Pahlawan Covid-19 dalam Sudut Pandang Media

Berada di barisan terdepan dalam menangani pasien coronavirus diseases atau Covid-19, paramedis atau tenaga medis mendapat perhatian penting baik di media online dan media sosial. Hal ini terekam dalam riset Indonesia Indicator (I2) pada periode 1 Maret hingga 6 April 2020. Pada periode itu, pemberitaan tentang paramedis di media online mencapai 97.912 berita dan ada 180.409 cuitan netizen di media sosial Twitter. 

Paramedis dan media

Paramedis yang gugur dalam tugas di tengah pandemi corona mendapat perhatian besar dari media online. Isu ini diangkat dalam 16.923 berita. Media online mengangkat isu meninggalnya 19 dokter selama pandemi covid-19, termasuk imbauan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) agar seluruh dokter menjaga kesehatan dan kebersihan, menyusul bertambahnya kasus meninggal pasien coronavirus.

Sama halnya dengan media online, kabar gugurnya para tenaga medis menjadi isu terbesar di Twitter. Sebanyak 44.118 cuitan berbagai ucapan dan doa, juga ungkapan duka dari netizen. Secara total, seluruh cuitan yang membicarakan perjuangan pahlawan kesehatan covid-19 ini sebanyak 180.409 cuitan. 

Selain kasus meninggalnya paramedis, media daring dan warga Twitter juga terpantau membahas mengenai rapid test atau tes cepat, masing-masing sebanyak 8.237 berita dan 5.163 cuitan. 

Di media online, diberitakan terkait permintaan Jokowi untuk memprioritaskan tes cepat Covid-19 terhadap petugas medis dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Aksi donasi untuk penanganan Covid-19 juga tak luput dari pemberitaan media online. Isu ini diberitakan sebanyak 10.735 berita. Donasi hingga penggalangan dana menjadi fokus media online untuk menggugah nurani publik agar membantu memenuhi kebutuhan alat pelindung diri (APD) para petugas medis. Isu aksi donasi ini juga menjadi perbincangan hangat di Twitter, sebanyak 2.331 cuitan. 

Sejumlah isu lainnya yang juga menjadi perhatian media online adalah anjuran menggunakan masker sebanyak 6.537 berita. Dalam isu ini, banyak media online mengangkat sosok dokter muda Clarin Hayes yang viral karena membahas soal masker N95, dan upaya edukasinya untuk masyarakat seputar Covid-19.

Media juga terpantau mengapresiasi tenaga media. Paramedis dinilai sebagai pahlawan sesungguhnya sehingga menuai pujian yang dimuat dalam 4.483 pemberitaan. Lalu, isu rumah sakit (RS) darurat Covid-19 sebanyak 4.186 berita dan stigma negatif terhadap tenaga medis sebanyak 486 berita. Sejumlah media online mengangkat kondisi miris paramedis yang diusir dari tempat tinggal karena dikhawatirkan menjadi pembawa (carrier) virus.

Netizen Twitter juga memberikan ungkapan apresiasi terhadap paramedis dalam 3.812 cuitan. Netizen mendukung dan mengapresiasi dedikasi tenaga medis yang berjuang siang malam demi kesembuhan pasien Covid-19. 

Doa dan dukungan bagi paramedis

Selain menghimpun isu-isu terbesar tentang perjuangan paramedis dalam menangani Covid-19 di media sosial online dan media sosial, riset I2 juga mencatat tiga emosi dominan netizen dalam perbincangan tentang perjuangan pahlawan kemanusiaan ini. 

Emosi trust (percaya) terpantau paling banyak dicuitkan, sebanyak 17.220 cuitan. Netizen menyuarakan dukungan, apresiasi, hingga rasa hormat terhadap jasa paramedis.

Emosi trust ini salah satunya disuarakan pemilik akun Twitter @wignyaaa pada 5 April pukul 19:05, 

“Semangat tenaga medis, TNI, Polri, ojol, pedagang dan pekerja...,” tulis pemilik akun tersebut.

Emosi anticipation atau harapan dicuitkan hingga 11.320 cuitan. Warganet mengungkapkan harapan agar para petugas medis selalu diberikan kesehatan dan keselamatan, termasuk harapan agar donasi terus bergulirnya untuk memenuhi kebutuhan APD bagi petugas medis.

Pemilik akun @tirta_hudhi misalnya mencuitkan donasi masker ke masyarakat yang masih bekerja di jalanan seperti driver ojek online, pedagang kaki lima, hingga pemulung.

“Biar APD untuk tenaga medis. Itu saran saya,” tulis @tirta_hudhi pada Jumat 3 April pukul 21:22.

Emosi sadness (sedih) juga terpantau diekspresikan netizen sebanyak 9.474 cuitan. Cuitan-cuitan kesedihan netizen bermunculan lantaran banyaknya tenaga medis di Indonesia yang gugur ketika menjalankan tugasnya.

Sementara itu, tingginya pemberitaan tentang paramedis di media online tak lepas dari influencer yang menjadi rujukan pemberitaan dalam membahas petugas medis. Dari jajaran 10 top influencer, tujuh di antaranya merupakan pejabat pemerintah pusat dan daerah. Sisanya, merupakan figur di bidang kedokteran.

Juru Bicara Pemerintah terkait penanganan virus corona, Achmad Yurianto menjadi rujukan utama media (20.720 pernyataan), disusul Presiden Joko Widodo (15.915 pernyataan), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (8.175 pernyataan), Dokter Erlina Burhan (4.802 pernyataan), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (4.173 pernyataan), Ganjar Pranowo (4.016 pernyataan), Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo (3.285 pernyataan), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (3.203 pernyataan), Ketum PB IDI Daeng M Faqih (2.235 pernyataan), dan terakhir Dirut RSPI Sulianti Saroso Mohammad Syahril (1.735 pernyataan).

Riset I2 juga mencatat ada 10 top person atau tokoh yang paling banyak diberitakan media terkait peran paramedis dalam penanganan Covid-19. Mereka adalah para pemangku kebijakan publik baik pemerintah pusat maupun daerah. Yakni, Presiden Joko Widodo (8.757 berita),

Achmad Yurianto (4.736 berita), Anies Baswedan (2.359 berita), Doni Monardo (1.667 berita), Ridwan Kamil (1.125 berita), Ganjar Pranowo (1.008 berita), Khofifah Indar Parawansa (993 berita), Menteri BUMN Erick Thohir (954 berita), Menteri Perhubugnan Budi Karya Sumadi (878 berita), dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (791 berita).


"Deru" Penundaan Formula E di Media Sosial

Pandemi Coronavirus (Covid-19) memaksa Gubernur Jakarta Anies Baswedan menunda gelaran ajang balapan Formula E yang rencananya dihelat di kawasan Medan Merdeka. Penundaan tersebut tertuang dalam surat resmi dengan nomor 117/-1.857.73, ditujukan kepada Organizing Commitee Jakarta E-prix tertanggal 9 Maret.

Keputusan Pemprov Jakarta tersebut menjadi sorotan media online yang terekspose melalui berbagai judul pemberitaan. Riset Indonesia Indicator (I2) pada tanggal 10 hingga 16 Maret 2020 mencatat ada 907 berita media online, mengulas penundaan event Formula E di Jakarta.

Mula-mula jumlah pemberitaan Formula E hanya berjumlah puluhan. Pada 10 Maret misalnya tercatat hanya 56 ekspos berita, namun angka ini terus merangkak signifikan dan memuncak pada 11 Maret, yakni sebanyak 504 ekspose berita. Memasuki 12 Maret, jumlah pemberitaan di media online menurun drastis sebanyak 174 berita, dan terus susut ke angka 86 pada 13 Maret. Puncak penurunan pemberitaan Formula E terjadi pada 16 Maret, yakni hanya sebanyak 23 ekspose pemberitaan.

Reaksi atas penundaan Formula E

Berbeda dengan dengan media online, total ekspos di Twitter justru cukup tinggi. Indonesia Indicator mencatat ada sebanyak 9.227 cuitan netizen membahas penundaan Formula E yang diekspresikan dengan berbagai emosi.  Awalnya, pada 10 Maret, ekspos cuitan hanya berjumlah ratusan, yakni sebanyak 284 cuitan.

Namun, reaksi netizen atas penundaan Formula E terus terjadi dan melonjak signifikan mencapai 3.543 cuitan pada 11 Maret. Rupanya di tanggal ini merupakan puncak letupan ekspresi dan reaksi warganet. Terbukti, terjadi tren penurunan cuitan secara perlahan pada 12 Maret, yakni sebanyak 3.641. Barulah pada tanggal 13 Maret terjadi penurunan angka drastis sebanyak 821 cuitan, 14 Maret sebanyak 781, 15 Maret 526, dan terakhir pada 16 Maret tercatat hanya 28 cuitan.

Reaksi dan ekspresi warganet atas kebijakan Anies menunda ajang balap mobil bergengsi itu terangkum dalam sejumlah emosi dan perasaan yang diidentifikasi oleh sistem Intelligence Perception Analysis (IPA). Emosi yang dominan adalah trust atau percaya yang muncul melalui cuitan-cuitan bernada dukungan terhadap kebijakan Gubernur Anies Baswedan menunda pelaksanaan Formula E di Jakarta. Tercatat ada sebanyak 306 cuitan berisi dukungan terhadap Pemprov DKI.

Emosi disgust atau muak juga muncul melalui perdebatan sengit netizen ihwal penundaan Formula E. Tercatat ada sebanyak 301 cuitan dengan polarisasi perdebatan yang cukup tajam pendukung dan penentang kebijakan Anies. Kelompok kontra Gubernur Jakarta menganggap Anies hanya mencari panggung terhadap isu Covid-19. 

Berikutnya, emosi anticipation atau harapan sebanyak 283 cuitan. Netizen dalam hal ini berharap agar pelaksanaan Formula E dibatalkan dan anggarannya dialihkan untuk penanganan banjir di Jakarta. 

Indentik Dengan Pria

Ajang balap mobil Formula E masih identik sebagai olahraga kaum pria. Hal ini tergambarkan dari besarnya perhatian kaum Adam, yakni 73,2% atau 2.184 akun. Sebaliknya, akun kaum perempuan yang merespons Formula E tidak menembus angka seribu, hanya 798 akun atau 26,8%.

Berdasarkan rentang umur, Formula E masih menjadi favorit tontonan bagi kelompok umur Generasi Z dan Milenial, meski cukup banyak juga dari kelompok umur di atas 35 tahun yang membahas Formula E. 

Pada rentang umur 18 hingga 25 tahun, jumlah akun yang mencuitkan Formula E cukup tinggi, ada sebanyak 1.030 akun atau 39,2%. Disusul rentang usia 26 hingga 35 tahun dengan jumlah akun sebanyak 839 akun atau 31,9%. Mereka yang berusia di atas 35 tahun tercatat 681 akun turut memperbincangkan ajang Formula E atau jika dipersentase menjadi 25,9%. Hanya sejumlah kecil yang teridentifikasi sebagai akun yang berusia di bawah 17 tahun, yakni 3% (79 akun).

Berdasarkan sebaran akun Twitter yang membahas Formula E yang dapat diidentifikasi oleh sistem IPA, persebarannya dapat dikatakan masih terpusat di DKI Jakarta. Artinya, isu ini masih di level isu daerah atau lokal, belum menjadi isu nasional. Indonesia Indicator mencatat sepuluh wilayah di Tanah Air dengan aktivitas akun terbanyak. DKI Jakarta tercatat paling tingggi sebanyak 485 akun, disusul Jawa Barat 28 akun, Jawa Tengah 22 akun, Jawa Timur 20 akun, Kalimantan Timur 18 akun, Kepulauan Riau 9 akun, Bali 8 akun, Kalimantan Tengah 6 akun, Kalimantan Selatan 5 akun, dan terakhir Nusa Tenggara tercatat hanya 5 akun.

Sentimen Warganet

Sentimen negatif warganet mendominasi penundaan ajang Formula E oleh Anies Baswedan, dengan angka cukup tinggi, yakni 5.514 cuitan atau 58,25%. Disusul sentimen positif dengan angka cuitan sebanyak 3.023, atau 31,9%. Sentimen netral tercatat sebanyak 943 cuitan atau 9,9%. 

Perdebatan politis antarnetizen menjadi salah satu pemicu tingginya sentimen negatif dalam isu penundaan ajang Formula E tersebut. Indikasinya adalah adanya polarisasi pendukung Pilpres 2019 yang masih kental terasa dalam perdebatan seputar penundaan ajang Formula E tersebut.

Akhir Kisah Dilan-Milea yang Bikin Baper Lini Masa

Film Milea Suara dari Dilan melanjutkan tongkat estafet kesukesan sekuel film Dilan sebelumnya yang meraih jutaan penonton. 

Film yang dialih wahana dari novel berjudul sama karya Pidi Baiq ini menjadi film pertama di Indonesia yang mendapatkan jumlah penonton di atas 3 juta orang tahun ini.

Meski masih jauh dari dua film terdahulunya, Dilan 1990 (2018) dengan 6,3 juta dan Dilan 1991 (2019) dengan 5,3 juta penonton, namun Milea Suara dari Dilan tetap diburu Dilanisme - sebutan untuk pecinta novel dan trilogi film Dilan. Lini masa Twitter turut dibuat baper dengan film pemungkas trilogi Dilan. Seperti pemantauan Indonesia Indicator (I2), pada 1 Februari - 9 Maret 2020 yang dihasilkan dari pemanfaatan piranti lunak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ada 4.252 cuitan netizen media sosial Twitter, terkait film Milea. Film ini tercatat lebih populer di media sosial dibandingkan media online yang hanya terdapat 908 berita.

Emosi anticipation atau harapan dominan mengisi perbincangan netizen terkait film Milea (368 tweet). Warganet banyak mengutarakan keinginannya menonton film Milea, dengan didampingi seorang kekasih. Seperti yang dicuitkan oleh pemilik akun @Rhmawtputri.

"Pengen nonton milea, pengen nonton teman tapi menikah, pengen ada yang nemenin nonton itu semua," tulisnya, Kamis 5 Maret 2020 pukul 17.55.

Emosi anticipation juga tertangkap pada siulan netizen yang mengungkapkan mendapat pesan moral setelah menonton Milea Suara dari Dilan.

"Habis ntn milea. pesan moral: jangan jadi dilan dan milea yang suka gengsi, greget," tulis pemilik akun @mautausajahhh pada Jumat, 21 Februari 2020 pukul 14.40 siang. 

Emosi sedih turut didengungkan netizen (272 tweet). Banyak masyarakat Twitter yang sedih usai menonton Film Milea. Emosi sedih juga tertangkap dicuitkan warganet yang mengungkapkan kesedihannya lantaran menonton sendiri di bioskop. Pemilik akun @rdtrifah, misalnya, menuliskan keinginannya untuk menonton trilogi terakhir Dilan tersebut, namun tak punya teman. 

"Pengen nonton Milea dan TTM. Tapi gak punya teman :( Sedih akutu," cuitnya pada Senin, 9 Maret 2020, pukul 20:28. 

Pun demikian dengan akun @windyarsandaa yang bersiul, "sedih dah gaada yang ngajak nonton milea :(," paparnya pada Jumat, 21 Februari pukul 14:40. 

Netizen juga mengunggah cuitan dengan emosi sedih karena film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi itu membawa kembali kenangan lama dan teringat mantan.

Emosi bahagia atau senang (Joy) turut mewarnai cuitan netizen (184 tweet). Akun @MelisaWu mencuitkan kekagumannya terhadap pemilihan tempat yang menjadi lokasi syuting Milea.

"Watching Milea movie memang bikin bulu kuduk merinding karena aku bukan bucin, tp seneng banget ngeliat pemilihan tempat & suasana, adem aja gitu di Bandung. Jadi mau pindah kesana," cuitnya pada Sabtu, 22 Februari pukull 17.00. 

Terdapat pula netizen yang merasa sebal dan muak, dengan karakter Milea yang dianggap netizen menyebalkan. Emosi sebal ini terpantau dicuitkan hingga 76 tweet.

Sejumlah tagar pun menjadi populer di aplikasi "Burung Biru". Seperti, #Milea (59 tweet),  #Dilan (36 tweet), dan #AkuMauKaosMilea(10 tweet).

Secara sebaran demografi netizen, film Milea yang diperankan aktor Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla masih menjadi magnet utama bagi kaum perempuan. Sebanyak 52,2% netizen perempuan lebih banyak membahas film tersebut di media sosial.

Sementara itu, generasi Z dengan rentang umur 18-25 tahun menjadi netizen yang paling banyak membicarakan film Milea (48%). Di posisi kedua, ada generasi milenial dengan rentang umur 26-35 tahun (41%). Lalu sisanya, usia di bawah 18 tahun (6%) dan di atas 35 tahun (5%).

Isu demam berdarah tenggelam oleh coronavirus

Perkembangan kasus virus corona di dunia semakin membesar. Hampir setiap hari ada saja informasi dari sebuah negara yang menyampaikan perkembangan kasusnya. Baik itu jumlah yang terkonfirmasi positif hingga pasien yang meninggal akibat virus corona.

Apalagi Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, telah menyatakan darurat internasional terkait wabah virus corona yang mematikan. Virus yang juga disebut 2019-nCov ini setidaknya menjangkiti 153.517 orang (per 15 Maret) dan menewaskan 5.735 orang (per 15 Maret) di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, pemerintah telah mengumumkan 117 orang (per 15 Maret) dinyatakan positif virus corona dan pasien yang meninggal positif virus corona sebanyak lima orang (per 15 Maret).

Penyebaran itu tidak terlepas dari belum ditemukannya vaksin yang tepat untuk mengatasi virus corona. Sejumlah negara maupun perusahaan swasta memang telah mengumumkan sedang dalam proses mencari formula yang tepat, tetapi belum ada satu pun yang telah menemukan vaksin yang tepat untuk menanggulangi virus corona.

Dua situasi tersebut membuat media online dan warganet di media sosial menjadi lebih memperhatikan perkembangan virus corona dibandingkan penyebaran penyakit lain. Padahal, untuk Indonesia ada penyakit lain sedang mewabah dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Salah satunya adalah demam berdarah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penderita demam berdarah di Indonesia sampai dengan 12 Februari mencapai 6.639 kasus dengan 49 kematian di seluruh Indonesia. Empat daerah telah menyatakan kejadian luar biasa (KLB), yaitu Kabupaten Sikka (567 penderita, empat kasus kematian), Kabupaten Temanggung (48 penderita, satu kasus kematian), Kabupaten Lampung Tengah (197 penderita, tiga kematian) dan Kabupaten Ciamis (106 penderita, tiga kematian).

Tidak imbangnya pemberitaan di media online terhadap pemberitaan virus corona dan demam berdarah terkonfirmasi juga dari hasil analisis Indonesia Indicator (I2) pada periode 1 Januari hingga 13 Maret 2020. Selama periode ini ditemukan, pergerakan ekspos konsisten naik terkait topik wabah demam berdarah. Meningkatnya pemberitaan terjadi seiring semakin meluasnya wabah DBD di Indonesia.

Tercatat, ekspos media online terhadap virus corona pada Januari sebesar 32.032 berita, sedangkan demam berdarah 2.207 berita atau hanya 6,8% dari jumlah berita tentang Corona. 

Bahkan pada Februari, besaran ekspos terhadap virus corona semakin meningkat, mencapai 95.584. Sedangkan isu demam berdarah 2.538 berita atau hany 2,6% dari jumlah berita tentang corona. 

Pun demikian dengan Twitter. Netizen platform “Burung Biru” lebih banyak mencuitkan soal corona ketimbang DBD. Pada Januari, ada 235.616 cuitan terkait virus corona dan 1.743 cuitan atau hanya 0,6% yang membahas demam berdarah. Pada Februari, ada 311.905 cuitan terkait virus corona dan 1.810 cuitan terkait demam berdarah (0,5%). 

Di bulan Maret, ekspos pemberitaan dan cuitan warganet melonjak tinggi seusai sejumlah Pemda mempublikasikan penetapan kejadian luar biasa (KLB) DBD untuk wilayahnya menyusul banyaknya korban yang terus bertambah. Kabupaten Sikka tercatat memiliki jumlah kasus terbanyak. Walaupun demikian, secara persentase, jumlah ekspos DBD masih jauh daripada corona.

Total pemberitaan media online di bulan Maret terhadap virus corona sebanyak 116.283, sedangkan demam berdarah sebesar 2.974. Di Twitter, angka cuitan terkait DBD mencapai 5.996 cuitan, sedangkan soal corona tercatat 800.801 cuitan.

Jumlah korban menjadi sorotan

Perkembangan jumlah korban menjadi sorotan media online dan Twitter. Di media online, isu ini menyita perhatian hingga 29%, sedangkan di Twitter mencapai 39%. Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus DBD di Indonesia sudah menembus angka 16.000, pada periode Januari sampai awal Maret 2020 tersebut. Dari jumlah itu, 100 jiwa meninggal dunia. 

Narasi pencegahan terhadap demam berdarah juga turut menjadi perhatian media (22%). Media pun banyak memberitakan upaya antisipasi, tips dan anjuran yang perlu diperhatikan untuk mencegah DBD semakin meluas. 

Media juga menyoroti sebaran daerah terdampak DBD (16%), secara khusus menyoroti Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Kabupaten Sikka, yang kini sudah berstatus KLB. Pernyataan Menkes Terawan yang menyebut wabah DBD tidak bisa diabaikan meski Pemerintah saat ini tengah fokus menangani virus corona, menjadi salah satu yang banyak diberitakan. 

Narasi pemberitaan juga berkembang ke arah perbandingan dampak wabah virus corona dengan DBD (14%). Isu ini juga riuh disiulkan oleh pengguna Twitter, jumlahnya mencapai 12%. Cuitan netizen terkait penanganan pemerintah terhadap corona yang dinilai lebih optimal dibandingkan  penanganan DBD yang jumlah korbannya sudah lebih tinggi.

Tibanya musim penghujan juga selalu menjadi momok yang kerap dihubungkan dengan munculnya wabah demam berdarah (12%). Terlebih kondisi seperti di Jabodetabek yang diperparah dengan terjadinya banjir berulang kali. Sementara gerakan ajakan untuk memulai hidup sehat atau biasa dikenal dengan 3M justru tidak terlalu terlihat dominan disampaikan warganet.

Dari sisi demografi, cuitan warganet yang disurvei I2 lebih didominasi oleh mereka yang berusia 18-25 tahun (1.494 akun), kemudian diikuti mereka yang berusia 26-35 tahun (1.466 akun). Sedangkan sebaran gender didominasi oleh perempuan, yakni sebesar 2.225 akun, sementara laki-laki sebesar 2.225 akun.

 

Loading...
Loading...