khususnya bagi tenaga kesehatan. Mereka berjibaku menangani pasien Covid-19 dengan risiko terinfeksi virus cukup tinggi, bahkan hingga merenggut nyawa.

IDI mencatat, sejak laporan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, sudah genap 100 dokter yang gugur melawan virus SARS-CoV-2 pada Sabtu (30/8/2020). Pahlawan kesehatan itu tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali, Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua.

Letupan emosi warganet dalam merespons wafatnya para dokter tersebut terekam dalam riset media sosial Indonesia Indicator (I2), periode 30 Agustus hingga 01 September 2020. 

I2 mencatat sebanyak 3.293 cuitan netizen merespons gugurnya 100 dokter. Perbincangan ini menyedot simpati generasi milenial (rentang usia 26 hingga 35 tahun) sebesar 41%. Sedangkan Generasi Z (rentang usia 18 hingga 25) sebesar 39%. 

Lalu, mereka yang berusia di atas 35 tahun sebanyak 15%, dan di bawah usia 18 tahun hanya 5%.

Dari seluruh cuitan tersebut, sentimen negatif paling dominan, sebesar 87%. Netizen meluapkan ragam emosi, mulai bernada sedih, prihatin, kecewa, hingga marah terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19 secara maksimal. 

Ahmad Arif misalnya, melalui akun Twitter @aik_arif, terlacak paling awal menyebarkan kabar meninggalnya 100 dokter di media sosial Twitter. 

“Dan ini genap dokter yg ke-100, gugur karena Covid-19,” kicaunya pada 30 Agustus 2020.

Dia berharap korban ke-100 merupakan dokter terakhir yang meninggal akibat virus corona, meski dengan nada pesimistis. 

Senada dengan Ahmad Arif, kabar meninggalnya 100 dokter juga ditanggapi oleh Andi Khomeini Takdir, dokter yang juga influencer melalui akun Twitternya @dr_koko28.

Dalam cuitannya, Andi meminta pemerintah agar memiliki contingency-plan dalam penanganan Covid-19. Hal ini untuk mencegah lebih banyak lagi pelayan kesehatan yang tumbang. Andi mencuit agar sistem kesehatan jangan sampai kolaps, di tengah banyaknya tenaga medis yang berguguran.

"Negara kita sudah kehilangan 100 dokter terkait Covid19. Belum kehitung yang sakit dan yang dirumahkan," cuitnya pada 31 Agustus.

Sementara sentimen positif berada di angka 12%. Disusul sentimen netral sebanyak 1%. Cuitan netizen dalam hal ini berisi dukungan kepada pemerintah, sebagaimana diekspresikan pemilik akun Twitter @akma_K.

"Pak Menteri @KemenkesRI bisa gunakan seluruh tenaga militer @tni-ad @TNIAU @_TNIAL yang disiplin sebagai nakes," cuitnya pada 30 Agustus.

Aksi Nyentrik Warganet yang Viral Sepanjang 2020

Media sosial (medsos) menjadi sarana baru bagi masyarakat dalam menyampaikan pendapatnya mengenai hal tertentu, dari yang serius, bersifat privasi, hingga kelakar, dalam beberapa tahun terakhir. 

Saat konten yang disebarluaskan mendapat atensi netizen, potensi untuk viral kian membesar. Pemilik akun tersebut juga bakal mendapatkan benefit, seperti dikomentari, disukai, diperbincangkan, diunggah ulang oleh akun lain dari platform berbeda, hingga keuntungan materi.

Sepanjang Januari hingga Agustus 2020, Indonesia Indicator (I2) menghimpun lima konten jenaka yang diunggah warganet Indonesia dan viral di medsos. Pertama, aksi parodi balapan MotoGP dengan kearifan lokal yang diunggah akun Twitter @adalah_ilham pada 20 Januari 2020.

Konten ini telah membukukan 22.900-an retweet dan 26.000-an like. Akun resmi penyelenggara MotoGP pun dibuat terhibur karenanya hingga mengundang komentar.

"What a start! We think a few of our riders could give you some tips!" kicau @MotoGP, 22 Januari. Twit ini pun mendulang 1.100-an retweet dan 1.900-an likes.

Konten viral berikutnya diproduksi akun Instagram @dedeomat, 30 Januari. Dirinya mengedit dan mengaransemen musik video Risa, siswi SMP yang berbicara dalam bahasa Sunda–sebelumnya diunggah akun Twitter @nadivuck pada 26 Februari dengan keterangan, "Culametan met met". Unggahan akun dedeomat tersebut telah ditonton 1,535 jutaan netizen hingga 28 Agustus. 

Lalu, ada aksi kocak seorang bocah laki-laki bermain TikTok secara manual alias membuat konten video dengan memanfaatkan kamera pengawas (CCTV) di jalan, bukan melalui aplikasi di ponsel. 

Aksi bocah ini menggelitik, ia memainkan ekspresi wajahnya dan diiringi lagu “Bagaikan Langit” yang dipopulerkan grup musik Potret. Video yang diunggah akun Twitter @drugsfaxx itu direspons 1.000-an komentar, 38.700-an retweet, dan 44.200-an like warganet. Video ini juga viral di TikTok.

Selanjutnya, aksi unik warga Desa Kepuh, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang menjaga portal dengan menjadi pocong-pocongan agar anak-anak tidak keluar rumah dan disiplin beraktivitas di rumah saat pandemi Covid-19. Aksi ini pun sempat viral di Instagram dan Twitter. Langkah kreatif tersebut juga banyak dibagikan di grup WhatsApp. Lantaran menarik perhatian, media Korea Selatan, SBS.co.kr, memberitakannya.

Yang terakhir adalah #LathiChallange. Ini bermula saat beauty vlogger asal Indonesia, Jharna Bhagwani, mengunggah kreasi riasan wajahnya di platform Instagram, 18 Mei. Aksinya banyak menuai pujian dari berbagai kalangan hingga diikuti sejumlah netizen di berbagai platform media sosial. Hingga kini, video tersebut telah disaksikan lebih dari 17 juta warganet.

AKB vs New Normal, Mana yang Lebih Populer?

Pemerintah resmi mengubah istilah “new normal” menjadi "adaptasi kebiasaan baru" (AKB) pada 10 Juni 2020, karena dianggap memiliki diksi yang kurang tepat. 

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden ( KSP ) Brian Sriphastuti, seperti dikutip Kompas.com mengatakan istilah new normal sulit dipahami masyarakat karena menggunakan bahasa asing. New normal seharusnya dimaknai sebagai adaptasi perilaku dalam menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Namun, masyarakat hanya fokus pada situasi "normal", sementara saat ini COVID-19 masih belum sepenuhnya hilang di lingkungan sekitar. Sedangkan AKB menekankan masyarakat kembali berkegiatan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Penggunaan istilah new normal sempat viral dan menjadi perdebatan di media sosial. Bagaimana dengan AKB?

Indonesia Indicator (I2) menangkap terdapat total sebanyak 33.971 kicauan netizen Twitter membahas tentang penerapan AKB pada periode 10 Juni hingga 10 Agustus 2020. Dari jumlah itu, sentimen positif cukup mendominasi sebesar 61%, jauh mengungguli sentimen netral 25% dan sentimen negatif sebanyak 14%. Sentimen positif warganet berisi ajakan untuk menerapkan AKB, sebagaimana tercermin dalam cuitan pemilik akun Twitter @donyahmadmunir.

"Pemerintah sudah dan terus melakukan sosialisasi dan edukasi dalam penerapan AKB," tulis @donyahmadmunir pada 8 Agustus 2020.

Dipopulerkan Kang Emil

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil menjadi salah satu sosok yang turut memopulerkan AKB untuk menggantikan istilah lama new normal atau normal baru. Misal, cuitannya soal penggunaan istilah AKB yang diinisiasi Jabar sebagai narasi pengganti new normal

“Diinisiasi Jawa Barat, hari ini Pemerintah Pusat menggunakan istilah adaptasi kebiasaan baru (akb) sebagai narasi pengganti new normal. Hasil kajian, kata normal apapun imbuhannya masih dipahami sebagai kembali ke situasi sebelum covid. Mari beradaptasi dgn hati-hati dan bertahap," tulis @ridwankamil pada 10 Juni 2020.

Cuitan orang nomor satu di Jabar ini kemudian banyak dicuplik media sekaligus menjadikannya sebagai figur yang paling banyak dikutip media pada periode yang sama (9.810 pernyataan). 

Lulusan University of California, Berkeley itu juga menjadi media darling dan diberitakan sebanyak 2.133 berita. Pemberitaan Kang Emil di media online dikaitkan perannya dalam memastikan penerapan AKB di wilayahnya. 

Raihan Kang Emil sebagai figur tervokal jauh mengungguli Presiden Joko Widodo yang pernyataannya hanya dikutip sebanyak 5.156 kali. Hasil pemantauan data I2, Jokowi diberitakan sebanyak 2.319 berita, utamanya terkait isu penanganan COVID-19, penerapan protokol kesehatan, hingga program pemulihan ekonomi nasional. 

Nama-nama lain yang pernyataannya banyak dikutip media adalah eks Jubir Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto (4.241 pernyataan), disusul Reisa Broto Asmoro (3.895 pernyataan), Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution (2.816 pernyataan), Menhub Budi Karya Sumadi (1.767 pernyataan), Wali Kota Bandung Oded M Danial (1.528 pernyataan), Jubir Kementerian Perhubungan Adita Irawati (1.353 pernyataan), Sekda Prov Jabar Setiawan Wangsaatmaja (1.352 pernyataan), dan Wagub Jabar UU Ruzhanul Ulum sebanyak (1.346 pernyataan).

New Normal Lebih Banyak Digunakan

Di media mainstream, istilah new normal ternyata masih kerap digunakan sepanjang periode dua bulan terakhir. Catatan ini dihimpun dari 1.779 portal media online yang memberitakan mengenai AKB.

Pada periode tersebut, perusahaan intelijen media I2 mendapati pemberitaan yang menggunakan istilah new normal jauh mengungguli istilah AKB. New normal diberitakan media online sebanyak 115.967, sedangkan AKB hanya diberitakan sebanyak 35.645.

Meski demikian, pemberitaan AKB tersebar di hampir seluruh media daring di Indonesia. Dalam dua bulan terakhir, Republika tercatat paling aktif memberitakan penerapan AKB sebanyak 879 berita. Kemudian, kantor berita Indonesia, Antara memberitakan sebanyak 543 berita.

Media-media milik jaringan Grup Kompas Gramedia juga terpantau ramai memberitakan, misalnya Kompas (433 berita) dan Tribun News (380 berita). Sementara media lainnya adalah Sindo News (479 berita), Liputan 6 (411 berita), Detik (408 berita), Tribun News (380 berita), Binis Indonesia (363 berita), Pikiran Rakyat (356 berita), dan Kumparan (314 berita).

Sebaran berita AKB yang diangkat media online tersebut merata di berbagai wilayah Indonesia. Meski secara sebaran luas, terkonsentrasi di lima daerah atau provinsi yaitu Pulau Jawa, meliputi DKI Jakarta sebanyak 5.520 berita, Jabar 3.906, Jatim 1.005, Jateng 768, dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 711 berita.

Loading...
Loading...