Amnesti Pajak Dorong Perbaikan Investasi Indonesia

 

Bank Indonesia (BI) melaporkan terjadi penurunan 17,7 persen kewajiban bersih Indonesia menjadi USD340,6 miliar dalam posisi investasi internasional (PII) akhir triwulan III-2016, yang sebagian besar karena meningkatnya porsi aset pada investasi langsung, setelah pemberlakuan program amnesti pajak.

"Penurunan net kewajiban PII disebabkan lebih besarnya kenaikan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) dibandingkan dengan kenaikan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) sejalan dengan hasil implementasi amnesti pajak," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta dikutip dari Antara, Kamis (29/12/2016). 

Kewajiban atau dalam neraca BI disebut KFLN merupakan kewajiban penduduk Indonesia terhadap penduduk negara lain, yang di dalamnya termasuk pembayaran utang, ataupun deviden dari keuntungan perusahaan. Sebaliknya, AFLN merupakan tagihan atau klaim penduduk Indonesia terhadap penduduk negara lain, baik dalam rupiah maupun valuta asing.

Tagihan milik penduduk Indonesia atau aset finansial luar negeri (AFLN) per akhir triwulan III-2016 naik hingga 45,5 persen dibanding triwulan sebelumnya menjadi USD319,5 miliar.

Deklarasi aset di luar negeri milik penduduk Indonesia yang mengikuti amnesti pajak telah mendongkrak aset dalam komponen investasi lainnya menjadi USD103,6 miliar.

Di saat yang sama, kewajiban pada investasi lainnya menurun menjadi USD150 miliar, sehingga total kewajiban bersih pada investasi lainnya sebesar USD47,1 miliar atau turun 50 persen dari triwulan sebelumnya sebesar USD99,2 miliar.

Investasi lainnya merupakan salah satu komponen dalam PII. Komponen lain selain investasi lainnya adalah investasi langsung, investasi portofolio, derivatif finansial dan cadangan devisa.

Laporan BI menyebutkan deklarasi aset juga menopang pertumbuhan aset dalam investasi langsung menjadi USD86,6 miliar atau naik USD45,6 miliar dari triwulan II-2016, melebihi kenaikan kewajiban di investasi langsung sebesar USD17,3 miliar.

Meskipun tumbuh lebih tinggi, secara total jumlah kewajiban di investasi langsung sebesar USD268,2 miliar sehingga mencatatkan kewajiban bersih di investasi langsung menjadi USD181,6 miliar.

Sedangkan investasi portofolio mencatat kewajiban bersih sebesar USD227,6 miliar setelah dikurangi aset. Kemudian, derivatif finansial mencetak surplus aset bersih sebesar USD13 juta. Adapun posisi cadangan devisa hingga akhir September 2016 sebesar USD115,7 miliar.

"BI memandang perkembangan PII Indonesia sampai dengan triwulan III-2016 masih cukup sehat. Kendati demikian, BI tetap terus mewaspadai risiko 'net' kewajiban PII terhadap perekonomian," tutur Tirta.

Loading...
Loading...