Pandemi Koyak Biduk Rumah Tangga

Pandemi coronavirus baru (COVID-19) yang terjadi sejak awal 2020 memiliki dampak berganda (multiplier effect). Selain menguji daya tahan kesehatan masyarakat dan pendidikan, pagebluk turut mengguncang sektor ekonomi sehingga memengaruhi “imunitas finansial” level terkecil, rumah tangga. Imbasnya, biduk rumah tangga koyak dan angka perceraian meningkat.

Fakta ini selaras dengan catatan Direktorat Jenderal Badan Pengadilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA). Saat awal penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)–yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II-2020 kontraksi minus 5,32% pada April-Mei, angka perceraian masih di bawah 20.000 kasus. Kemudian melonjak menjadi 57.000 kasus pada Juni-Juli.

Gugatan cerai dominan terjadi di Pulau Jawa–wilayah dengan angka kasus Covid-19 tertinggi dan terdampak terbesar pandemi. Tingginya angka perceraian pada medio tahun ini disinyalir karena Pengadilan Agama sempat berhenti beroperasi sementara saat PSBB, yang memaksa pengetatan aktivitas di luar rumah. Sementara itu, merujuk data Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), sekitar 6 juta pekerja terdampak pandemi. Mereka terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun dirumahkan, sehingga pendapatan berkurang drastis hingga hilang.

Dengan begitu, pandemi memperkuat tren peningkatan angka perceraian dalam beberapa tahun terakhir. Perinciannya, berdasarkan data MA, 394.246 kasus (2015), 401.717 kasus (2016), 415.510 kasus (2018), 480.618 kasus (2019), dan 306.688 kasus (per Agustus 22020). Angka tersebut, menurut Kementerian Agama, rerata mencapai seperempat dari 2 juta pernikahan dalam setahun.

Fenomena ini pun mendapat sorotan dari media daring (online). Berdasarkan pengamatan Indonesia Indicator (I2), terdapat 35.495 artikel tentang perceraian yang diberitakan 1.538 portal di Indonesia sepanjang Januari-Agustus. Berita perceraian didominasi kelompok media Kompas Gramedia, yakni Tribunnews.com, sekaligus menjadi media daring paling gencar memberitakan perceraian dengan 1.661 artikel. Kemudian Grid.id (1.113 artikel), Bangka Pos (613 artikel), Warta Kota (574 artikel), dan Kompas.com (489 artikel). Ini tak lepas dari jaringan yang tersebar senusantara dan acapkali artikel di satu media dimuat ulang di sindikasinya.

Media lain yang juga banyak memberitakan terkait topik perceraian adalah Suara.com (704 artikel), Detik.com (651 artikel), Okezone.com (578 artikel), Kumparan.com (390 artikel), dan Galamedia (315 artikel).

Pemberitaan tentang perceraian nyaris tersebar di seluruh wilayah–terbanyak di bagian barat, khususnya Pulau Jawa dan Sumatera. Tertinggi di DKI Jakarta dengan 2.441 artikel, disusul Jawa Barat 1.994 artikel, Jawa Timur 896 artikel, Bali 695 artikel, Jawa Tengah dan Sumatera Utara masing-masing 439 artikel, Sulawesi Selatan 349 artikel, Jambi 269 artikel, Aceh 255 artikel, dan Nusa Tenggara Barat 203 artikel.

Frekuensi pemberitaan mengenai perceraian tergolong besar pada awal 2020, utamanya jelang pandemi di Indonesia pada Januari-Februari. Intensitasnya merosot seiring pemerintah memberlakukan PSBB, sehingga media cenderung menyoroti berbagai upaya penanganan wabah. Namun, ekspos berita perceraian kembali melonjak signifikan pada Juni hingga Agustus lantaran dampak pandemi kian dalam. Pun terpengaruh penyetopan sementara layanan Pengadilan Agama yang berdampak terhadap merosotnya gugatan cerai pada April-Mei.

 

 

 

 


Harap-harap Cemas Wacana Sepeda Masuk Tol

Wacana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan memanfaatkan tol dalam kota untuk sepeda road bike menuai beragam reaksi dari warganet Twitter. 

Rencana penerapan kebijakan sepeda masuk tol muncul saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan permohonan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) untuk menggunakan satu jalur tol dalam kota khususunya Kebon Nanas-Tanjung Priok guna jalur sepeda road bike. Satu ruas tol tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer (km) hingga 12 km.

Salah satu netizen Twitter dengan akun @JuveBadutEropa mengatakan kebijakan ini hanya menguntungkan bagi warga dengan kelas sosial menengah ke atas. Pasalnya, harga sepeda jenis road bike bisa selangit dan hanya terjangkau bagi warga berkantong tebal. 

"Wacana sepeda masuk jalan tol khusus sepeda road bike itu sama kayak wacana moge masuk jalan tol. Sepeda jenis road bike, kalau merek impor harganya bisa setara moge. Ujung-ujungnya adalah soal kelas sosial," cuitnya pada 28 Agustus 2020. 

Pendapat berbeda dicuitkan oleh David Usman dengan akun Twitter @dapitnih. David yang mencuit pada 31 Agustus 2020 itu memuji langkah Anies dan membandingkannya dengan jalur sepeda yang menghubungkan antara Kota Daejeon dan Sejong di Kota Sejong, Korea Selatan. 

"Keren kalo TOL di Indonesia ada jalur sepeda kayak gini. Mungkin ide Anies ya begini, kita aja yg bayangin campur mobil di Tol," cuit David.

Menolak dan Khawatir  

Hasil tarikan data Indonesia Indicator (I2) pada periode 25 Agustus hingga 8 September 2020, menunjukkan terdapat 3.928 cuitan netizen di media sosial Twitter yang membahas wacana sepeda masuk tol. Dalam rentang waktu itu, I2 menangkap emosi disgust (jengah) dan anticipation (harapan) paling sering muncul.

Emosi disgust (24%) banyak datang dari komentar tegas netizen yang menolak wacana sepeda masuk tol. Selain karena faktor keselamatan bagi pesepeda, penolakan juga terjadi karena wacana itu dinilai tidak bersifat mendesak (urgent), serta masih banyak warga yang belum tertib ketika bersepeda.

Sementara emosi anticipation (24%), muncul dari cuitan netizen yang merasa khawatir dan cemas dengan keselamatan pesepeda jika gowes di jalan tol. Mengingat jalan tol diperuntukkan bagi kendaraan yang berkecepatan tinggi atau bebas hambatan. 

Emosi lain yang juga cukup besar adalah trust (kepercayaan) sebesar 22%. Emosi ini banyak datang dari kicauan netizen yang mendukung ide mantan Menteri Pendidikan itu, meski dengan catatan implementasi wacana tersebut harus dipikirkan secara matang agar tidak membahayakan pesepeda.

I2 juga menangkap emosi lainnya, yakni surprise (terkejut) sebesar 22%, anger (marah) sebesar (7%), joy (gembira) sebesar 4%, serta fear (takut) dan sadness (sedih) masing-masing sebesar 1%.

Sementara itu, berdasarkan pantauan demografi netizen diketahui bahwa pria lebih dominan memperbincangkan wacana sepeda masuk tol (74%), sedangkan wanita hanya sebesar 26%. Dari segi rentang umur, kelompok umur milenial (26-35 tahun) menjadi netizen yang paling banyak mencuitkan isu ini dengan 40%, disusul kemudian oleh kelompok umur 18-25 tahun atau generasi Z sebesar 36%. 

Untuk sentimen dalam cuitan netizen, lebih banyak bernada netral (40%) yang meminta Pemprov DKI lebih memikirkan implementasinya secara matang, jika kebijakan ini dilaksanakan. Sedangkan sentimen negatif (31%), datang dari netizen yang tegas menolak karena kebijakan ini dianggap membahayakan keselamatan pengguna jalan. Serta, sentimen positif (29%), yang berisi cuitan dukungan atas program ini karena dinilai dapat mengurangi polusi, serta mengikuti beberapa negara maju seperti Jerman dan Belanda yang juga memiliki tol khusus sepeda.

Gugatan RCTI terkait UU Penyiaran Kejutkan Netizen Twitter

"Fight me and an entire esports, gaming, and streamer scenes," cuit musisi sekaligus YouTuber Reza Oktovian atau yang lebih dikenal sebagai Reza Arab, Kamis (27/8/2020).

Cuitan Reza tersebut mengomentari unggahan pemberitaan portal media Suara.com soal permohonan uji materi Pasal 1 angka 2 Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran) yang dilakukan raksasa industri televisi Indonesia, RCTI dan iNews TV ke Mahkamah Konstitusi (MK). 

Pemberitaan berjudul “Jika Gugatan RCTI Dikabulkan, Publik Tak Bisa Tampil Live di Media Sosial” yang diunggah pada tanggal yang sama itu juga mendapatkan respons dari beberapa influencer lainnya seperti aktor Ernest Prakasa. 

"JRENG JRENG!" cuit Ernest, Kamis (27/8/2020) yang kemudian diserbu netizen dengan 8.000 likes, 2.200 retweet, dan 764 komentar. 

Tweet yang diunggah Reza dan Ernest itu kemudian mendorong meningkatnya perbincangan netizen mengenai isu gugatan RCTI dan iNews.

Indonesia Indicator (I2) menemukan terdapat 7.666 cuitan netizen yang membahas topik tersebut pada periode 26 Agustus–2 September 2020. Gugatan yang dilayangkan oleh media milik taipan Harry Tanoesoedibjo tersebut mengejutkan warga platform "Burung Biru". Hal itu terlihat dari sebagian besar unggahan warganet yang menunjukkan emosi terkejut (surprise) hingga mencapai 2.186 tweet. 

Dalam kicauannnya, netizen mulai membayangkan jika gugatan tersebut dikabulkan MK. Yaitu, mulai dari tidak bisa live di akun media sosial hingga ancaman masuk penjara jika ketahuan melakukan live di media sosial.

Emosi lain yang juga tertangkap adalah harapan (anticipation) sebesar 172 cuitan. Emosi ini muncul dari netizen yang berharap agar RCTI dan Inews mencabut gugatannya, serta lebih memperbaiki dan memberikan inovasi terhadap program televisinya agar netizen kembali berminat menonton TV.

Lalu, emosi percaya (trust) sebanyak 115 cuitan, emosi menjijikkan (disgusting) mencapai 97 cuitan, bahagia (joy) mencapai 47 cuitan, dan marah (anger) sebanyak 32 cuitan. 

Berdasarkan sebaran demografi netizen, terpantau topik ini banyak disoroti oleh kaum pria dengan persentase 70% dibandingkan kaum perempuan dengan 30%. Dari segi rentang umur, generasi Z yang berusia 18-25 tahun cukup dominan (44%) membahas isu ini, bersamaan dengan generasi milenial yang juga menyoroti isu ini dengan 37%. Kelompok umur keduanya menjadi yang paling aktif menolak gugatan, mengingat kelompok umur tersebut merupakan yang teraktif bermedia sosial.

Dari segi sentimen, wacana gugatan UU Penyiaran banyak diperbincangkan secara negatif oleh netizen sebesar 78%. Sentimen negatif diisi oleh kicauan netizen yang menolak keras gugatan tersebut.

Sementara sentimen positif hanya 12% dan sentimen netral 10%. Sentimen terlihat muncul dari dukungan atas sikap pemerintah atau Kementerian Komunikasi dan Informatika yang meminta MK menolak gugatan RCTI.

Duka Netizen atas Gugurnya 100 Dokter Covid-19

Gugurnya 100 dokter dalam memerangi Covid-19 menyita perhatian warganet. Mereka meluapkan ragam emosi di linimasa Twitter. Ekspresi prihatin, sedih, hingga belasungkawa diungkapkan netizen atas kabar wafatnya ratusan dokter yang dilansir Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Memasuki enam bulan penanganan Covid-19, angka pasien di Indonesia memang belum melandai. Bahkan angka ini semakin meningkat, mencapai 174.796 kasus per 31 Agustus 2020. Tingginya angka tersebut didongkrak oleh pertumbuhan kasus harian positif Covid-19 yang mencapai 2.743 orang. Sementara jumlah pasien sembuh di tanggal yang sama sebanyak 1.774 orang.

Tingginya angka penderita Covid-19 masih menjadi 'pekerjaan rumah' berat, khususnya bagi tenaga kesehatan. Mereka berjibaku menangani pasien Covid-19 dengan risiko terinfeksi virus cukup tinggi, bahkan hingga merenggut nyawa.

IDI mencatat, sejak laporan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, sudah genap 100 dokter yang gugur melawan virus SARS-CoV-2 pada Sabtu (30/8/2020). Pahlawan kesehatan itu tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali, Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua.

Letupan emosi warganet dalam merespons wafatnya para dokter tersebut terekam dalam riset media sosial Indonesia Indicator (I2), periode 30 Agustus hingga 01 September 2020. 

I2 mencatat sebanyak 3.293 cuitan netizen merespons gugurnya 100 dokter. Perbincangan ini menyedot simpati generasi milenial (rentang usia 26 hingga 35 tahun) sebesar 41%. Sedangkan Generasi Z (rentang usia 18 hingga 25) sebesar 39%. 

Lalu, mereka yang berusia di atas 35 tahun sebanyak 15%, dan di bawah usia 18 tahun hanya 5%.

Dari seluruh cuitan tersebut, sentimen negatif paling dominan, sebesar 87%. Netizen meluapkan ragam emosi, mulai bernada sedih, prihatin, kecewa, hingga marah terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19 secara maksimal. 

Ahmad Arif misalnya, melalui akun Twitter @aik_arif, terlacak paling awal menyebarkan kabar meninggalnya 100 dokter di media sosial Twitter. 

“Dan ini genap dokter yg ke-100, gugur karena Covid-19,” kicaunya pada 30 Agustus 2020.

Dia berharap korban ke-100 merupakan dokter terakhir yang meninggal akibat virus corona, meski dengan nada pesimistis. 

Senada dengan Ahmad Arif, kabar meninggalnya 100 dokter juga ditanggapi oleh Andi Khomeini Takdir, dokter yang juga influencer melalui akun Twitternya @dr_koko28.

Dalam cuitannya, Andi meminta pemerintah agar memiliki contingency-plan dalam penanganan Covid-19. Hal ini untuk mencegah lebih banyak lagi pelayan kesehatan yang tumbang. Andi mencuit agar sistem kesehatan jangan sampai kolaps, di tengah banyaknya tenaga medis yang berguguran.

"Negara kita sudah kehilangan 100 dokter terkait Covid19. Belum kehitung yang sakit dan yang dirumahkan," cuitnya pada 31 Agustus.

Sementara sentimen positif berada di angka 12%. Disusul sentimen netral sebanyak 1%. Cuitan netizen dalam hal ini berisi dukungan kepada pemerintah, sebagaimana diekspresikan pemilik akun Twitter @akma_K.

"Pak Menteri @KemenkesRI bisa gunakan seluruh tenaga militer @tni-ad @TNIAU @_TNIAL yang disiplin sebagai nakes," cuitnya pada 30 Agustus.

Loading...
Loading...