Virus Corona, Virus Yang Viral di Media

Penyebaran virus corona jenis baru menimbulkan keresahan di berbagai negara. Jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Data terbaru, per Selasa (11/2), sebanyak 1.013 orang dinyatakan meninggal dunia karena virus corona. 

Sementara itu, lebih dari 42.000 orang terinfeksi virus yang awalnya menjadi wabah di Wuhan, Provinsi Hubei, China, ini. Hingga kini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kedaruratan virus corona jenis baru ini, yang dikenal sebagai 2019-nCoV.

Untuk langkah antisipasi, sejumlah negara -- termasuk negara kawasan Asia Tenggara -- mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk melindungi warga negaranya dari penularan virus corona. Misalkan saja, pemerintah Malaysia melarang masuk turis dari Kota Wuhan dan sekitarnya. Kebijakan hampir serupa juga diberlakukan pemerintah Singapura.

Indonesia Indicator (I2), perusahaan Intelijen Media dengan menggunakan piranti lunak Artificial Intelligence (AI) mencatat, isu virus corona menjadi perbincangan hangat dan masif warganet di media sosial, Facebook dan Twitter. Direktur Komunikasi I2, Rustika Herlambang mengatakan masifnya perbincangan terkait isu virus corona di Indonesia dipicu oleh gencarnya pemberitaan di media online. Sepanjang 2 Januari hingga 5 Februari 2020, isu tentang virus corona diberitakan 1.339 media daring. Jumlahnya mencapai 53.000 berita.

“Presiden Jokowi, Menkes Terawan, serta Menlu Retno Marsudi, menjadi influencer terbesar isu virus corona di Indonesia,” kata Rustika.

Media mem-framing bahwa isu corona ini cukup berdampak dalam perekonomian di Indonesia, bahkan hingga tingkat paling bawah. Menurut Rustika, pasar-pasar tradisional waspada terhadap virus tersebut. Di antaranya, tidak lagi menjual ular dan kelelawar atau binatang yang dianggap akan menularkan virus corona. Di sisi lain, harga bawang putih melonjak karena tidak ada pasokan bawang dari China.

“Demikian juga dengan nilai tukar uang yang fluktuatif menyusul berbagai perkembangan kasus corona di Indonesia,” kata Rustika.

Di media sosial Twitter, papar Rustika, warganet merespons isu virus corona dengan emosi “anticipation”, yang menunjukkan kekhawatiran atas persebaran virus dan sangat mengharapkan pemerintah bisa memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat Indonesia. Menurut dia, warganet milenial paling banyak bereaksi atas isu ini, yakni sebesar 83,7%. Dari sisi jenis kelamin, terdapat 43,3% perempuan dan 56,7% laki-laki.

Isu virus corona ini diperbincangkan sebanyak 124.175 tweet dari 73.534 akun. Dengan menggunakan metode Social Network Analysis (SNA), isu kesehatan ini terbagi dalam empat kelompok percakapan. Dari empat kelompok tersebut, ditemukan bahwa 28,43% aktivitas pembicaraan mengaitkan isu corona dengan isu politik. Dan 71,57% tidak mengaitkan dengan isu politik.

“Secara umum, kekhawatiran masyarakat menjadi isu yang memicu percakapan di kalangan kelompok mayoritas,” ujar Rustika.

Percakapan dan perdebatan warganet terkait isu virus corona juga berkembang di Facebook. Rustika mengungkapkan, terdapat 65.782 aktivitas di Facebook dari 18.580 akun. Sedikit berbeda dengan situasi di Twitter, warganet Facebook dari Indonesia dan Malaysia saling merespons perkembangan isu corona di wilayah kedua negara. Saling respons bermula saat warganet Facebook Indonesia turut bereaksi terhadap kebijakan pemerintah Malaysia yang menyatakan tak dapat menghentikan warga China untuk memasuki Malaysia. Pasalnya, tidak semua warga China berasal dari Wuhan.

Selain itu, dalam jejaring percakapan lainnya, terlihat adanya saling tukar informasi di kalangan warganet Facebook tentang cara menghindari virus corona, seperti dengan menggunakan air wudu. Isu lain yang mengemuka di Facebook adalah pertemuan dan sambutan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dengan turis asal China, serta pemberitahuan dari Kementerian Kesehatan tentang metode pencegahan influenza akibat virus corona, yaitu dengan menjaga tenggorokan tetap lembab.

Sementara itu, sebanyak 48,28% warganet di Facebook lebih banyak berkonsentrasi pada berbagai perkembangan isu corona di media, memberikan komentar, menyatakan kekhawatiran, dan harapan pada masyarakat dan pemerintah agar lebih waspada pada persebaran virus corona.

Diwarnai Hoaks

Virus yang mirip dengan SARS ini menyebar dengan sangat cepat. Setidaknya, virus mematikan ini telah menjangkiti lebih dari 25 negara. Tapi, tak hanya virus yang menyebar ke seluruh China dan sejumlah negara, tetapi juga terjadi penyebaran hoaks.

Berdasarkan temuan I2 pada periode 24 Januari hingga 3 Februari 2020, setidaknya ada sepuluh informasi yang telah terverifikasi hoaks oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hoaks terkait virus corona terdeteksi muncul di media sosial Twitter pada 26 Januari 2020 yang menyebutkan bahwa ‘HP Xiaomi buatan China dapat menularkan virus corona’.

Tak hanya di Twitter, hoaks virus corona juga terjadi di Facebook, seperti isu ‘Diduga terjangkit virus corona, satu pasien RS Doris Sylvanus diisolasi’ yang di-posting pada 27 Januari. Hoaks lainnya yakni ‘Virus corona sudah sampai di Shah Alam Selangor’ yang juga muncul pada 27 Januari.

Sebaran hoaks juga menjangkiti WhatsApp Grup (WAG). Di antaranya, informasi bohong yang menyebutkan bahwa ‘Ada pasien meninggal suspect corona di RS Dr Soetomo' yang disebarkan pada Januari 2020.

Loading...
Loading...