Semarak Hari Pers Nasional Dalam Potret Media

Sukses dihelat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 8 Februari 2020, semarak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) menjadi topik dan isu yang banyak diangkat media online dan media sosial, baik sebelum dan sesudah perayaan. Hal ini terlacak melalui riset Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen Media dengan menggunakan piranti lunak artificial intelligence (AI) dari tanggal 1 hingga 20 Februari 2020. 

HPN yang diperingati setiap tanggal 9 Februari di jagad dunia maya pada periode tersebut tidak saja direpresentasikan melalui ragam isu dalam angka dan data, namun juga ditandai dengan munculnya sejumlah tokoh dan pejabat pusat hingga daerah yang turut mewarnai ramainya isu dan topik di media online dan sosial.   

Didominasi sentimen positif

Pantauan media menunjukkan topik Hari Pers Nasional (HPN) 2020 diberitakan sebanyak 6.129 berita dari 1.144 portal media online pada periode 1 hingga 20 Februari., didominasi isu dengan sentimen positif dengan angka 50%. 

Perayaan HPN di berbagai daerah memuncaki sebaran isu tertinggi  sebesar 65%, total ekspose muncul pada awal Februari dengan total menembus angka 3.487. Perayaan HPN 2020 menorehkan sejarah baru dengan hadirnya banyak tokoh nasional dan duta besar negara sahabat. Panitia HPN mencatat ada delapan menteri Kabinet Indonesia Maju hadir selama rangkaian acara HPN di Kalsel. Bahkan tak sekadar datang, mereka turut menjadi pembicara utama dalam seminar yang digelar. Selain para menteri, empat Staf Khusus Presiden milenial pun ikut memeriahkan HPN. Mereka adalah Putri Indahsari Tanjung, Gracia Billy Yosaphat Membrasar, Aminuddin Ma'ruf, dan Andi Taufan Garuda Putra, plus 20 duta besar bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga didampingi Ketua DPR Puan Maharani serta Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Isu terkait perayaan HPN di berbagai daerah dilambungkan media online dengan mengutip pernyataan Jokowi tentang insan pers dan wartawan. "Insan pers adalah teman saya sehari-hari, wartawan selalu ikut dalam setiap aktivitas dan kegiatan. Makanya bagi saya, insan pers selalu di hati dan selalu rindu,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya di HPN. 

Presiden Jokowi menjadi ‘bintang’ yang paling banyak dimintai keterangannya seputar HPN (3.499 statements), sekaligus figur yang paling banyak diberitakan oleh media atau top person (896 berita). 

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh menjadi figur kedua teratas yang paling banyak dikutip pernyataannya oleh media (top influencer) sebanyak 1.213 statements. Sedangkan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S Depari menjadi top person kedua setelah Jokowi, dengan 836 berita.

I2 merekam isu lainnya yang banyak diberitakan oleh media online, yakni pameran dan workshop  HPN di berbagai daerah sebesar 10% (276 berita). Ragam kegiatan HPN yang menarik juga tak luput diramaikan media online, misalnya kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Lamongan menggelar workshop jurnalistik yang cukup unik dengan melibatkan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan dari seluruh Polsek, dan Koramil se-Lamongan.

Media online juga ramai-ramai memberitakan peningkatan kualitas pers dengan jumlah 513 ekspose dan peresmian hutan pers sebanyak 478 ekspose. 

Isu mengenai kualitas pers Indonesia juga diangkat media online, hal ini merujuk pada pernyataan Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) bahwa pers tetap menjadi bagian penting dalam penegakan demokrasi dan supremasi masyarakat sipil. Termasuk pernyataan Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh yang mengharapkan Pers Indonesia bisa menjadi peredam dan penghangat pilkada serentak pada tahun 2020, sebagai cerminan dari pers berkualitas.

Ramai-Ramai Ucapkan Selamat HPN

Semarak HPN juga terjadi di Twitter. Tercatat ada 12.466 cuitan netizen pada periode yang sama. Warganet melambung ‘siulan’ HPN melalui lima hashtag tertinggi, yakni: #HPN2020DanPolri sebanyak 1.761 tagar dan #HPN2020 sebanyak 228. Lainnya terdapat tagar #HariPersNasional dan #haripersnasional.

Sentimen positif untuk topik Hari Pers Nasional 2020 mendominasi Twitter mencapai angka 84%. Besarnya sentimen positif di media sosial salah satunya disebabkan oleh antusiasme netizen dalam memberikan ucapan selamat atau memperingati Hari Pers Nasional.  

Menggunakan metode Social Network Analysis (SNA), riset Indonesia Indicator mendeteksi lima isu terpopuler yang juga direpresentasikan melalui persentase sebaran isu di Twitter, yakni: Polda Polri peringati HPN sebesar 46% (5.489 tweet). Cuitan ini dilambungkan melalui akun-akun resmi milik kepolisian, baik dari level pusat (Polri) hingga level daerah (Polda-Polres) yang juga aktif mengunggah ucapan Selamat Hari Pers hingga update mengenai kegiatan peringatan HPN yang dilakukan jajaran kepolisian bersama insan pers.

Ucapan Selamat HPN oleh netizen juga meramaikan Twitterland dengan total sebaran isu sebesar 41% (4.840 tweet). Ucapan Selamat HPN 2020 muncul dari akun individu, akun pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan lain-lain. 

Isu lain yang mewarnai Twitter adalah Perayaan HPN 2020 dengan sebaran isu 10% (1.135 tweet). Disusul isu bagi-bagi hadiah dengan sebaran isu 2% (246 tweet). Cuitan bagi-bagi hadiah di HPN ini diwarnai aksi bagi-bagi saldo dompet digital senilai Rp500.000. Kemudian, isu peresmian hutan pers sebanyak 1% (71 tweet), cuitan kegiatan ini terekspose melalui kegiatan Presiden Joko Widodo meresmikan Kebun Bibit Desa (KBD) dan Hutan Pers Taman Spesies Endemik Indonesia di Kalsel. Terakhir adalah terkait isu peningkatan kapasitas dan kualitas pers tercatat 28 tweet, isu yang dicuitkan netizen adalah dukungan Bank Negara Indonesia (BNI) terhadap peningkatan kapasitas jurnalistik hingga Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Sementara itu, sentimen negatif di media online datang dari pemberitaan terkait kekerasan terhadap pers dengan persentase sebaran isu 2% (128 ekpose). Isu yang diangkat meliputi kekerasan pada wartawan di berbagai wilayah saat menjalankan tugas, termasuk tujuh kasus kekerasan yang menimpa insan pers di Jawa Barat yang diungkapkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung.


Gemuruh MotoGP 2020 di Luar Lintasan

Perhelatan MotoGP World Championship musim 2020 dipastikan berjalan sesuai rencana. Sebanyak 22 pembalap dari 11 tim bakal beradu cepat di Losail International Circuit, Qatar, pada seri pertama. Event bergengsi ini rencananya digelar 8 Maret 2020.

Musim ini lebih panjang dari yang sudah-sudah. Pada 2020, balapan mencapai 20 seri. Perlombaan pemungkas digelar di Circuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol, pada 15 November 2020.

Walaupun saat ini ancaman wabah coronavirus jenis baru (Covid-19) tengah menjadi kasus kesehatan global, namun tak membuat promotor MotoGP, Dorna, menimbang ulang rencananya menghelat perlombaan. Kalaupun ada, hanya terkait potensi menunda balapan di Chang International Circuit, Thailand, pada 22 Maret. Itu pun masih sebatas wacana.

Meski baru akan dihelat empat pekan lagi, “gemuruh” pemberitaan media dan kicau netizen tentang MotoGP telah menggema sejak awal tahun. Bukti ajang kejuaraan dunia 1.000 cc ini belum kehilangan daya tariknya. Para penggemar seakan tak sabar menyaksikan jagoannya adu gesit di lintasan.

Beragam topik diperbincangkan warganet dan diulas sejumlah media massa. Seperti nasib perpanjangan kontrak Valentino Rossi oleh tim Monster Energy Yamaha, persiapan juara bertahan Marc Marquez, gelaran tes pramusim, gaji para pembalap, hingga perhelatan di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada musim 2021.

Geliat Rossi

Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen Media dengan menggunakan piranti lunak artificial intelligence (AI), merekam beragam isu yang ramai diulas di media massa dan netizen sejak 1 Januari -16 Februari 2020. Pada rentang itu, sebanyak 489 portal media online baik dari dalam dan luar negeri membahas MotoGP sebanyak 4.925 berita. Sedangkan di Twitter, warganet membahas gelaran perlombaan ini hingga 3.470 kicau.

Pembahasan di media dan media sosial didominasi oleh pembalap legendaris, Valentino Rossi. Porsinya 35% (1.105 artikel) di portal media online dan 31% (558 tweet) di Twitter. 

Masifnya pemberitaan tentang Rossi tak lepas dari intensnya dia melontarkan pernyataan (statement). Dus, menjadikannya figur tervokal sekaligus terpopuler di media online. Sebanyak 1.508 pernyataan Rossi dikutip media online dan namanya muncul dalam 1.781 berita. Data tersebut menunjukkan, pembalap veteran asal Italia ini masih menjadi ikon utama MotoGP.

Rossi banyak mendapat ekspos di media dikarenakan besarnya pemberitaan terkait hubungannya dengan tim Monster Energy Yamaha. Media memberitakan terkait kontrak Rossi dengan tim Garpu Gala yang berakhir sampai akhir musim 2020. MotoGP akan menjadi musim terakhirnya sebagai pembalap tim pabrikan Yamaha. 

Habisnya kontrak itu memunculkan isu duet Rossi dengan pembalap Jorge Lorenzo yang akan kembali pascapensiun dini, pada MotoGP 2021. Petronas Yamaha dikabarkan menjadi salah satu tim yang bakal menduetkan dua pembalap tersebut. Sebanyak 4% (119 artikel) membahas tentang wacana kembali berduetnya Rossi dengan Jorge Lorenzo.

Lorenzo memang sudah memutuskan pensiun dini pada penghujung 2019. Namun awal tahun ini, ia menerima tawaran Yamaha sebagai test rider atau pembalap penguji. Juara dunia MotoGP tiga kali itu diyakini come back sebagai pembalap utama. 

Banyak media mencuplik pernyataan Lorenzo. Sebanyak 678 komentarnya dikutip portal online. Artikel tentangnya pun termuat dalam 803 berita. Hal tersebut, menjadikan racer berpaspor Spanyol ini sebagai sosok tervokal keempat teratas dan terpopuler kelima. Mayoritas pembahasan tentangnya terkait wacana duet dengan Rossi maupun sebagai pembalap penguji Yamaha.

Isu lain yang lekat dengan Rossi di media online yakni rencananya untuk pensiun. Hasil musim 2020 ini akan menentukan karier balapan Rossi. Media online memberitakan spekulasi Rossi akan gantung helm tahun depan apabila prestasi yang diraihnya tak lebih baik dari musim lalu. Apalagi, prestasinya tak memuaskan pada balapan MotoGP 2019 lalu. Rossi yang dijuluki Rossifumi itu bertengger di peringkat ketujuh dan hanya dua kali naik podium tanpa sekali pun finis pertama. Pada musim 2020 ini, ia memasang target menembus posisi tiga besar klasemen. 

Ulasan ihwal posisinya digantikan Fabio Quartararo di Monster Yamaha, juga cukup intens. Nama Fabio Quartararo terus mendapat sorotan media usai disebut menggantikan Valentino Rossi sebagai pembalap baru tim Monster Yamaha di Tahun 2021. Sebesar 495 pernyataan Quartararo dikutip media online. Intensitas pemberitaannya mencapai 1.264 artikel. Menjadikannya sebagai figur terpopuler ketiga teratas dan tervokal keenam.

Sebagai pengganti Rossi di tim Monster Energy Yamaha, turut mengerek ulasan terkait Quartararo. Dari sebaran isu, terpantau narasi pengganti Rossi ini disoroti sebesar 14% (456 artikel). Di Twitter, netizen membahas isu ekspektasi terhadap Fabio Quantararo mencapai 12% (226 tweet).

Meski unggul di lintasan pada musim 2019, eksistensi Marc Marquez sebagai juara bertahan berada di bawah Rossi dalam pemberitaan maupun Twitter. Porsinya hanya 30% (953 artikel) di media online dan 15% (285 tweet) di platform “burung biru”. Pembahasan terkait Marquez seputar targetnya di MotoGP, berakhirnya status kontrak di tim Repsol Honda pada musim ini, hingga bahasan jajaran penantang Marquez di MotoGP 2020.  

Pembalap yang dijuluki The Bionic Man oleh fans MotoGP itu tercatat menjadi sosok kedua tervokal dan terpopuler di media online. Ia menyampaikan 1.091 pernyataan yang dikutip media daring sekaligus berada dalam 1.500 berita. 

Mengenai gelaran pramusim di Sepang, Malaysia–baik shakedown pada 2-4 Februari dan test pada 7-9 Februari–resonansinya di portal online sebesar 7% (228 artikel). Pun demikian di Twitter sebesar 7% (134 tweet).

Meski tak signifikan, tetapi sejumlah media daring juga membahas tentang besaran gaji para pembalap. Isu ini termuat sebesar 1% (23 artikel).

Gairah Warganet di Sirkuit Mandalika

Rencana balapan di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, juga ramai digunjingkan netizen di Twitter menembus angka 26% (492 tweet). Porsi pembicaraannya di media sosial jauh di atas obrolan tentang Marquez. Seperti diketahui, Sirkuit Mandalika akan menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan ajang MotoGP pada tahun 2021.  

Di sisi lain, pembahasan di portal online terkait proyek Sirkuit Mandalika mencapai 9% (289 artikel). Isu ini memunculkan nama Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marinves), Luhut Binsar Panjaitan dalam jajaran 10 besar tokoh tervokal di media online terkait MotoGP. Luhut menjadi satu-satunya pejabat pemerintah dalam kelompok teratas. Lainnya pihak berkepentingan (stakeholder) MotoGP. Seperti pembalap, mantan pembalap, serta kepala dan manajer tim.

Sebanyak 279 pernyataan Luhut dikutip media online. Sehingga, berada pada posisi kedelapan figur tervokal. Keterangan yang disampaikannya sebatas perkembangan pembangunan dan kesiapan Sirkuit Mandalika, NTB, pada musim depan.

Sementara itu, jika dilihat berdasarkan gender, merujuk hasil pemantauan di Twitter, MotoGP masih identik dengan "kaum Adam". Dari 3.470 cuitan, hanya 29% di antaranya yang disampaikan oleh netizen perempuan.

Dari dimensi usia, terpantau mayoritas merupakan milenial, generasi yang lahir pada awal 1980-an hingga awal 2000-an. Sebesar 41% berusia 26-35 tahun. Disusul 18-25 tahun sebesar 39%, di atas 35 tahun sebesar 13%, dan di bawah 18 tahun sebesar 7%.

Riuh Rendah Wacana Pemulangan WNI Eks ISIS di ‘Udara’

Wacana pemulangan 689 Warga Negara Indonesia (WNI) eks ISIS atau Foreign Terroris Fighter (FTF) dari Suriah ke Tanah Air menuai perdebatan publik.

Ide itu pertama kali disampaikan oleh Menteri Agama Fachrul Razi pada 1 Februari lalu di Hotel Discovery, Jakarta Utara. Saat itu, Fachrul menuturkan WNI yang dulu tergabung dengan ISIS tengah terlantar di wilayah Timur Tengah. Harapan Fachrul, pemerintah bisa melakukan pengawasan dan pembinaan setelah WNI eks ISIS tersebut dipulangkan ke Indonesia.

Namun belakangan, pernyataan Fachrul tersebut diklarifikasi oleh Kementerian Agama. Melalui staf khususnya, Ubaidillah Amin, menyatakan ada kesalahan informasi mengenai rencana pemulangan WNI eks ISIS. Proses pemulangan WNI eks ISIS dianggap tak mudah karena harus melalui pengkajian dan analisa mendalam.    

Kerasnya Gelobang Penolakan WNI eks ISIS

Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen Media dengan menggunakan piranti lunak Artificial Intelligence (AI) melacak isu pemulangan eks ISIS menjadi berbincangan masif warganet, khususnya di Twitter dalam rentang waktu 1-10 Februari 2020. Cuitan netizen dalam periode tersebut menembus angka 9.829, dengan puncak ekspos cuitan terjadi pada 6 Februari 2020, sebanyak 2.372.

Perbincangan netizen didominasi oleh kelompok gender laki-laki sebanyak 70%, sedangkan perempuan hanya sekitar 30%. Sebaran umur yang terekam, dominan berada di usia 26-35 tahun sebanyak 46% dan usia di atas 35  tahun sekitar 30%. Rentang umur tersebut secara umum memiliki persepsi politik yang sudah matang.

Pro-kontra pemulangan eks ISIS berlangsung jomplang, didominasi suara penolakan. Narasi ‘desakan terhadap Presiden Jokowi untuk menolak wacana pemulangan eks ISIS’ menjadi perbincangan utama netizen. Isu ini tercatat dicuitkan dengan angka tertinggi sebanyak 3.832 tweet. Disusul isu ‘pencabutan kewarganegaraan’ sebanyak 269 cuitan.

Lalu, isu ‘perbandingan pemulangan WNI Wuhan & WNI ISIS’ dicuitkan sebanyak 167. Netizen mengkritik komentar Ketua DPP Partai Keadilan Sosial (PKS) Mardani Ali Sera yang membandingkan pemulangan WNI dari Wuhan, China akibat penyebaran virus corona  dengan WNI mantan ISIS. Dalam keterangan resminya, Mardani mengatakan kombatan ISIS bertatus WNI dan merupakan korban yang harus ditolong negara, sama seperti WNI yang terkena ancaman virus corona.

Wacana penolakan juga muncul melalui isu ‘desakan mencopot Menteri Agama Fachrul Razi’ dengan intensitas cuitan sebanyak 50. Netizen kecewa dengan Fachrul yang dianggap tidak tegas terhadap intoleransi. Twitter juga diramaikan kritik terhadap sikap Komisioner Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) M. Choirul Anam yang mendukung wacana pemulangan. Isu itu dicuitkan sebanyak 95 cuitan.

Terpantau juga pihak pemerintah ramai-ramai menolak dan membantah wacana itu. Presiden Jokowi berulangkali membantah, lalu pada Rabu (12/1) menegaskan kalau pemerintah tidak memiliki rencana memulangkan kombatan ISIS ke Tanah Air, demi  menjaga keamanan 260 juta penduduk Indonesia.

Sejumlah menteri dan lembaga non kementerian juga menyatakan menolak pemulangan WNI eks ISIS. Mereka adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius. Bahkan Menteri Agama Fachrul Razi – yang semula mengembuskan wacana itu – juga ikut menolak. Dia meluruskan bahwa wacana itu tidak benar.

Secara umum, argumen penolakan pihak pemerintah mengerucut pada alasan memberi rasa aman dari ancaman teroris, untuk melindungi Indonesia dan seluruh warganya, sudah meninggalkan status kewarganegaraan untuk menjadi ISIS, dan kengerian terhadap mantan ISIS kalau mereka mengganas melalui aksi terror apabila kembali ke Indonesia.

Banjirnya penolakan juga terlihat dari lima tagar teratas yang dicuitkan, yaitu: #TolakEksWNIProISIS (sebanyak 1.383 tagar), #TolakEksISIS (551), #CabutStatusWNIProISIS (463), #DukungJokowiBerantasISIS sebanyak (411), #CegahISISmasukNKRI (353), dan #ISISGoToHell (289).

Sementara itu, hanya sedikit netizen yang mendukung wacana pemulangan eks ISIS,  yakni sebanyak 16 cuitan. Pola cuitan yakni meretweet berita terkait pernyataan Mardani dan Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon yang mendukung wacana pemulangan WNI eks ISIS.

Sikap mendukung pemulangan FTF juga ditunjukkan oleh organisasi masyarakat, politisi, dan lembaga non pemerintah. Mereka adalah Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, politisi Gerindra Fadli Zon, Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Sekjen MUI Anwar Abbas, serta Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra Putra. Sebagian besar menyatakan mendukung pemulangan eks ISIS, meski membubuhkan catatan.

Argumentasi dukungan terhadap pemulangan eks ISIS secara umum mengacu pada pertimbangan kemanusiaan, kewajiban konstitusional melindungi warga negara Indonesia, dan mendukung pemulangan dengan catatan direhabilitasi. Selain itu, eks ISIS dianggap korban yang didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak.

Kendati demikian, sikap berbeda terlihat dilakukan oleh Nahdlatul ‘Ulama (NU). Organisasi Islam terbesar di Indonesia itu secara tegas menyatakan menolak pemulangan bekas ISIS karena dianggap telah meninggalkan negara.  

Alasan Menolak dan Mendukung Pemulangan

Riset Indonesia Indicator merangkum sejumlah alasan penolakan netizen terhadap pemulangan WNI eks ISIS. Warga Twitter bertumpu pada sejumlah argumen, yakni: telah membakar paspor Indonesia untuk bergabung ISIS sekaligus cerminan melepas status WNI. Selain itu juga alasan keamanan. Eks ISIS dianggap sudah terpapar ideologi ISIS sehingga dikhawatirkan menyebarkan paham radikal di Indonesia, bahkan dikhawatirkan melakukan aksi teror di Indonesia.

Lalu, program deradikalisasi di dalam negeri dinilai belum optimal lantaran masih muncul serangkaian aksi terorisme. Kombatan juga dianggap telah melanggar HAM karena pernah bergabung dengan ISIS yang acap kali memamerkan aksi super sadis. Alasan terakhir, netizen menganggap lebih baik pemerintah mengurusi kesejahteraan warga di dalam negeri daripada WNI yang sudah terpapar doktrin paham radikal.

Sebaliknya, netizen yang mendukung pemulangan bertumpu pada faktor kemanusiaan. Lainnya, mengacu pada pemulangan WNI asal Wuhan. Kombatan ISIS dinilai masih berstatus WNI sehingga harus diurus negara, sebagaimana WNI yang terkena ancaman virus corona.

Terlepas dari argumen pro dan kontra pemulangan 689 WNI ini, Presiden Jokowi telah menyebut mereka sebagai ISIS eks WNI. Bahkan, Jokowi meminta agar mereka diidentifikasi secara detail guna mengetahui identitasnya sebagai langkah antisipasi apabila menyusup masuk ke Indonesia.

Meramu Kebenaran dengan Sistem Big Data

Penyelenggaraan survei yang mengandalkan data primer (informasi individu), terutama survei nasional dengan sampel besar, dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang kemungkinan akan sepi peminat. Hal itu bukan hanya karena aspek pembiayaan yang cenderung mahal, proses koleksi dan pengolahan data yang cenderung lama, melainkan juga masalah tuntutan kualitas serta kecukupan data. Seturut dengan perkembangan teknologi digital informatika, kehadiran Big Data menjadi pilihan yang lebih menarik.

Loading...
Loading...